Seribu Mimpi

45 3 0
                                        

Namanya Izzati, siswi kelas IX-2 di SMP Negeri 1, anak pertama dari dua bersaudara, punya adik bernama Izzat, kembar nonidentik. Izzati baik hati, semua orang tahu. Izzati lemah lembut, sudah menjadi rahasia umum. Izzati bijaksana, siapa yang ragu? Izzati anak yang pandai, nilainya tidak pernah di bawah rata-rata. Izzati suka menulis, satu sekolah mengakuinya.

Kok bisa, sih, ada orang kayak Izzati?

Yah, itu sebuah pertanyaan yang ... mungkin ada jawabannya.

"Assalamualaikum," salam Izzat dan Izzati.

"Walaikum salam," jawab Bunda.

Si kembar mencium punggung tangan Bunda, meletakkan sepatu di rak, lalu masuk ke kamar masing-masing.

Rumah si kembar punya tiga kamar, dapur, musala, ruang tamu, dan ruang keluarga. Sejajar dengan ruang tamu adalah kamar Izzat. Di sampingnya, ada kamar Izzati. Kamar paling belakang ditempati Ayah dan Bunda.

Izzati suka membaca, juga suka menulis. Ia punya banyak koleksi buku, pelajaran, cerita, juga catatan harian. Di antara setumpuk buku Izzati, buku bersampul biru langit bergambar awan adalah yang paling berperan dalam hidupnya.

Selepas mengganti seragamnya dengan pakaian rumah, Izzati mengambil buku biru langit dari rak bukunya. Bukan buku pelajaran, bukan novel picisan, melainkan sebuah catatan. Pun bukan sembarang diary yang biasa dimiliki remaja seusianya. Buku ini berbeda. Di sampulnya tertulis "Seribu Mimpi".

Yang membedakan Izzati dengan remaja kebanyakan adalah keberaniannya untuk bermimpi. Jangan pernah meremehkan kekuatan mimpi, begitu kutipan dari artikel yang Izzati baca. Bagi Izzati sendiri, mimpi ibarat cahaya yang karenanya warna-warni dunia bisa ditangkap retina, ibarat kompas yang berkatnya kita tahu arah barat, selatan, timur, dan utara. Izzati membebaskan pikirannya berkelana, menemukan permata-permata mimpi, lalu diarsipkannya dalam sebuah buku bersampul biru langit. Mimpi-mimpi itu yang menyemangatinya ketika lelah melanda, pelipur kara saat malas menyusup dalam jiwa.

Izzati mulai membuka halaman pertama. Halaman paling istimewa. Yang tertulis padanya,

"Bismillahirrahmanirrahim"

Meraih ridho Allah adalah impian terbesarku.

Yang membedakan Izzati dengan manusia kebanyakan adalah pemahamannya tentang jati diri. Izzati memandang dirinya bukan sebagai aku dengan segala egonya, melainkan makhluk yang diciptakan Sang Khalik. Ia memandang dirinya sebagai seorang hamba yang sepatutnya menghamba pada Tuan-nya. Ia memandang dirinya sebagai khalifah yang seyogyanya membawa manfaat bagi semesta. Izzati memandang rida Allah sebagai kunci yang dengannya terbuka seribu satu pintu. Rida Allah sendiri adalah pintu paling agung, yang membukanya perlu melewati pintu-pintu lain. Pemahaman itulah, yang membuatnya menjadi Izzati yang sekarang.

Kakak kandung Izzat itu membalik lembar putih gading buku itu. Pada halaman kedua tertulis,

Aku ingin melihat Ayah dan Bunda bahagia karena hadirku.

