Tiga puluh satu

844 59 2
                                        

Tidak perlu kata sandi khusus untuk berdoa,kapan dan dimanapun engkau butuh Allah maka ia akan selalu ada;
Dialah Allah yang paling mengerti tentang apa yang kau rasa,dan Dialah Allah yang akan menolongmu dengan cara tak terduga.

🌹🌹🌹

Semuanya sudah selesai.Kelas dua belas sudah selesai melakukan semua ujian.Sementara itu kelas sepuluh dan sebelas kembali masuk sekolah untuk melakukan ujian kenaikan kelas,mengejar materi yang harus mereka pelajari untuk ujian nanti.

Fatimah pagi ini di antar oleh papa nya,kondisinya tidak baik baik saja.Sudah pasti.Tapi tidak seburuk waktu itu,sebelum Zayn nekat datang kerumahnya dan menemaninya.

Fatimah sedang dalam fase mendewasakan diri dan pemikirannya.Tapi tidak semudah itu,sebenarnya siapa yang harus ia percaya?Itu masih menjadi pertanyaan terbesarnya.

"Pagiiii!!!" Nisa dan Amira datang dari belakang langsung merangkulnya.Mereka berdua sudah jarang terlihat oleh Fatimah karna menjaga jarak.Memberi ruang untuk Fatimah dan Zayn menghabiskan waktu berdua setelah mereka sah.

"Murung banget,kenapa?" Amira bertanya lembut sedangkan yang ditanya hanya memandang mereka bergantian.Jujur,Fatimah sangat merindukan mereka.

Entah kenapa justru air matanya serasa ingin keluar,Fatimah tidak menyangka kehidupannya yang dulu baik baik saja ketika bersama mereka kini malah jadi seperti ini.

Ia berusaha menguatkan diri,walaupun ia berniat menceritakannya,hujan disini tempatnya.Fatimah tersenyum tulus pada keduanya,merangkul mereka berdua merubah raut wajahnya menjadi terlihat sangat baik baik saja.

"Aku gak papa" sahutnya tersenyum lebar membawa kedua temannya menuju kelas.Fatimah tidak tau apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui masalahnya,terlebih Nisa yang emosional setiap menghadapi sesuatu.

Bahkan di titik terendahnya,perempuan sanggup mengakui bahwa dirinya baik baik saja.

"Lo kenapa sih? Dari tadi gak konsen aja keliatannya" Nisa yang duduk di depan Fatimah memang memperhatikannya dari tadi.Guru sibuk menjelaskan tapi Fatimah seolah kalut dalam pikirannya sendiri.

"Mikirin gue tuh!" Arya nyeletuk,tentu saja tidak ada guru dikelas.Selepas menjelaskan materi,Pak Agus menyuruh mereka mencatat semuanya sementara ia izin keluar.

"Pede amat lagu lo! Cakep kali muka lo!-" Guntur menjawab,menirukan backsound di video yang ia lihat belum lama ini.

"Anjittt muka lo tu anjrittt!" Nisa melanjutkan membuat seisi kelas tertawa kecuali Adel.Iya,orang gila yang sebegitu bencinya sama Fatimah.

"Eh kenapa?" Fatimah tiba tiba tersadar dari lamunannya karena mendengar suara tawa seisi kelas "Ngelamuuuun aje kerjaan lo! Kaga ada job laen apaa!" Nisa lagi lagi mengomel,Fatimah masih menunjukkan wajah bingungnya membuat Amira yang berada di sebelahnya iba.

"Uda Nisa,Kasian Fatimah" katanya membela teman kesayangannya ini,Nisa hanya berdecak lalu meluruskan tubuhnya kembali menulis.

"Kamu kenapa?" Amira bertanya selembut mungkin,suaranya masih dapat didengar seisi kelas walaupun samar samar.

"Ada masalah?" Amira lagi lagi bertanya,Fatimah tetap diam.Tatapannya kosong,ia bingung harus jawab apa.

"Dibilang dia mikirin gue" Arya lagi lagi ikut campur "Udah punya orang woe! Ngaca!" Guntur juga pasti gak akan tinggal diam,Guntur kurang suka jika ada yang menggoda Fatimah.Bukan apa apa,tapi Fatimah sudah ada yang punya bukan?

"Mukanya pucet banget,udah makan?" Amira berusaha membuat Fatimah berbicara,setidaknya menunjukkan kalau dirinya peduli.Fatimah hanya mengangguk sebagai jawaban.

FatimahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang