"Maaf Pak, saya permisi keluar. Silahkan Anda temui tamu Anda." Kata gue sinis lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
Rico langsung mencekal tangan gue, tapi segera gue hempaskan. Rasanya gue malu. Malu sekali! Gue baru aja berinisiatif untuk mencium Rico, dan Rico menanggapi ciuman gue. Tapi apa? Gue mencium seorang lelaki yang sudah mempunyai tunangan?!
Belum sampai gue membuka pintu, seorang wanita langsung memaksa masuk ke ruangan itu sambil berteriak memanggil Rico dengan sayang. Wanita cantik dengan tinggi tidak jauh beda dengan gue, pakaian ketat, tas dan sepatu branded. Ugh.. sepertinya gue kalah telak.
"Maaf Pak, saya sudah mencoba untuk menahan wanita ini, tapi.."
"Tidak apa-apa, Edward. Kamu boleh pergi." Kata Rico memotong kata-kata Edward.
Gue dan Edward pun ada di luar kantor.
"Kamu kenal sama tunangan Rico?" tanya gue saat pintu sudah tertutup rapat.
"Tidak, Bu. Tapi saya pernah beberapa kali bertemu dengan wanita itu di pertemuan-pertemuan perusahaan." Kata Edward.
Ooohhh...
"Edward. Umur kamu berapa?" Tanya gue.
"Umur saya?" Tanya Edward ragu.
Gue mengangguk.
"28 tahun, Bu."
Wah, sama seperti Rico ya?
"Edward, kita ngomongnya ga usah formal gini ya? Gue capek. Kita temenan aja gimana? Lagian, lu lebih tua dari gue, masa gue dipanggil 'Ibu'? Sama Rena juga. Ngomong biasa aja. Capek tau..." tegur gue.
Edward menggaruk-garuk kepalanya. Tiba-tiba Rena juga datang dan ikut mendukung gue.
"Iya, jangan panggil 'Ibu' dong! Emang sih kalo Rani keliatan udah tua. Tapi gue kan baru 23 tahun!" Kata Rena.
Gue langsung menoyor kepalanya. Sembarangan sekali dia. Gue masih muda begini, memang mananya yang terlihat tua? Rena meringis sakit, tapi Edward malah menahan tawanya.
"Kalau mau ketawa, ya ketawa aja! Gue ga bakal ngelaporin lu ke Rico atau mecat lu kok." Kata gue sambil nyengir.
Akhirnya Edward tertawa bebas, dan sukses membuat Rena melongo takjub. Ehem.. ehem... bakal ada pasangan baru nih nanti.
"Yah, kalau itu maunya Ibu, saya akan turuti." Kata Edward.
Gue langsung melotot tajam.
"Ups, maksudnya gue akan turutin. Maaf maaf..." Kata Edward lalu tersenyum.
Setelah gue lihat baik-baik, sepertinya gue pernah bertemu Edward sebelumnya. Apa Cuma perasaan gue saja ya?
"Ed, kita pernah ketemu ya sebelum ini?" Tanya gue hati-hati.
"Wah! Akhirnya lu inget juga ya?" kata Edward dengan muka berseri-seri.
Rena semakin tersenyum lebar melihat muka Edward. Dasar Rena, suka banget sama yang bermuka tampan!
"Kapan ya? Hm...."
Gue berpikir cukup keras... keras... dan semakin keras. Sulit sekali mengingat. Tapi gue yakin sekali gue pernah bertemu Edward. Edward ini sekretaris Rico kan? Hm....
ASTAGA!
"Kita ketemu waktu di rumah sakit? Waktu Rico suruh kamu pagi-pagi bawa surat-surat dan pengacara itu? Benar ga? Astagaaaa.... Maaf gue bener-bener lupa!" kata gue sambil menatap Edward penuh permintaan maaf.
"Hahaha.. akhirnya ingat juga ya? Gue juga ga bisa inget jelas. Cuma samar-samar kok. Oh iya, kenapa lu malah balik ke sini lagi? Gue kira lu bakal kerja di sana selamanya. Lagian, waktu lu tanda tangan surat itu, bukannya lu yang memiliki perusahaan itu?" tanya Edward.
"Bentar bentar bentar... ini ngomongin apa sih? Kok kayaknya gue ga ngerti apa-apa deh. Jadi lu berdua itu pernah ketemu sebelum hari ini?" tanya Rena memastikan.
Gue dan Edward mengangguk berbarengan.
"Terus Edward ketemu lu buat tanda tangan surat? Dan surat itu tentang kepemilikan perusahaan, gitu?" tanya Rena lagi.
