Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Dua puluh sembilan

470 65 54
                                        

“Alangkah baiknya lebaran saling memaafkan, bukannya tawuran.”

“Jangan ngadi-ngadi, Hyun. Kita semua nggak tawuran,” sahut Jaewon disertai persetujuan dari jejeran bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak yang tertangkap basah oleh Pak Minhyun dan Pak Siwon.

Namun, seketika hening tatkala Pak Siwon menatap tajam satu per satu orang di hadapannya dengan ekspresi menantang super galak. Minhyun sendiri masih bersabar, sebagai Ketua DKM, dia mencoba menenangkan masa. Meskipun sudah dikecewakan oleh RT-nya.

Lama-lama RT diganti juga sama Minhyun. Setuju tidak?

Taehyung terlanjur malu dan sengaja sembunyi di balik punggung sang istri. Wajahnya sebagai RT telah dilucuti oleh Pak Minhyun dan Pak Siwon.

Disamping itu, Jimin dan Seulgi memandang Lia dengan ekspresi serba salah. Walaupun tahu anaknya yang mengadukan, kendati sebagai orangtua mereka sebenarnya malu dilihatin oleh Lia dalam kondisi demikian. Bukan berarti Seulgi bakalan diam saja sesampainya di rumah nanti. Oh, enggak segampang itu merayu dirinya kalau Jimin masih sering berdusta.

“Saya minta semuanya saling memaafkan,” kata Minhyun menahan nafas barang sebentar. “Tunggu apa lagi Bapak-bapak, Ibu-ibu, Anak-anak?”

“Eh, iya, iya.”

Ucapan permintaan maaf melolong dari mulut ke mulut sedikit agak ricuh terlebih Lucas dan teman-temannya mendapatkan sambutan paling nggak menyenangkan dari anak-anak Kenji, terutama Hyunjin.

Dia baru selangkah maju, dengan malu-malu mengulurkan tangan, dan langsung dijabat Hendery kuat-kuat sampai tangannya terasa remuk. Jaemin sama Han menepuk punggungnya keras-keras dan Felix sama Jane bagian injak kakinya sambil melotot tajam.

Saat menjerit tertarih, orangtuanya kontan menoleh; Jaewon seketika berteriak, “BELAIN ADIK KAMU, DER, JANGAN BELAIN ANAK-ANAK CINDIL!”

“Enak aja lo ngatain anak gue cindil,” omel Younghoon siap melabraknya, namun ditarik oleh istri. Sambil menenangkannya pelan, “Jangan ngamuk Pah, ada Pak Siwon ih, ntar digorok lagi.”

“Anak gue bentukan bidadari gitu lo katain cindil. Nggak pernah ngelihat Nyai gue ngamuk, apa?” Jisoo memutar bola mata, mengabaikan omelan Taeyong terhadap Jaewon.

Jennie mendesis, lantas menyenggol bahu Jaewon. “Nggak usah ribut. Urus anak di rumah aja.”

“Iya, Ma, iya.”

Minhyun pun berdehem mengalihkan perhatian semua orang. “Sekarang anak-anak balik ke orangtua masing-masing.”

“Om, jangan sekarang. Lagi asyik-asyiknya, nih,” seru Haechan.

“Iya, ih, Om Minhyun mah nggak tahu aja kalau kita lagi butuh,” Jihoon diam sesaat melihat Jisoo sudah mengancamnya lewat mata, “eh, a—anu itu, konten Hatari ... vlog, Om, vlog. Kita—” Namun, jarinya langsung ditepis oleh Shuhua. Pertanda kalau dia menolak diikutsertakan, sebab mama sama papanya sudah memberi isyarat supaya dia menjauh dari duo lamtur.

“Vlog Hatari, Om,” ujar Haechan membantu. “Hoon, buruan deh keluarin hape lo.”

“Hape lo aja, hape gue dibawa ibu,” sambil melirik takut-takut ke Jisoo yang masih mengancamnya lewat mata dan Taeyong pun sepakat akan memarahi Jihoon kalau sampai anak mereka itu berbuat sembrono.

“Sabar, Om,” kata Haechan meringis kepada Minhyun dan para orangtua lainnya.

“Minggir deh, biar gue aja.” Tahu-tahu Yeri nongol memisahkan jarak antara Haechan dan Jihoon. Dengan gaya bak kameramen, dia mulai merekam semua wajah sambil lalu berkata, “Pak RT, lagu Hatari gimana, dah?”

Hatari | 99-00lineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang