Too Young! (1)

18.9K 1.1K 1
                                        

Tok tok tok

Siapa yang mengetok pintu?

Seorang wanita cantik yang gue yakin usianya tidak jauh berbeda dengan gue masuk ke ruang rawat Rangga. Sambil menunduk dan mendekati gue. Bisa gue lihat bekas air mata yang ada di pipinya.

Siapa wanita ini? Kenapa dia menangis masuk ke kamar Rangga?

"Ma-maaf." Kata wanita itu akhirnya.

Maaf untuk apa? Gue bingung.

"Maaf saya yang menabrak adik Anda." Tambah wanita itu.

APA?! Pikiran gue langsung terasa kosong dan emosi gue seperti tersulut api! Apa wanita ini tahu kalau Rangga koma sekarang hah?!

Gue langsung menarik kasar tangan wanita itu dan menyeretnya keluar dari kamar Rangga. Gue ga peduli dengan rintihan sakit atau tangisannya yang semakin keras. Gue ga peduli!

Rasanya gue ingin teriak, marah dan menumpahkan semua kekesalan gue sama wanita ini! Tahukah dia kalau Rangga masih tujuh tahun. TUJUH TAHUN!

Gue melepaskan genggaman tangan gue dari pergelangan wanita itu, menutup kamar Rangga dan menarik nafas dalam.

"KENAPA KAMU TABRAK ADIK SAYA HAH?! KAMU TAU GA USIA ADIK SAYA BARU TUJUH TAHUN!!! TUJUH TAHUN DAN DIA CUMA MAU BERANGKAT SEKOLAH! SEKARANG DIA KOMA DAN KAMU CUMA BILANG MAAF???! APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN SEKARANG, HAH? APAAA!!!"

Rasa-rasanya gue ga kuat kalau harus berhenti sekarang. Tangan gue sudah melayang ingin menampar wanita jahat yang sudah menyakiti Rangga. Apa dia ga tahu, Rangga satu-satunya orang yang menjadi tiang kehidupan gue! Rangga koma, itu artinya gue sudah tidak tahu harus berbuat apa di dalam hidup gue!

Tiba-tiba tangan gue berhenti di udara. Seseorang menahan tangan gue.

"Lepasin tangan saya!" teriak gue kesal.

Lelaki itu melepaskan tangan gue dan berdiri di hadapan gue. Wanita itu bersembunyi di belakang lelaki ini sambil terus memegang erat tangan lelaki ini. Pacarnya atau keluarganya?

Gue melipat tangan di depan dada dan menunggu penjelasan lain yang bisa mereka katakan. Jelas saja, permintaan maaf akan gue tolak mentah-mentah! Lebih baik mereka pergi menjauh dan ga perlu repot-repot datang kemari lagi!

"Saya kakaknya. Saya minta Anda tidak menggunakan kekerasan apapun. Saya tahu adik saya sudah menabrak adik Anda, tapi posisi saya dan Anda tidak jauh berbeda. Sama-sama ingin melindungi adik kita kan?" kata lelaki itu bijak.

Gue menatap mata lelaki ini tajam.

"Sa-saya min-ta maaf.." kata wanita itu terbata-bata.

Gue menghembuskan nafas keras. Rasanya sudah cukup berat apa yang gue lalui dua bulan ini. Rasanya sudah cukup!

"Pergilah. Saya harap, kita tidak akan bertemu lagi! Bagi saya, penabrak adik saya sudah melarikan diri dan saya tidak tahu siapa orang itu." kata gue lalu menyingkir dan membuka pintu kamar Rangga.

"Tolong maafkan adik saya." kata lelaki itu sambil menahan sebelah tangan gue.

Gue kembali menutup pintu kamar Rangga.

"Neng Rani!!!"

Gue segera menoleh ke arah belakang dan melihat Mbok Ijah didorong seorang perawat menghampiri gue. Gue segera berjalan mendekati Mbok Ijah dan berjongkok di depannya.

"Mbok kenapa sudah ke sini? Mbok istirahat saja di kamar. Luka Mbok kan belum sembuh. Ini juga masih sore." Kata gue khawatir.

"Ngga Neng. Mbok sudah tidak apa-apa! Mbok sudah sehat!! Biar Mbok yang jaga Rangga ya Neng. Neng pergi kerja aja. Jangan khawatirin apapun. Mbok tahu biaya rumah sakit berat, tapi Mbok ga bisa nyusahin Neng terus. Kata dokter, Mbok ini ga kenapa-napa." Kata Mbok Ijah panjang lebar.

Gue tersenyum pahit. Mbok mengerti kesusahan gue. Gue sendiri bingung, gue harus kerja atau bagaimana. Uang tabungan gue ga akan cukup untuk membiayai Rangga yang akan lama di rumah sakit ini. Gue harus kerja, tapi gue khawatir sama Rangga.

"Ya sudah. Mbok tolong jagain Rangga ya." Kata gue pasrah.

Gue langsung mengambil alih kursi roda Mbok Ijah dari perawat dan mendorong Mbok Ijah ke kamar Rangga. Lelaki yang sedang melindungi adiknya itu langsung sigap membukakan pintu untuk gue. Mbok Ijah mengucapkan terima kasih, tapi gue ga mau mengucapkan apapun. Cukup sakit rasanya karena adiknya menabrak adik gue.

"Neng hati-hati ya. Kalau pulang malam, jangan sendiri." Nasihat Mbok Ijah. Gue mengangguk dan segera pamit.

Lelaki dan wanita itu masih berdiri di depan pintu. Gue langsung melenggang pergi meninggalkan kedua orang itu. Gue sudah tidak mau tahu lagi, terserah apa yang mereka mau lakukan. Yang jelas, gue harus pergi kerja!

"Tunggu. Bisa kita bicara sebentar..." kata lelaki itu yang lagi-lagi menahan tangan gue.

"Pulang! Bawa adik Anda pergi dan ga usah kembali lagi. Saya tidak akan menuntut apapun." Kata gue dingin berusaha melepaskan tangan orang itu dari tangan gue.

"Saya akan membayar semua biaya pengobatan adik Anda, jadi tolong. Dengarkan saya." Kata lelaki itu yang semakin mengeratkan tangannya.

"Tidak perlu. Pulang dan jangan ganggu saya ataupun adik saya." Kata gue sedingin mungkin.

"Tapi saya harus!" Kata lelaki itu keras kepala.

Gue menyerah. Gue menatap lelaki itu tepat di manik matanya. Tajam dan dingin. Gue memperhatikan dengan seksama lelaki ini. Tinggi, tegap, tampan, muda dan gue yakin kaya. Tapi, kalau dilihat baik-baik sepertinya gue pernah melihat wajah lelaki ini. Dimana? Matanya berwarna abu-abu terang, hidung mancung, garis wajah tegas dan bibir tipis.

Gue mengerutkan dahi, mencoba mengingat siapa lelaki ini. Gue yakin gue tahu siapa lelaki ini!

"Nama saya Rico. Erico Wiratmadja." Kata lelaki itu.

Erico? Erico Wiratmadja?

I have to be STRONG!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang