Part 21

299 74 4
                                        

Klikdulu yukk..

Happy Reading ❤❤❤
⬇⬇⬇


Zhara

Hatiku terasa bergemuruh dan hancur. Jiwaku begitu remuk saat ini. Beriringan dengan napas yang begitu berat dan sulit untuk dilepaskan.
Belum lama ini aku terjatuh dan menyisakan luka yang amat pedih dihati ini. Saat aku ditinggal pergi dihari pernikahanku. Oleh karenanya aku juga kehilangan sosok seorang ayah dihari itu.
Tetapi sekarang, aku kembali terjatuh oleh cinta dari sahabatku sendiri.

"Ya Allah.. Izinkan airmataku kembali jatuh kedalam, jangan biarkan ia keluar dari mata ini! Agar sahabatku yang sedang bahagia ini tidak ikut kecewa denganku!" bathinku sembari menatap langit yang masih biru diatas.

Tetapi apalah daya. Tak sengaja airmata ini setetes berhasil lolos dari mataku, kemudian bergulir di pipiku.

"Zhara? Kamu kenapa? Kamu menangis??" tanya nya sambil menghapus airmata ku.

"Oh, ini bukan nangis Ya! Tapi ini airmata bahagia. Aku terharu mendengar kamu dan Kak Fahri akan menikah," jeda, menarik napas
"Selamat ya! Semoga lancar sampai hari H!" tambahku lagi dengan senyuman pada Hulya.

"Iya! Makasih banyak ya Zha! Oh iya! Bagaimana hubungan pernikahanmu saat ini?? Baik-baik saja kan?? Aku benar-benar minta maaf ya Zha, karena nggak bisa hadir dihari pernikahanmu. Tapi percayalah, doaku selalu menyertai disetiap kebahagiaanmu!" ucap Hulya lalu memelukku.

"Aku tidak jadi menikah dengannya waktu itu!" tukasku.

Diam sejenak, kemudian dengan perlahan Hulya mulai melepas pelukannya.

"Apa maksudnya Zha?? Memangnya apa yang terjadi padamu? Dan perjodohan itu...." aku langsung memotong pertanyaan dari Hulya, sebelum ia menambahnya lagi

"Aku tidak seberuntung kamu, Ya!" jawabku kembali tersenyum
"Aku nggak jadi nikah sama Revan karena ia sudah punya istri. Dan istrinya yang sedang hamil pun datang memberontak dihari pernikahanku. Akhirnya aku membiarkan dia pergi. Dan hari itu juga, Papa pun ikut pergi meninggalkan ku untuk selama-lamanya." tangisku pecah dihadapan Hulya karena aku tidak mampu lagi membendung airmata ini.

"Zhara! Aku turut berduka cita ya. Maaf sekali lagi, karena aku benar-benar tidak tahu soal itu. Dan kamu nggak boleh bicara soal keberuntungan itu lagi! Aku yakin, Allah pasti punya rencana lain yang lebih baik untukmu di suatu hari nanti. Percayalah!" ucap Hulya menenangkanku dengan mengusap lenganku.

"Iya Ya! Makasih ya. Oh ya, aku lupa. Kalau sore ini aku juga punya janji temu dengan salah satu klien di Butik." tukas ku mulai mengalihkan pembicaraan

"Ke Butik??" tanya Hulya mengeryitkan dahinya padaku

"Oh, iya! Hampir lebih dari 2 tahun ini aku berprofesi sebagai designer dan berhasil memiliki salah satu Butik ternama di Jakarta." jelasku sambil menyeka airmataku.

"Masyaa Allah.. Sukses selalu buat kamu ya, Zha! Insyaa Allah aku janji, di lain waktu aku akan berkunjung ke butikmu itu!" ujar Hulya tersenyum dibalik cadarnya.

Sinar Cinta HulyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang