Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Tiga puluh tiga

365 52 67
                                        

H-1 Idul Adha, tebak siapa yang paling gak bisa diem? Tentu Bapak Haji Minhyun selaku Ketua DKM Masjid. Padahal udah jadi kerjaan rutin tiap tahun, tapi tetap saja Minhyun takut ada yang kurang. Namanya juga manusia, tempatnya dosa dan lupa. Apalagi Minhyun makin tahun makin tua (meskipun air wudhu yang mustajab bikin mukanya malah makin muda). Ditambah kemaren anaknya sendiri—tolong garis bawahi—ngaku kalau dia yang bikin kambing belang tiga kepunyaan Pak Donghae sempat hilang.

Lucu deh kalo lihat gimana Jinyoung ngaku ke Minhyun. Kepalanya nunduk, jemari tangannya diremat silih berganti, dan matanya berkaca-kaca. Oh, jangan lupa tangannya penuh beset dan kakinya yang cemong kena tanah di hutan rumput odot. Minhyun sampe gak bisa marah karena melihat keluguan sang anak, jadi hukumannya cuma disuruh ngapalin surat Al-Waqi'ah sama artinya.

Kembali ke persiapan Idul Adha esok hari, Minhyun kini berdiri di hadapan para Remaja Masjid.

"Mark, lapangan tanah merah udah dikondisikan?" Ucapnya pada ketua genk Uma tersebut.

"Beres, Pak. Lobang buat tempat nampung darah juga udah digali. Tinggal sapi sama kambingnya diiket di sana."

Lapangan tanah merah yang dimaksud adalah lapangan gak jauh di belakang masjid yang memang suka dipakai untuk kurban atau lomba panjat pinang selama agustusan. Letaknya berdampingan dengan hutan rumput odot yang tingginya menjulang sampai sepundak bapak-bapak. Hewan kurban dipindah ke sana H-1 sebab halaman masjid—yang sekarang dijadikan kandang sapi dan kambing dadakan—akan dipakai untuk salat ied berjamaah. Biasanya ibu-ibu dan anak perempuan kebagian salat di halaman ber-paving block ini.

"Yang mau bawa sapi sama kambing ke sana siapa?" tanya Minhyun, langsung disambut oleh Yohan yang mengangkat tangan Renjun tinggi-tinggi. "Renjun sama saya, Pak."

Renjun semula kaget mendadak tangannya diangkat oleh Yohan. Makiannya tertahan sebab ini di depan Bapak Ustad terhormat. Jadi, Renjun mengangguk canggung. "Iya, Pak, sama Seungmin juga!" Seungmin yang terseret namanya kontan nyengir terpaksa.

Minhyun tergelak. "Nanti kalian bantu nuntun kambing aja, ya. Kalo sapi biar Pak Ong, Pak Siwon, Pak Taehyung, sama Pak Mingyu yang nuntun."

"Tapi, Pak, kalo semua nuntun hewan, saya bersihin Masjid sama siapa?" tanya Mark.

"Tadi Bapak minta Jinyoung sama genk-nya buat bantu bersihin Masjid. Anaknya lagi nyamperin temennya satu-satu. Tungguin aja, ya."

Mendengar nama Jinyoung and the genk disebut oleh Minhyun membuat Yohan, Renjun, dan Seungmin menarik napas lega, sementara Mark membelalak tidak terima. "Yah, Pak Minhyun, tau gitu saya ikut nuntun hewan aja deh. Karuan ngurus hewan lebih gampang ketimbang ngurus anak Bap—" Mark lekas menepuk mulutnya. "Astagfirullah." Ia menipiskan bibirnya, melirik takut-takut ke arah Minhyun.

Minhyun menepuk pundak Mark sambil tersenyum jumawa. Mau gimana lagi, memang anaknya bandel dan usil, kok. "Saya aja yang bapaknya suka males ngurusnya. Untung anak saya beneran," keluh Minhyun, mencairkan suasana. "Yaudah, yuk, mulai dipindah hewannya. Tuh, pasukan bapak-bapak udah pada dateng."

Di nun jauh di sana, terlihat segerombolan bapak-bapak berkaos putih dengan sablon wajah Taehyung tertempel apik di bagian depan. Kaos itu merupakan kaos wajib bapak-bapak Hatari yang Taehyung hadiahkan di hari pelantikan dirinya menjadi Ketua Rukun Tetangga. Tau 'kan kaos partai yang ada tulisan 'Coblos nomor tiga'? Iya, macam itu bajunya. Yang berbeda adalah tulisan di belakang baju berbunyi 'Komplek Hatari selalu ria karena Taehyung RT-nya'. Memalukan, sih, tapi kaos itu selalu dipakai ketika komplek hatari mengadakan gotong-royong seperti hari ini.

"Pak Minhyun gak pake kaos itu juga?" tanya Seungmin. Pertanyaannya langsung terjawab sewaktu Minhyun melepas koko putih gadingnya. "Oalah, udah dipake dari tadi ternyata."

Hatari | 99-00lineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang