36. Terungkap

2.3K 273 4
                                        

PRETTY BOY
Chapter 36. Terungkap


Selesai makan malam, Dewa mendudukkan tubuhnya ke sofa depan televisi. Ia melirik Alesha yang sudah selesai menghabiskan makanannya, lalu Dewa pun melambai pada cewek itu. "Duduk sini!"

Alesha mengangguk patuh. Ia duduk tepat di samping Dewa, memperhatikan layar televisi yang menampilkan film action.

"Ngomong apa aja sama Damian?"

Alesha menoleh. "Ngomong yang sejujur-jujurnya."

"Bukan itu," Dewa tak puas dengan jawaban yang diberikan Alesha. "Cerita aja dari awal."

Alesha memerhatikan jam yang berdetak di tangan kirinya. Gawat, sudah terlambat lima belas menit. Cewek itu bergegas menuruni mobil dan memasuki kafe yang sudah dijanjikan sebelumnya bersama Damian.

Alesha celingak-celinguk sampai sebuah tangan melambai padanya yang terletak di tengah-tengah kafe. Itu Damian yang masih tersenyum lebar.

"Maaf, aku telat lima belas menit," Alesha meletakkan tasnya di atas meja lalu duduk dan menatap Damian dengan wajah yang menyesal.

"Gak papa, santai aja," sahut Damian yang masih mempertahankan senyumannya. Kalau seperti itu terus, apakah Alesha benar-benar bisa mengatakan kenyataan pahit yang sebenarnya?

"Mau pesan apa?" tanya Damian setelah ia memanggil seorang waitress yang menghampiri mereka lalu bersiap untuk mencatat pesanan.

Alesha menarik buku menu dihadapannya. Ia malas makan sekarang karena malam ini dia akan makan malam bersama Dewa tentunya. Setelah melihat-lihat daftar minuman, pilihannya jatuh pada minuman berwarna biru bergradasi kuning dengan hiasan star fruit. "Satu Sky Blue Punch."

Damian menarik sebelah alisnya ke atas. "Gak mau makan? Sekalian makan malam kan bisa."

"Nanti aja, aku gak lapar," sahut Alesha santai. Damian mengangguk mengerti, lalu setelah memesan makanannya dan Alesha, waitress itu pergi. Damian memulai percakapan ringan atau bisa disebut basa-basi.

"Udah pernah ke sini?"

Alesha menatap tepat di manik Damian. "Pernah,"

"Sama siapa? Pacar?"

Alesha menggeleng. "Nggak. Sama sahabat."

Damian mengangguk-angguk. Sama saja seperti dirinya yang sering bersama Black Desire lainnya yang suka nongkrong di kafe ini apalagi Raphael. Cowok tuyul itu selalu memerhatikan dekorasi ruangan kafe yang bertema klasik ini dengan tatapan berbinar, selalu seperti itu. Dan Alesha pun sekarang melakukan hal yang sama.

"Lo jadi ngingetin gue sama sahabat yang sering gue kerjain."

Alesha sangat tertarik dengan topik yang satu ini. Mungkin sudah saatnya untuk jujur. "Oh, ya? Siapa?"

Damian menerawang. "Namanya Raphael. Dia cowok tapi pendek. Paling-paling pendek daripada lo lah!"

Alesha mendengus dalam hati. 'Lah, dia kan orang yang sama. Masa sih kalo jadi cowok dia malah makin pendek?'

Damian melanjutkan ucapannya barusan. "Kadang gue gemes sama dia, cuma kadang-kadang tangan gue juga gatal pengen ngerjain dia. Tiap hari gue kerjain, tapi dia jago menghindar. Pernah tuh gue pengen buat dia kesandung sama kaki gue, tapi bukannya dia jatoh, eh dia malah sengaja nginjek kaki gue. Emang tuh bocah udah keterlaluan!"

Alesha tertawa kecil. Oh, jadi seperti ini dirinya di mata Damian. Ingin rasanya Alesha menjitak kepalanya dengan semangat.

"Mau kenalan gak sama temen gue yang satu itu? Ganteng kok. Tapi temenan aja, ya. Jangan lebih, hehe," Damian nyengir lalu menggaruk kepalanya sendiri.

PRETTY BOY✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang