35. Only Sadewa

2.3K 265 2
                                        

PRETTY BOY
Chapter 35. Only Sadewa

Alesha sudah siap dengan dress biru dengan rok putih berbahan sutra yang baru di belinya minggu lalu. Ia memandangi pantulannya di cermin, sempurna.

Hari ini semuanya harus segera selesai.

Alesha keluar dari apartemennya setelah mengambil tas dan ponsel. Di depan pintu sebelah, tepatnya di apartemen Dewa, ia melihat cowok itu berdiri di sana sambil menatapnya datar.

Alesha tersenyum manis. Ia menghampiri Dewa lalu mencium pipinya. "Pagi, Sayang!"

Dewa tersenyum simpul. Ia membalas ciuman Alesha dengan mencium kening gadis yang resmi menjadi pacarnya sejak kejadian di taman. "Pagi juga."

Alesha mencebikkan bibirnya dengan kesal. "Sekali-kali panggil sayang, kek atau apalah. Masa sama pacar dingin juga," ujarnya cemberut.

Dewa terkekeh geli. Ia hanya mengusap lembut puncak kepala gadisnya karena takut merusak dandanan Alesha. "Iya, sweetie. Jangan ngambek."

"Astaga, mimpi apa gue!" Alesha membekap mulutnya sendiri dengan histeris. Seorang Dewa mengucapkan kalimat barusan? Kalimat yang mungkin hanya ia dengarkan di dalam mimpinya menjadi kenyataan. Si kulkas bisa ngegombal? Alesha merasa mengawang-awang di antariksa.

Lagi, Dewa terkikik geli. Kadar ketampanan cowok itu semakin meningkat bila tersenyum manis, dan semakin manis lagi menurut Alesha yang kasmaran. Ah, sayangnya dia jarang tersenyum. Tenang, walau gak suka senyum, fans Dewa masih bejibun di sekolah.

"Sudah mau pergi?" tanya Dewa dengan cemberut.

Ya, satu lagi. Dewa selalu menampakkan sikap manjanya pada Alesha saat berduaan seperti ini. Ya, hanya Alesha seorang dan itu sangat menggemaskan.

"Jangan marah," bujuk Alesha dengan wajah menyesal. "Sebenernya aku juga gak mau, tapi mau gimana lagi? Kasian Damian."

Dewa mengangguk dan mencoba untuk mengerti. Damian, cowok itu sudah menyukai Alesha sejak awal pertemuan mereka. Tapi apa yang terjadi? Alesha justru suka padanya dan ia pun juga menyukai gadis kecil dihadapannya. Dewa tak mau persahabatannya dengan Damian terputus, namun bila perkara Alesha dihiraukan, maka Dewa lah yang selalu terbakar api cemburu dan Damian tak akan tahu bahwa ia tak pernah mendapatkan hati gadis pujaannya.

"Aku pergi, ya? Habis ini kita makan malam bareng, gimana?"

Wajah Dewa yang tadinya muram mendadak bersemangat. Ia menganggukkan kepalanya dengan antusias. "Ok, di apartemenku aja!"

Alesha mengulas senyuman. Ia melambaikan tangannya. "Dah, sayang!" dan kemudian sosoknya hilang tertelan pintu lift.

••••••

"Hei, kok malah tidur!"

Dewa mengerjapkan matanya beberapa kali sampai pandangannya benar-benar jernih. Dihadapannya Alesha menepuk-nepuk bahunya dengan lembut. Ah, dia sudah pulang rupanya.

"Jam berapa?" Dewa mengerang pelan sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa kaku karena tertidur di sofa.

"Jam sembilan," sahut Alesha lalu ia meletakkan bahan makanan yang baru ia beli di minimarket. Jangan heran kalau Alesha bisa masuk ke apartemen Dewa sesukanya karena cowok itu sudah memberikan izin padanya. "Aku pengen makan rendang. Kamu mau?"

Dan jangan heran dengan panggilan 'aku-kamu'. Mereka sudah bersepakat untuk memakai panggilan itu apabila berdua saja.

Dewa mengangguk setuju. "Iya. Rendang sapi enak, kok."

PRETTY BOY✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang