Masa Pertengahan Putih-Abuku banyak melewati rintangan, ketambah lagi sama Pelatih ekskul volley yang akhir-akhir ini gencar ngechat aku via WhatsApp. Dia kenapa sih?
Start : 29 Maret 2020
End : 10 Januari 2021
"Makasih ya, Mas." ucapku menahan senyum yang udah siap merekah ini.
"Mas yang bilang makasih, maaf udah bikin kamu bosen nungguin futsal tadi." katanya sambil mengacak pelan rambutku.
Persentase bosen saat melihat Mas Bayu futsal tadi cuma 10% sedangkan sisanya dihabisin rasa ambyar ngeliat dia yang seksi banget karena efek keringat.
"Yaudah aku masuk rumah ya." pamitku yang hampir aja pengin cium tangan sama dia.
Haduh kebiasaan pas ekskul.
Daripada aku khilaf lagi mending aku langsung turun dari mobilnya.
"Bentar Mi," tahan Mas Bayu, "ini buat kamu..." ucapnya setelah mengeluarkan sebuah kotak beludru persegi warna merah dari saku bagian dalam jasnya.
Dan aku juga baru nyadar kalau Mar Bayu pake jas blazer gini.
Padahal sebelum futsal masih pake kemeja biasa. Lalu pas futsal tadi pake kaos polos dengan warna kesukaannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(*kurang lebih begitulah penampilan Mas Bayu :v)
"Apaan maksudnya, Mas?" tanyaku bingung.
Aku tahu Mas Bayu ngasih itu ke aku. Orang tangannya aja mengulur ke arahku. Tapi aku agak segan menerimanya karena kotak itu semacam kotak perhiasan.
"Ini buat kamu, coba dibuka." ucapnya setelah itu tersenyum tipis.
Sangat tipis!
Saking tipisnya nyaris gak keliatan kalau gak kebantu lampu mobil yang dinyalakan.
Perlahan aku menerima kotaknya lalu membukanya.
Wow!!! Di dalamnya ada kalung dengan liontin kecil yang keliatan sangat elegan!
"Serius yang kayak gini buat aku?" tanyaku masih gak nyangka.
"Iya." tanggapnya singkat.
"Tapi ini kayaknya mahal Mas."
"Ya emang kenapa kalau mahal?" ucap Mas Bayu dengan salah satu alisnya yang terangkat.
"Takutnya ngerepotin, aku kan gak minta. Bukan aku gak seneng dikasih kalung sama Mas, mmm gimana ya... aku merasa belum pantas nerimanya." tukasku apa adanya.
"Terus pantasnya kapan? Saat Mas lamar kamu?" balasnya dengan muka serius. Itu bikin aku deg-degan lagi.
Padahal aku udah mulai merasa santai saat sama dia.
"Gak-bukan-duh Mas nih kalau ngomong bikin deg-degan aja." ocehku yang mengalir begitu saja.
"Sini biar Mas pakaikan." tukasnya lalu mengambil kotak kalung itu dan menyingkirkan rambutku yang menghalangi punggung.
"ekhem, pakai sendiri aja." katanya dengan dehaman canggung.
Tumben dia begitu.
"Mmm oke deh, makasih buat kalungnya. Aku masuk rumah ya," pamitku yang cuma diangguki sama Mas Bayu.
"Mas pulang gih." kataku tersenyum cerah ke arahnya.
"Gak masuk?" tanya Mas Bayu tanpa melihatku. Padahal aku udah pasang senyum manis buat dia.
"Aku masuk setelah Mas pulang." jelasku.
"Oke," balasnya singkat masih tanpa memandangku barang sedetik aja.
Dia kenapa sih gak mau lihat aku?
"Mas pamit, assalamualaikum ..." ucapnya lalu dia bener-bener pergi tanpa melihatku dulu.
"Waalaikumussalam." jawabku lemah karena dongkol sama sikap Mas Bayu yang tiba-tiba cuek padahal habis ngasih kalung dan hampir aja ada adegan romantis tadi di mobil tapi Mas Bayu gak jadi makein kalungnya.
"Gotcha!!! ketahuan lo teh! teteh dianter siapa barusan?" seru Tino yang berhasil mengagetkanku.