Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Dua puluh empat

433 60 37
                                        

Masjid selalu ramai saat bulan Ramadhan, apalagi ini malam terakhir menyambut lebaran esok hari. Mark selaku ketua Uma—Ubin Masjid—sedari sore sudah stay di masjid bersama Renjun. Sungmin menyusul setelah adzan maghrib. Mereka hendak merencanakan takbir keliling kompleks dan kampung sebelah.

"Min, abang lo mana?" tanya Renjun, heran. Tumbenan dua saudaranya tidak berangkat bersama-sama ke masjid.

Sungmin yang sedang menggulung karpet masjid mendongak. "Oh, abang tadi ketiduran. Habis itu kena marah papa, pamali katanya tidur menjelang maghrib."

Mark menggeleng-geleng. "Lagian si Yohan aneh-aneh aja. Udah tahu pamali, masih aja molor."

"Yah, namanya juga Yohan, Bang," timpal Renjun.

"Assalamu'alaikum!"

"Waalaikumsalam," jawab ketiganya serempak.

"Panjang umur banget lo, Bro!" celetuk Mark sambil melakukan tos dengan Yohan.

"Jangan bilang lagi ngomongin gue? Kayak Teletubies ae dah mulut lo pada, tubir."

"Enak aja, Bang, ngatain tubir. Kita, tuh nyariin Abang tahu, tumbenan enggak muncul sebelum maghrib."

Yohan terkikik. "Iya, habis ketiduran terus kena ceramah bapaknya Sungmin."

"Bapak lo juga kali," tukas Sungmin, tidak terima.

"Yaudah, ini gimana? Siapa yang mau giliran keliling sama takbiran di masjid?" potong Mark.

Mereka berempat saling pandang. "Kurang personil nih, panggil gengnya Han aja deh, sukanya main petasan, tuh. Pasti entar rame kompleks."

"Boleh tuh, Bang Yo. Gue sama Sungmin biar takbiran di masjid aja, gantian. Nanti Pak Minhyun nyusul kok," usul Renjun.

Mark mengangguk, menyetujui ide kedua temannya.

"Eh, Jinyoung. Kebetulan banget."

Jinyoung yang baru saja muncul dari ruang wudhu mengernyitkan kening. "Kebetulan apa, Bang?"

"Nanti panggil geng lo, buat bantuin takbir keliling kompleks," ujar Mark.

Mata Jinyoung langsung berbinar. Kesempatan mainin petasan gede nih! Pikirnya.

"Siap laksanakan, habis isya, kan?"

Mark mengangguk. "Tapi jangan bar-bar, lo enggak mau kan kena omel Pak Siwon lagi?"

Jinyoung bergidik mengingat takbiran tahun lalu. Ia dan Geng Kenji—sebutan kerennya—menyalakan petasan dengan suara yang mampu terdengar dari gerbang depan kompleks sampai masjid. Lalu Pak Siwon keluar rumah sambil membawa clurit. Berkata, "Lihat, ya! Bapak samperin ke rumah kalian, aduin ke bapak-ibu kalian semua!"

"Iya, Bang. Enggak bakal bar-bar. Yaudah, gue adzan dulu," jawab Jinyoung.

Mark memberikan tanda jempol, lalu berlalu, mengambil air wudhu. Sudah menjadi rahasia umum, jika Jinyoung pandai adzan. Suaranya merdu, walaupun kelakuannya di luar masjid minta diadzanin.

🌕🌑🌕

"Loh, yang takbiran kalian?" ujar Minkyeung sambil membawa baki berisi gorengan dan seteko teh memasuki masjid.

"Iya, Tante. Bang Mark sama Bang Yohan lagi takbir keliling," jawab Renjun, sedangkan Sungmin sedang mengumandangkan takbir lewat microphone masjid.

Minkyeung mengangguk paham. "Ini, dimakan ya, tante tadi beli pisang agak banyak di pasar, sengaja, buat persiapan orang yang mau takbiran."

"Makasih, Tante."

Hatari | 99-00lineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang