Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Delapan

787 112 35
                                        

"Yeji, kamu ngapain nyimpen petasan sebanyak ini?"

Son seungwan, ibu negara rumah nomor tiga ini sedikit terkejut ketika mendapati tumpukan petasan berada didalam rak meja belajar sang anak. Padahal ia sudah tahu bagaimana kelakuan anaknya kalau bermain dengan anak-anak komplek lainnya, tapi tetap saja terkejut mendapati petasan sebanyak itu dalam laci meja belajar anaknya. Masalahnya, anaknya ini perempuan tapi senang sekali bermain petasan.

"Buat amunisi malem ini, Bun, buat perang," ujar Yeji dengan cengiran khas di wajahnya. Sedangkan wanita yang dipanggil ibunda itu langsung menatap tajam anaknya sembari membalas, "amunisi apa sih, Ye! Kamu tuh cewek, harusnya main boneka atau apa gitu malah main petasan! Siapa yang ngajarin sih?!"

Iya, tidak salah dengan kok Yeji ini. Ibundanya langsung meninggikan nada suara padahal sebelumnya masih berbicara dengan lembut. Nadanya bahkan terdengar enak di telinga. Pantas ayahnya jatuh cinta, pikirnya.

"Ih apaan sih ibun, Yeye bukan anak kecil ya jadi nggak perlu main boneka! Lebih seru main petasan daripada boneka!" Sang ibu langsung berkacak pinggang mendengar penuturan anak tunggalnya, merasa kesal juga soalnya diberitahu masih saja menjawab. Kalau dihitung, ini juga bukan kali pertama mereka adu argumen dengan masalah yang sama.

"Bukan masalah anak kecilnya! Kamu tuh cewek, ngapain main petasan! Lagian main petasan itu berisik! Ganggu warga komplek!" Seungwan tidak habis pikir, kenapa anaknya jadi seperti ini. Padahal dulu mengidam saat hamilnya masih wajar kok, cuma meminta melihat harimau sedang gelut yang ada di Afrika sana walaupun tidak kesampaian. Tapi kalau tahu saat besar anaknya akan jadi seperti ini, tahu begitu Seungwan memaksa Yoongi terbang ke Afrika saja.

"Mana ada ganggu, Ibun, buktinya warga komplek nggak ada yang ngeluh ke Yeye tuh." Yeji berujar begitu santainya, tidak menyadari wajah ibundanya yang sudah memerah menahan emosi. Kalau begini mirip ayahnya sekali, suka ngeyel dan sulit dikasih tahu.

"Ya mana ada ngeluhnya ke kamu, ngeluhnya ke ibun! Ibunnya capek dengernya, malu juga! Kalau main tuh yang cewek dikit kenapa sih!" Anak gadis Min Yoongi itu berdecak pelan mendengar ujaran ibunya sebelum kembali membalas, "'kan ngeluhnya ke ibun bukan ke Yeye. Selama belum ke Yeye ngeluhnya jadi Yeye nggak peduli." Sungguh, Seungwan ini kesalnya sudah sampai ke ubun-ubun. Sayang sekali Seungwan kalau sudah kelewat emosi langsung diam. Tapi diamnya bukan karena merasa kalah.

"AYAH!"

Nah ini, senjata Seungwan kalau Yeji sudah ngeyel dan ngeles kebangetan. Ini anaknya kalau sama ayahnya langsung suka ciut sendiri. karena istilah 'buaya kok dikadalin' benar adanya. Mau sebagaimana ngeyel dan ngeles dengan si kepala keluarga, sama saja. Terbukti dengan Yeji yang langsung mendelik menatap ibundanya. Duduknya pun langsung berubah tegap. Padahal sebelumnya Yeji sedang asik leyeh-leyeh diatas kasur. Pria yang memiliki panggilan ayah tersebut pun langsung mendatangi kamar putrinya dan mendapati istri serta anaknya yang sedang beradu tatapan.

Pasti sedang bertengkar, dan Yoongi sepertinya tahu ini masalah apa.

"Kalian itu berantem terus emang nggak capek? Lagi puasa berantem, batal aja mendingan." Seungwan mendelik, menatap suaminya dengan pandangan tajam. Yoongi yang ditatap hanya diam tak berekspresi, tidak juga mengujar tanya kenapa anak dan istrinya lagi-lagi bertengkar.

"Gimana nggak berantem kalau Yeye ini sukanya bikin Ibun emosi! Buat apa nyimpen petasan sebanyak itu!? Buat di cemilin!? Kalau buat di cemilin sih nggak apa-apa, Ibun nggak akan ngomel juga!"

"Masa Yeye nyemilin petasan sih Ibun, yang bener aja!"

"Ya terus itu petasan buat apaan, Yeji! Kamu tuh udah sering bolos tarawih, bolosnya juga main petasan! Ibun tahu! Itu kemarin ibu-ibu bilang sama Ibun! Kamu dan geng kamu bikin berisik!"

Hatari | 99-00lineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang