Lembaran putih terbuka, dan kehidupan baru pun dimulai.
"Mama cantik banget, sih," puji Ajeng memandang pantulan wajah Tamara disebuah cermin besar.
"Kamu bisa aja, deh." Tamara tersipu malu dengan ucapan Ajeng tersebut.
Keduanya terkekeh lucu menikmati pagi hari yang amat sangat spesial ini.
"Jane!" Ajeng melambai sembari memanggil nama sahabatnya.
"Vania sama Nova mana? Tumben gak barengan," ucap Ajeng melontarkan pertanyaan setelah Jane tiba dihadapannya.
"Tau, tuh."
"Oh iya, nih dari nyokap gue!" sodor Jane memberikan kotak kecil dengan pita diatasnya.
"Buat aku?" tanya Ajeng sambari menerima kotak tersebut.
"Yakali, buat lo!"
"Becanda kali, Jane," kekeh Ajeng menanggapi mata sinis milik Jane Aressya, sahabat terbar-bar nya itu.
Drrrt...Drrrt
"Eh tunggu bentar," ucap Ajeng dengan tangan kanan yang merogoh tas putih miliknya.
"Iya,Va. Kenapa?" tanya Ajeng ketika panggilan sudah terhubung satu sama lain.
"Jemput gue diparkiran, dong."
"Lah, kenapa gak masuk sendiri?" tanya Ajeng lagi.
"Malu gue anjir, banyak cowo, nih." Bisik Vania pelan kearah ponselnya.
"Eh, Nova!" seru Vania dari seberang sana.
"Gak jadi deh, Jeng. Udah ada Nova, nih." Vania kembali berucap dan buru-buru menutup sambungan teleponnya.
Ajeng hanya menatap bingung ke arah ponsel yang masih berada digenggamnya.
"Dih, Vania gaje bener," batinnya menggerutu.
"Kenapa tuh si Vania?" tanya Jane yang sedari tadi hanya memperhatikan.
Ajeng mengangkat kedua tangannya pelan dengan bibir yang sedikit maju ke depan.
"Udah lah, ayo kesana. Laper gue." Jane menarik tangan Ajeng agar segera pergi dari tempat mereka berdiri.
"Pelan-pelan dong, Jane."
"Lama bener, gue duluan aja ya. Belom makan," cengengesnya dengan tangan yang sudah melepaskan cekalan pada tangan Ajeng.
••••
"Ah, maafkan saya, tante." Ajeng membungkuk sopan kepada orang yang baru saja ia tabrak.
"Gak pa-pa, kok. Lain kali hati-hati ya." Ibu paruh baya itu tersenyum ramah dan pergi meninggalkan Ajeng sendirian.
"Lo ngapain?" Nova menepuk pelan pundak Ajeng yang tengah berdiri mematung.
"Eh, gak pa-pa." Ajeng mengusap kecil kepala bagian belakangnya.
"Ajeng, tuh kata mama lo!" teriak Jane dengan berbagai jenis kue di piring yang ia pegang.
"Lah, lo kok duluan, sih?" Vania berhamburan kearah Jane dan mengambil beberapa kue milik sahabatnya itu.
"Aku duluan ya," pamit Ajeng sembari pergi melewati kedua sahabatnya yang tengah berebut makanan.
Dengan langkah sigap ia melewati berbagai jenis manusia yang tengah menikmati pesta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tragis [TERBIT]
Teen FictionPre-order [25 Februari - 30 Maret 2022] Bisa beli di Shopee : cmgbekasi.store Pembayaran melalui : 1. PayPal 2. OVO 3. DANA 4.Bank Mandiri More info : 081280580215 (MinBe) 085797559818 (Author) _________________________________________ Tragis me...
![Tragis [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/220539577-64-k101016.jpg)