Dalam Hening di Malam Sepi [Sepi 2]

25 4 0
                                        

16.30 WIB
Lokasi: Bakso & Mie Ayam Pak Maman

Izzat memarkir motor Yudhis di depan tempat makan sederhana itu.

"Mie Ayam satu, bakso halus satu, es teh dua," pesan Izzat.

Yudhis dan Izzat duduk di meja panjang bagian depan. Suasana warung mie-bakso ini sedang ramai. Padahal tempatnya sederhana, tak ada AC, cuma kipas angin di langit-langit. Bagian dalam warung cenderung gelap,  hanya satu lampu yang nyala. Jangan tanya soal higenis, semua serba tak pasti. Positive-thinking saja, pemiliknya seorang muslim, pasti mengerti tentang makanan yang halal dan thayyib.

Tak lama kemudian, pelayan menghampiri meja mereka, meletakkan dua gelas besar es teh dan semangkuk bakso.

"Kurang mie ayam satu, ya, Mas," si pelayan memastikan.

Izzat tersenyum mengiyakan.

"Bakso Pak Maman memang gak ada tandingannya." Yudhis menyendok bakso ke mulutnya. Satu hal yang membuat warung ini laris-manis: rasa percaya.

Izzat meneguk es tehnya, manis. Sepertinya mie ayam membutuhkan waktu memasak lebih lama. Laki-laki berhoodie cokelat itu mulai memainkan smartphone. PING! Satu notifikasi masuk dari media sosialnya.

Dari Izzati, Assalamualaikum, Izzat. Kamu di mana? bunyinya.

Izzat mendengus sebal. Peduli apa dia? Bukankah dia lebih memilih teman-temannya? Remaja labil itu memasukkan smartphone ke dalam saku, memilih untuk mengabaikan pesan saudarinya. Ia mengaduk-aduk gelas es tehnya, mencoba mengusir galau yang datang tiba-tiba.

*

17.45 WIB
Lokasi: Masjid Jamik Kota Sumenep

"Assalamualaikum wa Rahmatullaah..." Sang Imam yang suaranya terdengar lewat microphone menolehkan kepalanya ke kanan lalu ke kiri. Kemudian disambung dengan zikir.

Izzat dan Yudhis menyimak zikir sang imam dengan khidmat. Pun mengamini doa beliau dengan khusyuk. Mereka sedang singgah di masjid agung. Masjid dengan arsitektur khas dan dominasi warna putih-kuning. Sepasang bendera merah putih di gapura depan menegaskan bahwa Sumenep adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Layaknya masjid agung di Jawa pada umumnya, terletak di pusat kota, berdampingan dengan alun-alun, keraton, dan pasar.

Selepas salat ba'diyah Maghrib, Izzat dan Yudhis mengambil mushaf yang disediakan di masjid. Kedua remaja itu segera larut dalam alunan kalam-kalam Ilahi. Bagi Yudhis, ayat-ayat suci inilah pengisi sepi, pemecah sunyi. Bakda lima waktu, ayat-ayat ini ia lantunkan, memantul pada dinding-dinding rumahnya yang megah, masuk ke kamar-kamar tanpa penghuni. Lain lagi bagi Izzat, ayat-ayat Al-Qur'an inilah pelengkap kebersamaan, pengikat kekeluargaan. Saban pagi dan petang, rumah sederhana mereka riuh oleh bacaan Al-Qur'an Bunda, nada khas Ayah, juga suara lembut Izzati. Walaupun sekarang Bunda sering pulang malam, beliau kerap menelpon putra-putrinya, mengingatkan, Jangan lupa ngaji, ya. Ah! Izzat jadi kangen rumah. Sedang apa Izzati sekarang, sedang mengaji kah?

Ponsel di saku Izzat bergetar. Ia buru-buru mengangkatnya, khawatir nada deringnya mengganggu orang lain yang sedang beribadah.

"Halo, assalamualaikum."

Ah, baru saja Izzat kepikiran. Ternyata Bunda menelpon, di sela-sela jadwal pelatihannya.

"Waalaikum salam, Bunda," jawab Izzat sambil menjauh ke teras masjid.

"Adek lagi ngapain? Sudah salat belum? Jangan lupa ngaji, ya!"

Izzat tersenyum meski tahu Bunda tak bisa melihatnya.

"Sudah, Bun. Ini Adek lagi ngaji."

"Alhamdulillah. Kakak mana, Dek?"

"Emm... Adek lagi nggak sama Kakak, Bun. Adek lagi sama Yudhis."

"Lho, Kakak sendirian dong di rumah."

"Enggak, kok, Bun. Kakak kayaknya lagi sama temennya di rumah. Coba Bunda telpon Kakak."

"Oke, deh. Adek baik-baik, ya, sama Yudhis. Assalamualaikum." Panggilan dimatikan.

"Iya, Bun. Walaikum salam."

Hati remaja berhoodie cokelat itu menghangat.

"Harusnya kamu bersyukur," Yudhis tiba-tiba berada di sebelah Izzat, "punya keluarga yang perhatian."

Izzat mengiyakan dalam diam.

"Masih mau main kabur-kaburan?" sindir Yudhis.

Yang ditanya memikirkan ulang keputusannya.

"Satu malam saja."

Ternyata ia masih keras kepala.

*

Putih BiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang