Sudah ... emm... banyak bulan Shara bersekolah di SMP Negeri 1. Anak kota itu sepenuhnya beradaptasi. Si penyuka merah muda seutuhnya melebur dalam warna-warni. Salah satu orang yang berperan dalam proses penyesuaian diri ini adalah Berlian, teman sebangku yang sangat menyenangkan. Pembawaannya supel dan blak-blakan. Dari Berlian, Shara merasa sudah mengenal seseorang sebelum ia benar-benar mengenalnya.
Misalnya, tentang Zea.
"Zea itu gampang marah tentang hal-hal sepele. Tapi juga gampang baik lagi. Nggak dendaman. Santai aja temenan sama dia."
Atau tentang Ayunda.
"Ayunda itu cocok nggak cocok jadi bendahara. Dia itu bertanggung jawab. Tapi terlalu baik. Positive-thinking terus. Nggak ada galak-galaknya. Mana anak-anak malas bayar kas."
Atau Azriel.
"Azriel memang sukanya main sama cewek. Tapi dia normal, kok. Banyak fans-nya malah."
Sejauh ini Berlian menyampaikan dengan objektif. Kacamata Berlian adalah kacamata kebanyakan orang. Kecuali...
"Semoga nggak sekelompok sama Satria. Semoga nggak sekelompok sama Satria."
"Memang kenapa?"
"Ah, dia itu cowok paling nyebelin di dunia. Kalau sekelompok sama dia yang ada tugas hancur nggak selesai," katanya menggebu-gebu.
...Satria.
Tiap deskripsi tentang Satria selalu terdengar mengerikan. Tiap cerita yang berhubungan dengan Satria selalu berakhir menyedihkan. Tiap atribut yang melekat pada Satria selalu menjelma keburukan.
Berlian pernah bilang, "Cowok yang bisa main gitar itu keren. ... Kecuali Satria."
Atau pada kesempatan lain, "Anak-anak OSIS itu keren. Kalau gak ada mereka banyak kegiatan sekolah yang nggak jalan. ... Kecuali Satria."
Pada kesempatan yang lain lagi, "Anak yang bisa meroda itu keren. Aku saja latihan seabad nggak bisa-bisa. ... Kecuali Satria."
Saking gemasnya, Shara pernah membalas, "Sekalian saja, semua orang itu keren, kecuali Satria."
"Ya, aku setuju."
Shara menepuk jidat. Memang Satria punya salah apa sampai Berlian dendam sebegitunya?
*
Karena pikiran Shara sudah terkontaminasi dan anak-anak IX-2 yang lain pun tak banyak membantu, ada baiknya kita menilik dari sudut pandang Satria sendiri.
Siswa yang duduk di pojok belakang itu sebenarnya sadar diri. Sadar bahwa ia dibenci. Ia bahkan berani bertaruh, kalau masing-masing siswa ditanya perihal siswa yang paling tidak disukai, seisi kelas kompak menjawab namanya, Satria. Jangankan teman, guru saja banyak yang tidak suka. Katanya, dia itu biang onar, anak nakal.
Yang ia tidak paham adalah alasan di balik kebencian itu. Mungkinkah karena tampangnya yang seram: kulit hitam, badan besar, dan gigi berantakan? Atau karena ia terkenal suka berantem? Ah, tapi itu kan waktu SD. Atau mungkin karena perilakunya yang abnormal? Satria pernah ngapain aja, sih?
Seingatnya, ia cuma pernah ngamuk gara-gara seseorang tidak sengaja menyenggolnya sampai jatuh. Lalu, ia pernah melontarkan guyonan pada jam pelajaran guru killer. Ia juga pernah meneriaki siswi yang sedang tidur pulas waktu istirahat karena hari itu lemas sedang berpuasa. Ia pernah memecahkan pot sekolah secara tidak sengaja. Pernah meneror teman sekelasnya menggunakan fake account. Pernah secara tidak sengaja menghapus file berisi 10 halaman tugas kelompok yang tenggatnya hari itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Putih Biru
Roman pour AdolescentsKarya ini dipersembahkan untuk kalian yang masih berseragam putih biru tapi bacaannya jauh mendobrak batasan umur. Saatnya kembali pada cerita-cerita klise, mimpi-mimpi lama, nasihat-nasihat usang; menutrisi jiwa, mempertajam pikir, mengasah kepekaa...
