"Bahkan ... elo nggak tau kalau Jungkook dari kecil hidupnya udah rumit."
Lisa tersentak. Tubuhnya menegang seketika, mulutnya refleks terkatup dengan pikiran yang memutar ulang kalimat Dara barusan.
"Iya, rumit. Kayak doi rumit," celetuk Dara berusaha sebisa mungkin tetap santai.
Lisa menggeram sebal, berusaha menguasai diri. "Elo siapanya Jungkook?" tanya Lisa menahan amarahnya yang hampir meledak.
Dara mengangkat alis menatap Lisa yang rahangnya terlihat mengeras dengan wajah yang cukup merah menahan emosi.
"Gue?" tanya Dara dengan raut polos menunjuk dirinya, "cuma rumput bergoyang di mata dia."
Lisa mendelik menyalah artikan, "MAKSUD LO BERGOYANG APA?"
"ENGGAK ELAH ELO PIKIRANNYA SALAH PAHAM MULU."
"LISAAAA UDAH MALEM!"
Lisa mendengkus di tempat, memilih bungkam saat sang ibu sudah menegurnya. Gadis itu menyender pada punggung kursi di belakangnya, melepas penat karena lelah berdebat. Melirik Dara yang kini tertawa mengejeknya.
"Makannya, ayo kapan-kapan kita makan bareng di sekolah elo, kita ngobrol-ngobrol cantik. Katanya sekolah lo banyak cogan," celetuk Dara dengan tawa tanpa dosa di akhir kalimatnya.
"Buaya," sahut Lisa refleks, gadis itu mencuatkan bibirnya memainkan rambutnya yang terjatuh di samping telinganya.
"Hidup Jungkook rumit kenapa dah?" tanya Lisa pernasaran membuat Dara yang baru saja memasukkan makanan ke mulutnya kini melirik.
Dara mengarahkan pandangannya ke arah lain, tak ingin menatap mata Lisa. "Tauk, tanya aja sendiri. Katanya pacar, idih pacar matalu pacar. Yang ada kayak emak anak, elo galak soalnya."
Lisa menghela napas menyabarkan diri, "Mulut lo tuh banyak ampasnya," ejek Lisa menatap tak suka.
"Idih? Iya sih gue juga nyadar. Gue kan sadar diri nggak kayak elo," sahut Dara kembali memasukkan makanan ke mulutnya.
Lisa mendecak, mengubah posisi duduknya, "Kenapa sih elo kayak nggak suka sama gue?"
"Iyalah gue kan anti homo, apalagi homoannya sama elo. IYA AMPUN IYA MAAP JUMINTEN ELO KASAR BANGET JADI CEWEK!"
"LISAAA UDAH MALEM!"
***
Malam itu, lagi-lagi Jungkook mendecak kesal pesannya tak kunjung dibalas oleh Sandara Park.
Buku fisika di hadapannya dianggurkan, pemuda itu tak fokus belajar dan lebih sering melirik ponselnya. Alhasil, pemuda itu dengan kasar menutup bukunya dan memutuskan beralih pada ponselnya.
"Ni anak ngapain sih?" gerutu Jungkook tanpa sadar membaca ulang chat-nya dengan Dara.
Jungkook mendengkus. Pemuda itu menekan tombol kembali pada ponselnya, lalu menekan salah satu roomchat yang ia sematkan.
Lalisa.
Jungkook terkekeh kecil, merasa miris sendiri. Pemuda itu menekan roomchat-nya dengan Lisa, membaca ulang chat lamanya, bernostalgia.
Namun, tiba-tiba pemuda itu mengerjap tersadar. Baru menyadari, rata-rata tukar pesan yang dilakukan tiap hari selalu dimulai oleh Lisa. Pemuda itu tiba-tiba menciut, merasa bukan menjadi pacar untuk gadis bernama Lalisa Manoban.
Namun, pemuda itu membulatkan mata perlahan saat muncul bulatan kecil dengan angka 2 berwarna hijau di pojok kanan bawah.
Lalisa
Haii
Lalisa
Besok ... jadi couple kemeja kan?
Jungkook menegakkan tubuhnya, mengerjap menyadarkan diri. Ia menggigit bibir bawah, lalu mengetikkan pesan.
Jungkook
Iya
Jungkook
Udah makan?
Lalisa
Udah
Jungkook memandangi roomchat-nya. Mengerenyit melihat balasan gadisnya yang singkat.
Udah? Gitu doang?
Udah mandi? Kok belum tidur? Udah belajar? PR nya udah dikerjain?
Ck, emang cuma cewek yang bisa buat Jungkook jadi mikir panjang gini. Cewek lebih rumit daripada hitungan, gitu kata Jungkook si anak sains.
Jungkook mengetikkan balasan, lalu tiba-tiba termenung sejenak. Panik sendiri, mulai mengetikkan sesuatu lagi.
Dan, mulai merasa bodoh kembali.
Jungkook
Lisa
Lalisa
Iya?
Jungkook
Nggak
Jungkook
Itu
Jungkook
Bulannya cantik
Jungkook
Kayak yang baca
***
To Be Continued
a/n :
Mas Jeon nggak tau sih sekarang Mbak Lisa lagi senyum senyum gila...
©-chocelnate
Yogyakarta, 07 Mei 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
LO(S)ER | lisa, jungkook
Fanfiction[COMPLETED] ❝ Saat seorang LOVER memiliki sinonim LOSER. ❞ Jeon Jungkook, cogan sekolah mereka yang tiap harinya membaca dan belajar. Jungkook sudah terlelap didunianya sendiri jika dihadapkan dengan buku. Ia pendiam dengan yang lainnya, namun ia be...
