Berjalan tanpa permisi, pergi pun tanpa berbalik kembali. Sangat tidak sopan.
Gerbang sudah terbuka lebar, para siswa berhamburan keluar hingga berdesak-desakan dengan yang lainnya.
Ajeng hanya melangkah kecil dengan sorot mata masih kearah yang sama.
Tanpa terasa kini kakinya sudah tinggal dua langkah menuju gerbang utama. Ajeng menghentikan langkahnya menatap tali sepatunya yang kini terlepas. Ia terdiam dan hanya memandanginya sesaat lalu melangkah kembali menuju gerbang sekolah.
Ajeng memperlambat langkahnya agar bisa berpapasan dengan pria idamannya. Namun kenyataan memang menyakitkan.
Keduanya memang berpapasan bahkan Andrean berada tepat disampingnya. Meski ia menggunakan motor dan Ajeng jalan kaki. Tapi tetap saja, mereka benar-benar bersampingan. Namun sayangnya Andrean tak berbalik sedikitpun, tatapannya terus tertuju kearah depan. Sungguh menyakitkan.
Andrean berlalu begitu saja meninggalkan Ajeng yang kini diselimuti berbagai kekecewaan.
Memang tak ada yang Ajeng harapkan sebenarnya. Ia tak pernah berharap Andrean akan mengajaknya pulang bersama. Hanya saja Ajeng berpikir kalau Andrean setidaknya akan melirik kearahnya walau hanya sekilas.
Apa itu sangat sulit untuknya?
Ajeng terkadang bingung dengan sikap Andrean. Ia terkadang lembut meski masih ada rasa dingin dalam dirinya. Juga terkadang sangat dingin sampai tak ada sedikitpun kelembutan pada sosoknya. Ajeng juga bingung, sebenarnya yang mana Andrean sesungguhnya. Ia tak tau harus berbuat apa. Tapi Ajeng yakin kalau dirinya mencintai kedua sikapnya itu. Baik yang asli ataupun topeng sematanya. Ajeng menyukainya, sungguh.
****
Ajeng terduduk di ranjang istimewanya. Ia kembali teringat pertemuannya dengan Joy beberapa hari lalu. Ajeng merasa tak enak hati karena meninggalkannya sendirian waktu itu.
Ia pun meraih ponselnya untuk sekedar meminta maaf kepada seniornya tersebut. Namun setelah dipikir-pikir ternyata ia tak memiliki nomor tujuannya itu.
“Ya udahlah, mendingan tidur aja. Dipikirin mulu, tambah tua nanti,” ucapnya sambil membaringkan tubuhnya mencari posisi paling nyaman.
Memang benar, apapun masalahnya rebahan solusinya.
Meski rasa kantuk tak kunjung datang, Ajeng tetap setia dengan kasurnya itu. Tak ada niatan sedikitpun untuk bangkit dari rasa nyaman ini. Sungguh entah nikmat mana lagi yang akan ia dustakan.
••••
Dering ponselnya lah yang memaksanya untuk terbangun dari tidurnya. Ia meraih ponsel yang sangat menyebalkan itu. “Gak tau apa kalo pemilikmu ini lagi tidur,” gerutunya dalam diam.
Ajeng hanya menekan tombol hijau tanpa melihat siapa yang menelponnya saat ini.
“Halo!” ucap Ajeng setelah ponselnya mendarat ditelinga kanannya. Ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang mungkin berjatuhan sedari tadi.
“Halo, siapa ya?” Ajeng terus saja berbicara karena tidak ada sahutan dari sebrang sana. Dengan perasaan kesal ia pun menjauhkan ponselnya dan menekan tombol merah sambil mengucapkan sumpah serapah yang tak karuan.
“Apaan sih nih orang? Kurang kerjaan banget, deh,” ucapnya melempar ponsel keatas kasur.
“Ah, kan jadi gak ngantuk lagi. Dasar orang sinting!” umpatnya sambil membanting tubuhnya ke kasur saking kesalnya. Namun tak lama Ajeng kembali bangkit terduduk karena ia sudah tak ingin tidur lagi.
Ia berjalan ke kamar mandi hanya untuk sekedar membasuh wajahnya, dan kembali lagi ketempat asalnya.
Baru saja ia hendak turun kelantai bawah, sudah terdengar bel rumah yang berbunyi nyaring.
“Siapa, sih? Gak sabaran banget deh!” dengusnya mendekat ke arah pintu.
Ajeng datang mendekat untuk membuka pintu.
Booom...
Ternyata teman-temannya yang super duper gila dan nyebelin itu.
“Tau dari mana alamatnya?” tanya Ajeng bingung. Jelas saja, karena ia tidak pernah memberi tau alamat rumah ini kepada siapapun.
“Ye, lo lupa? Kita kan punya informan terbaik,” jawab Nova menunjuk Jane dengan dagunya sendiri.
“Ya Tuhan. Orang ada tamu juga, gak disuruh masuk? Pegel, nih!” Vania merengek kearah Ajeng dan menunjukkan kakinya dengan tatapan sendu.
“Oh iya lupa, masuk-masuk” Ajeng hanya mengusap tengkuknya. Ia benar-benar lupa mempersilahkan teman-temannya untuk masuk.
Baru kali ini ada yang bertamu ke rumahnya. Ajeng sangat bingung apa yang harus ia sajikan saat ini.
“Gak usah bingung, kita minum apa aja kok,” ucap Nova seakan tau isi pikiran Ajeng.
Ajeng hanya mengangguk dan membawa minuman dingin serta cemilan ringan untuk temannya.
“Maaf ngerepotin,” ucap Jane membuat semua orang terheran.
“Tumben gak ngegas kayak biasanya.”
“Gue ngegasnya sama lo doang!” ucap Jane sinis kearah Vania.
Memang keduanya sama-sama punya suara nyaring dan gak bisa santai kalo ngomong. Nova hanya nyengir kuda seakan malu dengan tingkah temannya itu.
“Eh tadi lo kok gak pulang bareng gue?” tanya Nova sambil memakan snack di atas meja.
“Ah tadi...ke toko buku dulu,” ucap Ajeng beralasan. Padahal ia pulang terlambat karena berdiri lama diparkiran.
Nova hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengunyah makanan dalam mulutnya. Sontak kedua gadis yang duduk di kursi lain mulai tertawa terbahak-bahak.
“Napa lo?”
“Lucu aja gitu liat ekspresi lo mangut-mangut, kayak gadis lugu lo!” Vania tertawa paling keras diikuti oleh Jane yang masih terkekeh geli.
“Oh iya, kita kesini mau ngasih lo kabar,” ucap Jane tiba-tiba.
“Yang pertama kabar baik dan yang kedua kabar buruk. Lo mau dengerin yang mana dulu?” tambah Vania memberikan pilihan.
“Emang apa?” tanya Ajeng sedikit gugup.
______________________________________
Duh kabar apaan nih, kepo gue🤔
~oOo~
.
.
.
.
.
.
.
Tinggalkan jejakmu dibawah!!
LOADING••••
__________
Bye bye🤗
.
.
.
.
.
.
.
.
Love you❣️
🤣🤣🤣
KAMU SEDANG MEMBACA
Tragis [TERBIT]
Teen FictionPre-order [25 Februari - 30 Maret 2022] Bisa beli di Shopee : cmgbekasi.store Pembayaran melalui : 1. PayPal 2. OVO 3. DANA 4.Bank Mandiri More info : 081280580215 (MinBe) 085797559818 (Author) _________________________________________ Tragis me...
![Tragis [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/220539577-64-k101016.jpg)