Gue dan Edward terus mengangguk.
"Jadi, Rani itu ...?"
"Dia CEO Wiratmadja Group yang ada di Bali lima tahun yang lalu, sebelum akhirnya dia melarikan diri dan membuat gue juga bos besar kerepotan bolak-balik mengurus ini itu!" Kata Edward dengan mata yang disipit-sipitkan ke arah gue.
Rena langsung melotot ke arah gue.
"Ga lah, gue bercanda. Gue ga repot sama sekali. Cuma, bos besar jadi sering banget ngomel dan ngoceh sendiri sejak lu pergi. Hm.. kayaknya lu itu bikin hidup bos gue susah deh." Tambah Edward.
Rena makin melotot.
"Lebih tepatnya, sejak ketemu lu, bos gue kayak orang gila. Gue masih inget, hari itu siang-siang bos besar telepon gue buat nyari tau tentang lu. Eh, taunya dia Cuma butuh nama lu doang. Ga lama, dia suruh gue ngurus biaya administrasi keluarga lu yang masuk rumah sakit. Terus, ga lama lagi, dia suruh gue ngurus pemindahan kepemilikan perusahaan. Bos bahkan sering batalin meeting selama sebulan penuh itu, ga jarang gue liat bos tidur di ruangannya. Dia kacau." Jelas Edward.
Hm. Itu sepertinya saat Rico sebulan penuh menganggu gue di tengah malam, ya?
"Saat lu pindah ke Bali, bos gue dari workaholic, jadi super workaholic! Tapi yang hebatnya, dia bisa ninggalin semua pekerjaannya bahkan meeting pentingnya demi adik lu yang baru sadar dari koma, atau sekedar jemput adik lu pulang sekolah. Ck... luar biasa dia." Tambah Edward.
Oh, itu waktu gue menitipkan Rangga selama sepuluh bulan.
"Tapi, setelah gue denger kabar lu ninggalin perusahaan di Bali dan ga ada jejak lagi, bos gue yang super workaholic, jadi horrible workaholic man! Gue nyaris nyerah. Apalagi saat bos mengevaluasi semua perusahaannya yang bikin gue ga bisa berhenti sedetikpun selama seminggu penuh! Tuh, tumpukan berkas yang gue kasih ke lu itu semua diperbaiki bos besar." kata Edward.
Gue terdiam. Rico ... hebat!
"Lu udah kerja berapa lama sama Rico, Ed? Kok lu lebih mirip pikirannya Rico yang menjelma jadi manusia ya?" Tanya Rena.
Edward terkekeh. Jujur, gue juga penasaran. Edward punya hubungan special ya sama Rico?
"Gue ini sekretaris doang. Nanti kalo lu kerja bareng sama Rani setahun-dua tahun, lu juga bakal tau semua tentang atasan lu. Bisa kerasa kok. Bahkan saat atasan lu gila, lu juga bisa ikutan gila." jelas Edward sambil menepuk bahu Rena.
Muka Rena memerah. Wah wah, sahabat gue sepertinya kagum sama Edward.
"Ed, lu udah punya cewek belum? Tunangan? Istri???" Tanya gue tepat sasaran.
"Sayangnya calon istri gue pergi ninggalin gue sebulan yang lalu karena cemburu sama pekerjaan gue. Ironis ya hidup gue?" kata Edward sambil tertawa pahit.
Gue langsung menatap Rena, seolah berkata ini kesempatan dia, jadi jangan disia-siakan! Rena sepertinya langsung mengerti. Gue pun langsung meninggalkan Edward dan Rena, pamit dengan alasan gue harus kembali bekerja dan lebih banyak membaca mengenai perusahaan ini. Padahal dalam hati, gue sudah muak terus-terus membaca laporan yang ga ada habisnya.
Saat gue kembali di ruangan gue, langsung gue hempaskan diri gue di sofa. Pikiran gue kembali ke kejadian tadi. Siapa wanita itu? Kalau benar dia tunangan Rico, kenapa hati gue terasa ... ga rela.
Gue terus memijit-mijit kening gue. Kenapa gue bodoh sekali sampai mencium Rico! Kenapa gue malah terbawa suasana, dan melakukan hal memalukan seperti itu? Lalu, saat nanti malam gue akan ke rumah Rico, gue harus bertampang seperti apa?
Huff.. lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
I have to be STRONG!
Storie d'amoreApa yang menjadi impian seorang gadis cantik, kaya, dan cerdas saat usianya menginjak tujuh belas tahun? Kematian orang tuanya kah? Kebangkrutan keluarganya kah? Adiknya koma kah? Atau kehancuran dirinya?
