Dalam Hening di Malam Sepi [Malam 1]

32 5 0
                                        

Malam Minggu bagi anak kecil yang punya orang tua penyayang dan pemurah adalah kepuasan: Jalan-jalan ke pusat kota dan makan malam di restoran.

Malam Minggu bagi anak sekolah yang sudah mengenal seabrek tugas adalah kebebasan; bebas memilih antara tidur cepat atau begadang tanpa memedulikan besok harus bangun kapan.

Malam Minggu bagi para pasangan adalah kesempatan; waktu paling pas buat ketemuan.

Malam Minggu bagi para pegawai baik negeri maupun swasta adalah pelarian; lari dari pekerjaan dan atasan.

Malam Minggu bagi Shara adalah menghabiskan quality time bersama orang-orang terdekat: keluarga, teman.

Anak kota itu mengemas satu setel pakaian dan seperangkat alat salat ke dalam ransel. Juga sikat gigi. Lalu beberapa rupiah. Dan cemilan. Jangan lupakan charger handphone, ini yang paling penting.

Berawal dari ajakan Izzati untuk bermalam di rumahnya, Shara dan kawan-kawan berencana melewati malam Minggu bersama. Sekalian keliling Sumenep, katanya.

"Cepat sedikit, Shar!" Ayah -dengan seragam lengkap, di atas motor- memanggil putri semata wayangnya.

"Iya, Yah." Shara segera keluar rumah, setelah pamit pada Bunda, tak ingin membuat Ayah yang mengantarnya jengkel.

*

Pukul 16.30
Lokasi: Rumah Izzati

"Baik-baik di sana," nasihat Ayah ketika Shara turun dari sepeda motor.

"Iya, Yah," jawab Shara. Ayah harusnya tidak khawatir. Ini bukan kali pertama Shara menginap di kediaman orang lain.

Izzati menyambut sendiri Shara setelah pintu dibuka dan salam dibalas. Katanya, Ayah-Bunda Izzati sedang pelatihan di luar kota dan Tante yang seminggu ini mengurus Izzati dan saudaranya ada keperluan sehingga tidak bisa menemani mereka di malam Minggu.

Shara menjadi yang pertama datang. Selanjutnya berturut-turut datang pula Zea dan Dera.

Berlian datang paling belakang. Sambil membawa bakso dan mie ayam.

"Assalamualaikum, pesanan datang..." kelakar Berlian.

Izzati menyiapkan mangkuk dan sendok-garpu. Menatanya di ruang keluarga.

"Mohon maaf, ini bayarnya pakai go-pay, OVO, atau cash, ya?"

Berlian selalu berhasil membuat tawa mereka berhamburan.

"Memang berapa, Lan?" tanya Izzati.

"Sepuluh ribuan, sih."

"Punyaku aku bayar, deh." Shara mengeluarkan selembar uang warna ungu.

"Nah, gitu, dong. Peka." Berlian tidak menolak.

Tawa kembali berhamburan.

Meski terkesan bercanda, teman-teman yang lain tetap membayar jatah mereka. Sadar diri lah, mana ada bocah SMP bisa mentraktir bakso sampai lima orang. Habis itu jatah mingguan. Kalau ada, berarti zaman yang sudah kelewat berkembang.

"Ini bakso Pak Maman, ya?" tanya Izzati.

"Iya, kebetulan lewat. Kok tahu?"

"Izzat suka banget makan di sana. Katanya mie ayamnya paling enak sedunia," kenang Izzati.

"Izzat itu kembaranmu, ya?" tanya Shara yang diiyakan oleh teman-temannya.

"Sekarang dia di mana?"

"Sepertinya ke rumah temannya. Aku pulang dia sudah nggak ada."

"Oh, habis kerja kelompok tadi, ya?"

Sepulang sekolah tadi, Shara, Izzati, dan beberapa temannya mengerjakan tugas kelompok di rumah Ayunda.

Shara dan kawan-kawan melanjutkan menyantap makanan mereka. Tak sadar sang tuan rumah murung tiba-tiba.

*

Putih BiruTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang