Lapangan masih ramai. Warga masih berkumpul karena masih banyak yang menjalankan tugasnya. Beberapa bapak-bapak masih membantu Minhyun untuk menyembelih, beberapa ada yang sedang menguliti hewan yang sudah disembelih. Beda lagi dengan ibu-ibu, yang sedang membagi tugas juga. Ada beberapa yang sibuk memotong daging hewan yang telah selesai dikuliti, dan ada juga yang sedang membagi beberapa potong daging hewang menjadi satu bagian kantung plastik.
Sungguh indah komplek Hatari ini, kebersamaannya ketika seperti ini sungguh terlihat. Terlebih alasan diadakannya sembelih hewan kurban juga untuk berbagi dengan sesama. Bukan untuk warga komplek Hatari kok, warga Hatari itu kaya-kaya jadi tidak perlu dapat pembagian daging kurban. Rumah gedongan semua masa masih rebutan daging kurban, ya 'kan?
Namun nampaknya untuk anak-anak Komplek Hatari berbanding terbalik dengan deskripsi diatas. Ketika bapak-bapak dan ibu-ibu sedang berbagi tugas dengan proses sembelih dan pembagian daging kurban, anak-anak malah sedang sibuk mengoceh panjang lebar sekaligus berebut bagian daging paling besar yang harus mereka dapatkan.
"Bu maulah yang itu, paha kambing paling gede buat saya ya," ujar Hendery.
"Jangan, dia kasih kepala kambing aja, ngelunjak anaknya kalau kasih yang gede, Bu." Kalau ini, Lucas yang berbicara.
"Sekate-kate lambemu, cuk. Lo mah tapak kaki kambing aja udah, atau kalau nggak ekornya aja," balas Han.
"Berisik lo, sipit. Mending diem deh, kaga bantuin apa-apa mah nggak akan dapet." Yeonjun emosi sendiri karena gengnya rebutan dengan geng Kenji.
"Nggak ngaca, Cuma bantu ngeliatin aja mau dapet daging paling gede," gerutu Hyunjin namun terdengar seperti sindiran di telingan anak geng Kenji.
"Enak aja ya, kita tuh—"
"BERISIK!"
Jinyoung yang baru akan menanggapi ujaran Hyunjin langsung terdiam ketika Yerin, ibu RT yang terhormat langsung menginterupsinya dengan nada tinggi. Cukup emosi ibu RT ini melihat geng KMS dengan geng Kenji adu mulut. Bukannya membantu malah membuat telinga pengang. Belum tahu saja mengurusi hewan kurban ini begitu melelahkan. Malah adu mulut di depan ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang sibuk.
Ibu-ibu lain pun tak lupa memberikan tatapan tajam. Seakan sinar laser bisa keluar dari setiap mata ibu-ibu yang ada disana. Masing-masing orangtua geng KMS dan geng Kenji sudah memberikan tatapan 'diam atau habis di rumah'. Lagian enak saja main memilih dan menghakmilik daging tersebut. Padahal sudah menjadi perjanjian kalau dagingnya akan disumbangkan dan hanya sebagian kecil yang akan diambil oleh warga komplek untuk acara bakar-bakaran malam hari perayaan idul Adha.
"Kalian tuh kalau nggak bantuin mending diem aja, nggak usah berisik!" Ibu RT masih sibuk mengoceh. Anak-anak? Hanya diam, ada juga yang nyengir, ada juga yang cuma celingak-celinguk seperti tidak tahu apa-apa.
"Ini kita mau bantu kok bu RT, bantu milihin mana daging yang bagus buat acara bakar-bakaran," ujar Lucas dengan yakinnya.
Yoona yang mendengar anaknya berbicara pun langsung menoleh lagi, memberikan tatapan 'kamu bisa diem nggak sih, Cas'. Lucas pun reflek menoleh, nyengir tanpa rasa bersalah kepada sang ibu, juga langsung melihat presensi sang ayah yang nampaknya tidak begitu memperhatikan saking sibuknya dengan bapak-bapak yang lain. Bisa mati dia kalau ayahnya tahu. Betulan habis dirumah.
Yeonjun juga masih memperhatikan ibunya yang sedang emosi. "Bener itu, 'kan kita baik mau bantuin milih daging yang bagus buat acara, Mi," tambah Yeonjun. Padahal ibunya sudah berkacak pinggang. Tidak tahu ya kalau ibu-ibu marah itu ocehannya bisa sepanjang jalan kenangan? Sindirannya bisa seperti bulan puasa, tiga puluh hari lamanya. Belum lagi kalau didiamkan, seperti perang dingin antara Korea Utara dan Korea Selatan—lebih lama lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hatari | 99-00line
FanfictionSelamat datang di Kompleks Hatari! ©2020 | A special event by YG Group
