Jilbab (1)

96 9 7
                                        

Sebulan sudah Shara bersekolah di SMP Negeri 1 Sumenep. Ia beradaptasi dengan cepat. Ia bahkan sudah mulai hafal nama 34 teman sekelasnya. Ada Farhan, sang ketua kelas; Izzati, wakil ketua yang bijaksana; Ayunda yang terlalu baik sebagai bendahara; Zea yang berprestasi; Ardhian, siswa paling tinggi di kelas; Aqila yang jenius; dan tentunya, Berlian, teman sebangku yang menyenangkan, yang juga menjabat sebagai sekretaris.

Shara memasuki kamarnya membawa bungkusan plastik besar. Wajahnya semringah. Ia baru saja mendapat seragam. Tak sabar, ia membongkar bungkusan plastik itu. Di dalamnya, seperangkat seragam tersegel rapi oleh plastik bening. Shara mengecek satu-persatu pakaiannya: dua rok biru donker, sepotong seragam OSIS, seragam batik Sumenep, rok cokelat dan seragam Pramuka yang masih polos, rompi biru kotak-kotak kebanggaan SMP 1, dan tiga potong kerudung segi empat: dua putih, satu cokelat. Senyum Shara luntur mendapati item terakhir.

Salah satu kekhawatiran Shara ketika Ayah bilang mereka harus pindah ke Sumenep adalah: Madura terkenal dengan Islam-nya yang kental. Shara takut, takut dengan orang-orangnya yang agamis. Apalagi kalau ada yang fanatik. Selama ini, Shara hidup di lingkungan yang agamanya biasa-biasa saja. Bunda mengajari Shara salat, tetapi tidak dengan memakai jilbab. Ayah mengaji kadang-kadang, tetapi memasrahkan Shara belajar mengaji di sekolah, kalau pelajaran agama saja.

Kekhawatiran itu terbukti, ketika guru bermata sipit dan berkulit putih itu menyampaikan, "Sekolah kami mewajibkan siswi muslim berkerudung di sekolah."

"Bukannya itu pelanggaran hak. Putri kami berhak menentukan seperti apa ia hendak berpakaian," Ayah yang seorang polisi angkat bicara.

"Ini berbeda dengan pelanggaran hak. Sebagai sebuah institusi, sekolah kami punya wewenang untuk mengatur semua pihak yang berada di bawah institusi kami. Aturan ini sama dengan kewajiban datang ke sekolah tepat waktu, sama dengan keharusan memakai seragam lengkap. Apalagi aturan ini tidak bertentangan dengan Undang-Undang, malah sangat sesuai dengan bunyi sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa," guru itu pandai sekali berargumentasi. Belakangan Shara tahu, beliau guru Pendidikan Kewarganegaraan.

"Bagaimana jika kami keberatan?"

"Makanya peraturan ini kami sampaikan di awal. Kalau Bapak dan putri Bapak keberatan, silakan cari sekolah lain. Di sebelah, ada SMP 2, jalan sedikit ke utara ada SMP 3," tawar beliau –yang di telinga Shara terdengar seperti ancaman.

Ayah tidak menawar lagi. Semua orang tahu, SMP Negeri 1 adalah sekolah unggulan di Sumenep. Ketika Shara ditawari masuk sekolah ini, bagaimana mungkin ia memilih sekolah lain?

*

Hari ini hari Rabu. Siswa-siswi kelas VII sudah memakai seragam baru mereka. Namun Shara masih dilema. Sebenarnya, bisa saja ia memakai kerudung di sekolah saja, di luar sekolah bukan urusan. Tapi Shara tidak mau jadi orang munafik. Ia ingin berjilbab dengan kesungguhan hati dan kemantapan jiwa. Jadilah hari ini ia masih mengenakan seragam OSIS lengan pendek dan rok donker selututnya.

Shara diantar Ayah pagi-pagi. Kelas masih sepi. Berlian tidak datang sepagi ini. Namun di bangku depannya sudah ada Izzati, wakil ketua kelas yang bijaksana, lemah lembut, dan baik hati. Satu lagi, rajin salat dan mengaji.

"Izza... boleh ngomong, nggak?" Shara ragu-ragu menyapa. Kata Berlian, kalau punya masalah, curhat saja sama Izzati. Dijamin masalah hilang, hati pun tenang.

"Boleh lah, kenapa?" Izzati memutar kursinya menghadap Shara.

"Kenapa, sih, kamu pakai kerudung?" tanya Shara.

Izzati tersenyum sambil mengernyitkan kening. "Karena itu perintah Allah lah," jawabnya spontan.

"Masa cuma itu?" Shara tidak puas.

Putih BiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang