Persiapan

58 9 3
                                        

Ujian semakin dekat, dan persiapan pun semakin dipercepat.

“Susah bener nih materinya wey,” melas Vania mengacak-acak tumpukan buku yang ada dihadapannya.

“Baca doa dulu makanya,” balas Nova menanggapi rutukkan sahabatnya itu.

Vania hanya terdiam dengan bibir yang masih mengerucut.

“Jane, ajarin dong!” Senyum Vania seketika mengembang menatap kedatangan sang ahli hitung-hitungan miliknya.

“Dih, pas butuh aja baik-baik lo,” sinis Jane dengan posisi yang sudah terduduk.

“Dari mana aja?”

“Tau, lo kelayapan mulu dah. Tuh si Vania udah mau stres nyariin lo,” canda Nova dengan diiringi lirikan tajam dari seseorang yang berada disampingnya.

“Yah gue pacaran mah kan kagak mungkin,” curhat Jane mengadukan nasibnya yang malang.

“Haha iya, sih. Lo kan kagak pernah punya cowok ya.” Vania tengah bahagia meledek sahabatnya yang tengah murung itu.

“Jangan diajarin Jane, penghianat dia.”

“Bener, gak gue ajarin lo.” Ancaman Jane tersebut mampu membuat Vania ciut dan segera menutup mulutnya rapat-rapat.

“Mau gue ajarin?” Seseorang melangkah mendekat kearah meja yang mereka tempati sedari tadi.

“Gak usah repot-rep-”

“Ah, boleh-boleh,” seru Ajeng sembari menutup mulut Nova agar tak memberikan penolakan.

Joy hanya tersenyum melihat tingkah laku ke empat adik kelasnya itu.

“Lumayan tutor gratis,” bisik Ajeng ke arah Nova dengan senyuman manis.

“Good job!” Vania mengacungkan kedua jempolnya.

“Sini kak duduk,” titah Jane mengosongkan satu kursi untuknya.

“Lo ajarain Vania aja dulu, kita-kita nanti aja,” ucap Ajeng sembari melanjutkan acara membaca bukunya.

“Lah lo gak pake embel kakak?” Bisik Nova pelan.

“Males, dah nyaman ke gini.” Ajeng menjawab tak acuh.

Entahlah ternyata setelah sekian lama kejadian itu berlalu, hubungan Ajeng dan Joy malah semakin akrab. Ajeng bahkan berbicara santai kepadanya seolah usia bukanlah penghalang pertemanan mereka. Dia adalah teman laki-laki pertamaku, sekaligus seorang kakak untukku_begitulah pikirnya.

Yah, Ajeng memang menganggapnya seperti kakaknya sendiri. Namun entah sejak kapan perasaan itu berubah. Yang awalnya teman pereda sepi kini menjadi rasa takut kehilangan. Ajeng tidak mencintainya sebagai laki laki, ingat masih ada nama Andrean yang terukir indah di lubuk hatinya.

“Mungkin ini hanya sebatas rasa nyaman,” pikirnya lagi.

Jangan munafik, semua orang akan merasakan kenyamanan meski tanpa hubungan sekalipun. Dan mungkin sekarang adalah waktunya untuk Ajeng bergelut dengan perasaan itu.

“Haha iya deh terserah lo,” ucap Nova pelan dengan mata yang kembali beralih ke buku miliknya.

Keempatnya belajar dengan tekun dan didampingi seorang lelaki tampan.

“Ah, belajar kali ini benar-benar bagus,” gumam Vania tersenyum karena melihat lelaki tampan didekatnya.

“Ternyata aku benar-benar pecinta cogan yah,” bisik Vania ke arah Jane yang kemudian ditanggapi tawa oleh yang lainnya.

“Haduh malu!” batinnya merutuk namun senyumnya masih tertera dengan jelas.

****

“Baru kali ini aku tau bahwa pelangi tak seindah dirimu.”

“Kak Andrean apaan, sih!” Ajeng menunduk malu mendengar godaan yang baru saja terlontar.

“Salting terooos,” kekeh Andrean berpindah tempat. Ia bergerak ke samping Ajeng yang kini tengah menatap pelangi yang baru saja tercipta.

Ajeng berbalik menghadap Andrean dengan senyuman yang masih terpancar.

“Gak mau becanda ah, nanti kakaknya ketawa terus aku nya jatuh cinta.” Ajeng mengulum senyum malu dengan ucapannya sendiri. Ia tengah menahan berbagai gejolak rasa setelah mengungkapkan godaan balasan untuk seseorang yang kini tengah bersamanya.

Andrean tertawa tanpa suara dengan kedua tangan yang terulur menyentuh pundak Ajeng pelan.

“Kamu jangan kaya Annabelle ya.”

“Emang Annabelle kenapa?” tanya Ajeng bingung.

“Udah jelek jahat lagi!” Andrean berucap sadis.

“Ugh sakitnya.” Ajeng memegang dada sebelah kiri seolah menggambarkan rasa sakit dihatinya.

“Bodoh! Hati tuh ini.” Andrean  memindahkan tangan Ajeng yang berada di dada kirinya kearah perut sebelah kanan sambil menatap manik mata Ajeng lekat.

“Huuu jantungku berdebar,” gumam Ajeng mengembalikan tangannya ketempat semula, dada sebelah kiri.

Andrean hanya tertawa lucu melihat tingkah sang gadis yang kelewat blak-blakan itu. Unik_pikirnya.

••••

“Em, kalo misalkan aku dapet nilai tinggi kakak mau kasih hadiah apa?”

“Gak mau kasih apa-apa,” jawab Andrean tegas dengan tatapan yang masih tertuju pada buku tebalnya.

“Kok gitu, sih?” Ajeng berucap jengah sembari menutup buku yang sedari tadi dibaca oleh pria itu.

“Hey!” Tangan Andrean terangkat menarik kedua bahu Ajeng agar menatap kearahnya.

“Kamu dapet nilai itu untuk diri kamu sendiri. Jadi kamu harus berusaha. Jangan karena ingin hadiah dari seseorang, ya?” Andrean menatap lekat iris mata cantik milik Ajeng. Ajeng hanya terdiam tak memberikan respon apapun.

“Okey, aku bakal kasih hadiah kalo kamu dapet nilai bagus,” putus Andrean pada akhirnya.

Ajeng tersenyum senang karena ia baru saja dijanjikan akan hadiahi oleh seseorang yang ia cintai itu.

“Satu kosong,” gumam Ajeng kecil menatap Andrean penuh kemenangan.

“Iya-iya, kamu yang menang.” Andrean mengangguk menyetujui segalanya. Tangannya terulur untuk mengambil kembali buku bacaan miliknya.

****

“Aku pulang!” Teriakan Ajeng menggema dalam ruangan. Ia berlari kearah orang tuanya setelah mengucapkan salam diambang pintu masuk.

“Gimana persiapannya buat besok?” tanya Tamara mempersilahkan Ajeng untuk duduk disampingnya.

“Alhamdulillah baik kok, ma.”

“Bagus, dong. Semangat anaknya papa!”

“Semangat juga anaknya mama!”

Ajeng hanya tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya itu. Hore aku dapet semangat dua kali sekaligus_batinnya berucap senang.

______________________________________

Ikut senenglah liat dia udah mendapatkan mimpinya selama ini;)

Jangan lupa vote dan comentnya juga❣️

Tragis [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang