Lebaran pertama di Hatari bagaikan Perang Dunia ke-2, bedanya ini perang antara bapak-bapak dan ibu-ibu. Nggak ada mulut yang diam, semua berceloteh dan saling menuduh. Satu pun nggak ada yang mau disalahkan atau menolak gagasan bawah perilaku mereka yang kepergok satu sama lain itu salah.
Bersama pasangan masing-masing, di pelataran Kompleks Hatari, terjadi adu mulut. Lagian, mau bagaimanapun perdebatan memanjang, ibu-ibu selalu menang. Padahal kedua kubu sama-sama salah.
“Mami juga gitu.”
“Apa? Apa? Mami apa? Papi mau ditendang rumah lagi?”
Sebagai RT, Taehyung harusnya siap grak untuk mengendalikan situasi warganya. Kenyataan bahwa dia lemah dalam menangani amukan istri, membuat dirinya kicep seketika.
“Jangan, Ma, itu san—” Seulgi nggak peduli sama omongan Jimin, dan langsung saja sandal dibuang ke atap rumah Seolhyun. Tentunya setelah dia berjalan mendekat ke rumah janda, kemudian asal melempar sandal suaminya. Ketika berbalik, dia sudah bertengker sambil lalu melotot tajam Jimin.
Jaewon dan Jennie sudah berdebat dengan dua bahasa daerah berbeda: Sunda vs Jawa. Dengan logat yang sama-sama kental membuat perdebatan sepasang suami-istri itu menjadi ruwet, terlebih mereka sama-sama hanya tahu minim bahasa daerah dari pasangan.
Mingyu masih untung istrinya nggak sebegitu galak kelihatan karena dia tahu amukan istrinya akan terjadi kalau mereka di rumah. Jadi, sebisanya dia merayu Kyulkyung agar mau memaafkannya, meski caranya sedikit menyinggung, “Mama juga ke rumah duda lho,” yang berujung mendapatkan tatapan bisu istri. Artinya pula, dia akan mati sesampainya rumah nanti.
Younghyun malah bikin ketawa karena lebih meratapi nasib burung-burungnya ketimbang nasib dirinya sendiri. Mengingat ancaman Ahyeon lebih tertuju pada burung ketimbang dirinya.
“Biarin aja burung-burungnya terbang sekalian kamu juga.” Ahyeon mendesis pertanda marah sekali. Padahal dia salah juga.
Sementara Taeyong lebih parah lagi. Dipermalukan di depan anak sama ponakannya. Jisoo nggak nangung-nangung minta Jihoon buat ngerekam ayahnya yang sedang berlutut minta maaf. Jihoon sih, mana sudi melewatkan konten, meskipun konten itu ayah dia sendiri. Kendati demikian, sebenarnya dia nggak berani menolak permintaan Jisoo, takut kena omelan.
“Ampun, Nyai, ampun,” lirih Taeyong penuh sesal.
“Untung suamiku tidur.” Nayeon mengelus dada merasa lega sambil diam-diam pulang diikut Hayi dan Rose meninggalkan rumah Jaehyun.
Sementara Yuta di rumah Seolhyun bersama anak-anak KMS menikmati sekali pemandangan Hatari. Lucunya, mereka berempat duduk di teras dan masing-masing membawa setoples jajanan, kecuali Yuta dan Seolhyun yang berdiri di depan pintu.
Lucas menyenggol Yeonjun kemudian menunjuk melalui dagunya ke arah orangtua temannya itu. “Bokap lu ketakutan tuh, lihat.”
Yeonjun bersikap tak acuh, malah menimpali, “Salah sendiri kegatelan.”
“Jin, bokap nyokap lu lagi ngelawak apa gimana, dah?”
Hyunjin cekikikan menanggapi pertanyaan Hyunsuk. Dia sangat menikmati perdebatan dua bahasa kedua orangtuanya. Begitulah orangtunya saat berdebat. Lalu kemudian, kepala pemuda itu segera melongok ke atas. Matanya memandang sang janda yang terdiam melihat pertikaian dengan raut sedih.
“Mbak Seolhyun nggak perlu khawatir. Bukan salahnya Mbak kok,” kata Hyunjin menghibur, yang malah mendapatkan delikan mata Doyeon.
