Distance | 3.8

86.8K 4.3K 59
                                        

⚠️Warning : Mature Content⚠️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⚠️Warning : Mature Content⚠️

Happy reading!

"Kenapa tidak mengisi perut mu dengan apapun sejak tadi pagi?" tanya Aiden menatap Olivia tajam setelah dokter berlalu meninggalkan mereka berdua di kamar besar Aiden. Maag kekasihnya kambuh. Dan Aiden tidak pernah menyangkan bahwa maag yang di miliki Olivia cukup parah karena wanita itu sering melupakan makannya yang bisa berakibat fatal. Dan kini, itu terjadi lagi!

Olivia menatap wajah kekasihnya lama, "Aiden, itu bukan masalah besar." ucap Olivia menghela nafas panjang, Aiden menoleh kemudian menatapnya semakin tajam.

"Apanya yang bukan masalah besar? kau tidak makan seharian, lalu meminum alkohol, dan maagmu kambuh! Apa itu bukan masalah menurutmu?"

"Aku khawatir padamu, Olivia. Kenapa kau tidak bisa mengerti?" tanya Aiden menatapnya dengan raut wajah yang sulit di artikan. Pria itu terlihat kacau dengan kemejanya yang sudah terlihat berantakan dengan tiga kancing teratasnya yang terbuka. Sedangkan Olivia kini sudah menggunakan pajamas miliknya.

Olivia menarik tangan Aiden lembut kemudian mencium bibir pria itu beberapa kali dengan sayang. "Aku sudah baik-baik saja, Aiden. Jangan marah padaku, ya?" ucap Olivia menatap Aiden dengan tatapan sayunya.

"Jangan membuatku khawatir, Olivia. Demi Tuhan aku merasa gagal menjagamu." balas Aiden memeluk tubuh Olivia erat, mencium ceruk leher kekasihnya beberapa kali dengan lembut.

"Kau bau rokok. Aku tidak suka." ucap Olivia mendorong pelan tubuh Aiden menjauh dari tubuhnya. Pria itu terkekeh kemudian beranjak menuju bilik kamar mandi setelah mencium puncak kepala kekasihnya lembut.

Padahal Aiden hanya merokok dua batang tadi, tapi ternyata asap nikotin itu melekat sempurna di kemeja miliknya dan mengganggu indra penciuman Olivia.

"Mau aku keringkan?" tanya Olivia namun tangannya sudah bergerak lebih dulu mengambil handuk yang tadi di pegang Aiden kemudian mengusap rambut basah pria itu dengan lembut.

"Kau sudah merasa lebih baik 'kan?" tanya Aiden lagi sambil membawa tubuh Olivia ke atas ranjang dengan lembut. Menarik selimut sampai sebatas dada kemudian memeluk tubuh kekasihnya erat. Mendaratkan ciuman beberapa kali di pelipis Olivia.

Ia sangat khawatir tadi. Wajah kekasihnya sangat pucat, ditambah lagi tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Oh ya, jangan lupakan remasan Olivia di perutnya yang semakin membuat Aiden berasumsi aneh-aneh tadi.

"Don't worry, Aiden. I'm totally fine."

- - -

"Ingin memcari udara segar?" tanya Aiden menatap Olivia yang baru saja menyelesaikan sarapannya. Entah kenapa kekasihnya itu hanya diam sejak tadi jadi Aiden menyimpulkan Olivia ingin menghabiskan weekend mereka di luar.

"Tidak."

"Kau kenapa, sayang?" tanya Aiden lembut meraih tangan Olivia kemudian mencium punggung tangannya singkat.

"Kau melupakan janjimu." ucap Olivia berhasil membuat Aiden mengernyit bingung. "Janji soal ap—"

"Hannah." potong Olivia cepat

"Oh God. Jadi dia adalah alasan kau hanya diam sejak tadi?" tanya Aiden menatap Olivia dengan raut tidak percayanya. Wanita itu memutar bola matanya malas namun hanya diam tidak merespon apa yang di katakan kekasihnya, membiarkan Aiden menarik tangannya ke arah kamar pria itu.

Aiden menyalakan macbook miliknya kemudian mulai membuka aplikasi skype. Olivia masih diam. Ia hanya ingin Aiden menepati janjinya sendiri, bukannya justru—

"Ada apa, Aiden? Semuanya baik-baik saja?"

Olivia mengernyit mendengar suara Mrs. Deverson yang mulai terdengar dan wajah wanita itu di layar mac Aiden.

"Apa maksudmu?" tanya Olivia menatap Aiden dengan tatapan menuntut namun pria itu hanya mengidikkan bahunya acuh.

"Mommy sedang sibuk?" tanya Aiden tanpa mengindahkan pertanyaan Olivia

"Tidak, sayang. Ada apa?"

"Jelaskan soal kehamilan Hannah pada Olivia, Mom. Wanita itu kembali berulah, dia mengatakan yang tidak-tidak pada kekasihku." ujar Aiden enteng kemudian menggeser layar macnya agar menghadap ke arah Olivia.

Brianna tersenyum lembut menatap wajah bingung kekasih putranya itu. Olivia terlihat cantik sekali. Pantas saja putranya tergila-gila dengan putri tunggal Kennedy ini.

"Bagaimana kabarmu, sayang?"

Hampir satu jam mereka melakukan skype dengan Brianna yang tengah menjenguk Julian ke negara sebrang. Dan kini Olivia tengah memeluk tubuh Aiden di atas ranjang dengan erat.

"Aku malu." rengek Olivia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aiden. Tangan besar Aiden mengusap lembut surai panjang Olivia kemudian mencium pipi kekasihnya singkat.

"Tidak masalah, sayang. Jadi, mau menghabiskan weekend bersama?"

- - -

siapa nih yang nebak Oliv hamidun? tunda bentar yah moms🤣

ATELOPHOBIA PUBLISHED!
check it now

as you guys can see, aku sudah baca part 1 Atelophobia sebanyak 8 kali untuk revisi, dll

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

as you guys can see, aku sudah baca part 1 Atelophobia sebanyak 8 kali untuk revisi, dll. semoga tidak mengecewakan🥰

see you!💗

Distance [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang