Votenya yak, belajar menghargai karya orang seberantakan apapun karnyanya :v
Happy Reading 💕
.
.
.
"Welcome to my room," katanya terdengar seperti mempromosikan barang limited edition.
Well, aku akui kamarnya memang jenis edisi terbatas. Terkesan old, bersih, terlampau rapih apalagi dari segi tata letak. Banyak pajangan yang kunilai cukup antik.
Tapi aku sadar, ini bukan waktu yang tepat untuk mengagumi kamarnya.
"Anggap kamarmu sendiri." harapnya dengan senyuman singkat dan tipis ciri khasnya.
"Yang benar aja?! Mana mungkin kamarku semembosankan ini?" tanggapku sinis.
"Kalau begitu kita bisa pindah, nanti kamu bisa menghias rumah kita semaumu." ucapnya sangat enteng.
Seolah apa yang baru kita lalui hari ini adalah hal sepele.
"Mas, please!" Aku pastinya geram.
Karena menurutku semua ini tidak wajar!
Aku mungkin sudah berdosa karena membenci skenario Tuhan.
"Kamu memohon untuk apa?" tanya Mas Bayu dengan ekspresi datar.
Dulu aku menyukai ekspresi datar yang terkesan tegasnya itu, tapi sekarang tidak. Rasanya lebih baik aku melihat ekspresi adekku yang seringkali menjengkelkan.
Ya meskipun mereka sama-sama minim ekspresi. Tapi dalam keadaan ini aku jauh lebih memilih Tino!
"Untuk jangan menganggap semua ini wajar! Kamu baru saja menikahiku Mas!" jelasku dengan nada tinggi.
"Calm down, Dek,"
Apa? Dek?
Cih! Dulu aku mungkin salting dipanggil seperti itu. Tapi sekarang nggak!
Aku muak!
"Apa salahnya Mas nikah sama kamu?" tanya dia yang membuatku heran setengah mati.
Dia ini kenapa? Dia gak tau kalau kita ini lagi selek? Kita ini mantanan.
Aissh bagaimana caraku menjelaskannya?
"Dengar ya Mas, kayaknya kamu belum tau kalau aku benci sama Mas." ucapku dengan gamblang.
Aku sudah gak peduli kalau dia mungkin akan sakit hati.
"Kenapa?" lagi lagi pertanyaannya berhasil membuat dahiku berkerut.
"You betrayed me! Kenapa masih nanya sih!" bentakku gemas.
"Mas gak pernah khianatin kamu, dek." tanggapnya dengan suara rendah yang terkesan kalem.
"Tapi kamu bohongin aku dari awal, Mas."
"Ya, Mas akui itu, dan aku menyesal." Mas Bayu menatapku dengan tatapan hangatnya seolah dia ingin aku mengerti kalau dia benar-benar menyesal.
"Itu gak ngurangin rasa sakit di hatiku." balasku apa adanya.
"Terus aku harus apa?" ujarnya dengan ekspresi bingung yang baru kali ini kulihat.
"Mas boleh selingkuh lagi, dengan begitu aku punya alasan untuk minta cerai."
"Watch your word!" tegur Mas Bayu kembali dengan aura tegasnya.
Aku sempat segan melihatnya tapi aku kembali memasang wajah sinisku.
"Dengar, Rahmilia. Sebaiknya kamu harus belajar menerima fakta kalau kamu sudah menjadi istriku."
Dasar arogan!
"Aku gak sudi punya suami tukang main cewek!" bentakku.
Aku bahkan gak peduli kalau ibu atau ayah mertuaku mendengar suaraku.
"Pelankan suaramu." instruksinya tanpa meninggikan suaranya sama sekali.
"I don't give a fuck!" geramku.
Mas Bayu mendekat ke arahku dalam sekejap, ia lantas membungkam mulutku dengan tangan besarnya.
"Aku gak menduga akan mendengar hal ini dari kamu, tapi Mas mohon jangan kacaukan malam pertama kita dengan kata-kata kasarmu." tegurnya tepat di telingaku, aku bahkan dapat merasakan nafas mintnya.
Aku terpaku mendengar kata-katanya, apalagi di posisi sedekat ini rasanya aku gak bisa berkutik.
Aku membuang nafas lega saat dia menjauh dan melepaskan tangannya dari mulutku.
"Maaf kalau Mas bikin kamu takut." tukasnya memandangku khawatir.
Tapi aku tetap gak tau harus bereaksi bagaimana, terlebih kata-katanya tadi mengalun di otakku.
Suasana hening untuk beberapa detik. Mas Bayu hanya diam menatapku bingung. Dia menunggu responku.
"Apa Mas akan menyentuhku malam ini?" tanyaku mengalir begitu saja.
"Apa kamu takut?"
"Jawab aja."
"Nggak."
"Kenapa?"
"Kamu ingin Mas melakukannya?"
"Nggak!" jawabku secepat yang kubisa.
"Kalau begitu Mas gak akan melakukannya," katanya seolah menjelaskan kalau dia gak akan menyentuhku tanpa seizinku.
"Nggak malam ini dan sampai kamu lulus sekolah, itu rencana Mas." jelasnya.
"Baguslah." ungkapku dengan kelegaan yang jelas kentara.
"Tapi manusia cuma mampu merencanakan bukan? Kalau begitu get ready. Kita akan beribadah malam bersama." ucapnya yang berhasil membuatku merinding.
"Mas bilang kita gak akan melakukan itu?!" protesku.
"Apa?" tuntutnya.
"Be-bercinta." Mas Bayu tertawa mendengar ucapanku.
"Memang tidak. Mas mengajakmu salat isya. Bukan bercinta."
Aku sangat malu mendengar penuturan Mas Bayu. Sekarang aku malah terkesan seperti perempuan kurang belaian!
Lagian salahin Mas Bayu yang selalu pakai bahasa baku, aku jadinya ambigu!
Aish memalukan!
___________Bersambung__________
Ya gitulah malam pertama mereka.
Jangan berharap terjadi apa -apa dulu haha
Btw mulmednya diplay kan? Aku lg suka bgt nih sama lagunya Ava Max.
She's gorgeous, meski byk yang bilang dia mirip Lady Gaga tapi dia punya karakter suara yg khas n i love it!
KAMU SEDANG MEMBACA
Siap, Coach! (Completed)
RomanceMasa Pertengahan Putih-Abuku banyak melewati rintangan, ketambah lagi sama Pelatih ekskul volley yang akhir-akhir ini gencar ngechat aku via WhatsApp. Dia kenapa sih? Start : 29 Maret 2020 End : 10 Januari 2021