“Panggil tante jangan mbak. Yang sopan!” bentak Yuta menasehati.
Hyunjin cuma meringis nggak peduli.
Lalu di rumah sang duda, Jaehyun bersama Jeno cuma bisa saling memandang bingung.
“Tuh, kan, Pih, kan udah aku bilang nggak usah openhouse,” ujar Jeno.
Jaehyun mendesah. “Papih mana tahu, Nak.”
Siapa coba yang menduga hal ini akan terjadi sedemikian mengerikan tepat ketikq lebaran pertama? Padahal niat hati ingin menjamu tamu dan ikut merayakan lebaran bersama tetangga.
Duaar duaar duaar
Bunyi petasan mengejutkan semua orang. Petasan itu berbunyi tepat di antara kaki-kaki sepasang suami istri yang berdebat di tengah jalan Kompleks Hatari.
“KALIAN GANGGU TAHU NGGAK!?” teriak Lucas sama sekali nggak senang dengan kedatangan tim Kenji. Merusak pemandangan mereka saja. Jadinya kan yang berantem teredam sementara ibu-ibu yang dikejutkan oleh petasan mendadak takut dan memeluk suami masing-masing, kecuali Taeyong yang langsung di depak Jisoo saat hendak memeluk istrinya.
Jihoon dari tadj ketawa mulu bareng Haechan, sedangkan Shuhua menunduk malu melihat orangtuanya.
“Abaikan aja Lucas. Nggak penting dia,” kata Han menyulut sumbu api Lucas yang kontan berdiri.
“Enak aja! Gue orang penting. Emangnya lo? Nafas aja nggak penting.”
“Waaah, dia ngejekin lo Han,” koor Jaemin dan Felix.
“Sini maju kalau berani!” Lucas menantang siap-siap melipat kemeja kokonya diikuti pasukannya yang mulanya ogah jadi ikut-ikutan karena Lucas pimpinan mereka.
“Kalian jangan berantem dong, nanti ayah ibuku tahu aku bisa dihukum,” cicit Yeji mengamati was-was sekeliling.
Jinyoung seketika maju melindungi. “Nanti aku lin—ANJIR!” pekiknya tahu-tahu kena lemparan kacang atom entah siapa dalangnya. Oh, ternyata Hyunsuk terlihat dari cengiran bodohnya itu.
“BISA-BISANYA KALIAN MAIN SAMA TEMAN GUE!” Jane maju cepat mambalas tantangan empat sekawanan itu, yang mana tiga di antaranya teman sekelasnya.
Yeonjun meledek Jane ketika cewek itu berdiri menghadang mereka seorang diri. Namun, langsung memekik sakit ketika tulang betisnya mendapatkan tendangan.
“MAJU JANE!!!” teriak Hendery beryel-yel bak sepasukan pemandu sorak tim basket.
“Aelah, Jane, jadi cewek jangan barbar,” ujar Lucas disertai tawa mengejek dan teman-temannya.
“Daripada lo sama pasukan lo—dasar gigolo! Sukanya sama tante-tante.”
“Mulutnya ya—” Hyunsuk menahan diri karena tahu di sebrang sana ada orangtua Jane. Lagian Jane terlalu barbar kalau diurus dia sendiri. Tuh, lihat, Yeonjun masih merintih sakit memegang betisnya.
“SERANG JANE, GUE DUKUNG LO SEPENUHNYA!” Hendery seperti biasa menjadi tim sorak Jane.
“Gue nggak ngerti deh, kenapa kalian takut sama Jane, tapi bodo amat.” Hyunjin segera maju merebut petasan di tangan cewek itu, dan dia berhasil. Tanpa ampun dia menyerang Jane dengan melempari kakinya dengan petasan kecil yang daya meledaknya ringan.
Baru ini dia main petasan setelah sekian lama ternyata seru juga. Terlebih mendengar Jane mengumpatinya dan teman-temannya sedang bersiap membalas. Lalu dalam sekejap depan rumah Seolhyun menjadi medan perang petasan.
“ASTAGHFIRULLAH BAPAK-BAPAK IBU-IBU ... ANAK-ANAK!!!!” Apabila Lia nggak memberitahu Minhyun dan Siwon, kemungkinan Hatari akan menjadi kacau balau.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.