Nah, kalau mimpi yang satu ini, anak-anak baik wajib memilikinya. Entah kalau ada anak yang tidak baik. Coba pikir, yang merawat kita dari lahir sampai sebesar ini siapa? Tangan yang Allah jadikan padanya kasih sayang yang tiada batasnya, punya siapa? Yang mendoakan kita tiap detik, siapa? Yang pertama kali mengenalkan kita pada Allah, siapa? Orang tua, bukan? Jadi, tak ada alasan untuk tidak membahagiakan kedua orang tua. Bukankah berbuat baik kepada keduanya telah diperintahkan dalam Al-Qur'an? Bukankah Nabi pernah bersabda 'ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu'? Bukankah rida Allah ada pada rida keduanya?

Izzati sampai pada halaman ke-57. Ia merogoh kotak pensil dan mengambil pena penanda warna biru, lalu meng-highlight tulisan yang berbunyi,

Aku ingin melampaui Azizi.

Guru konselor Izzati pernah berkata, manusia itu ada tiga golongan: penakut, pemimpi, pemenang. Penakut adalah mereka yang tidak punya keberanian untuk bermimpi. Pemimpi adalah mereka yang tenggelam dalam mimpi-mimpi tetapi tidak berusaha untuk meraihnya. Pemenang, yang paling baik dari ketiganya, adalah mereka yang berani bermimpi dan bersungguh-sungguh dalam merealisasikannya.

Berkaitan dengan jenis pemenang ini, Izzati punya dua pena penanda: kuning dan biru. Izzati akan menandai biru mimpi yang berhasil diwujudkannya, mimpi ke-57 ini misalnya. Baru saja Izzati mendapat kabar, cerpennya menyabet juara 1 pada lomba yang diadakan SMANSA, mengalahkan Azizi yang menempati urutan kedua. Sedangkan penanda warna kuning ia gunakan untuk mimpi yang sudah tidak mungkin diwujudkan lagi. Contohnya, mimpi untuk meraih nilai 30,00 pada UN SD yang kita tahu hanya ada satu kesempatan untuk masing-masing orang. Ia tidak mungkin kembali ke masa lalu untuk mewujudkannya, bukan?

Izzati mengembalikan Stabilo ke kotak pensilnya, lalu ganti mengambil pena. Pada halaman yang masih kosong, ia menulis mimpi yang ke-94,

Semoga aku bisa melanjutkan sekolah di SMA 3 Pamekasan.

Sekarang, tahu 'kan salah satu hal yang membuat Izzati berbeda dari remaja kebanyakan? Izzati hidup dalam bintang-bintang mimpi. Namun sejatinya, ialah bintang yang berkilau malu di langit tinggi. Pemuda itu laksana bintang, begitu kutipan dari buku yang Izzati baca. Sebagai bintang, adalah tugas mulia untuk bersinar terang dan membantu orang-orang.

*

"Kak, pinjam penggaris!" teriak Izzat sambil membuka pintu kamar Izzati.

Empunya kamar sedang tidak ada. Lancang saja Izzat masuk dan mengobrak-abrik kamar. Penggaris plastik ia temukan di dalam tas. Izzat berniat keluar setelah keperluannya terpenuhi. Namun, mendadak perhatiannya tertarik pada buku bersampul biru langit yang tergeletak di atas meja. Seribu Mimpi, begitu yang tertera di sampulnya.

Pasti terinspirasi dari video yang ditunjukkan Ustadz, batin Izzat.

Ya, ide untuk menuliskan mimpi-mimpinya dalam sebuah buku tidak datang begitu saja. Izzati terinspirasi dari video yang dipertontonkan gurunya semasa SD, tentang seorang mahasiswa yang menulis mimpi-mimpinya dalam selembar kertas, lalu ia pajang di tembok kamar. Pajangan itu jadi bahan tertawaan orang-orang. Kesuksesanlah yang kemudian membungkam tawa jadi tepuk tangan.

Iseng, Izzat membuka buku Seribu Mimpi itu. Tiba-tiba gerak tangannya terhenti, pada halaman kesepuluh, tertulis dengan amat jelasnya,

Aku ingin menjadi kakak yang baik untuk Izzat.

*

Putih BiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang