17+
Warning : mature content | DILARANG KERAS MELAKUKAN PLAGIARISME‼️
[ Cerita diprivate, silahkan follow untuk membaca semua chapter ]
Olivia sudah menyukai Aiden sejak lama, diam-diam memperhatikan pria itu, juga diam-diam menyiapkan sarapan untuk...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⚠️Warning : Mature Content⚠️
Happy reading!
Aiden saat ini tengah menikmati hari terakhirnya berada di London setelah 3 tahun mengenyam pendidikan di kota ini. Tentu saja perayaan terakhirnya di London ia rayakan di sebuah club malam yang terkenal di London.
Jika saat SMA ia akan ke club bersama Carter, Logan, dan Benjamin. Maka kali ini ia pergi ke club bersama Bennedict, salah satu temannya di London.
"Lihat ke arah jam 2, wanita itu memperhatikanmu sejak tadi." ucap Bennedict menggoda Aiden yang justru sibuk dengan ponselnya, membalas pesan dari Olivia yang menumpuk dengan kesadarannya yang mulai berkurang karena pengaruh alkohol.
"Aku tidak tertarik." ucap Aiden tanpa mau menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh Bennedict tadi. "Dia ke arah sini, man!" ucap Bennedict seru kemudian beranjak meninggalkan Aiden. Memberikan kesempatan wanita dengan dress hitam seksi itu mendekati temannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kau sendirian?" tanya wanita itu mengusap lembut paha pria yang menarik perhatiannya sejak tadi. Begitu tampan dan panas di saat yang bersamaan.
"Tidak." jawab Aiden menatap wanita itu sebentar kemudian meneguk cairan bening miliknya, "Kau terlihat lelah, sekaligus panas." bisik wanita itu dengan berani menempelkan tubuhnya dengan tubuh tegap Aiden.
Aiden tersenyum miring dengan godaan wanita ini, kapan terakhir kali ada wanita yang menempel padanya seperti ini? ada sedikit perasaan bangga mengetahui kharismanya tidak luntur meski berada di negara orang lain.
Tubuh Aiden menegang ketika sesuatu yang kenyal dan basah menabrak bibirnya. Melumat dan menggigit bibir tebalnya dengan berani. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Aiden membalas ciuman wanita di hadapannya tak kalah panas.
Aiden memutus ciuman mereka, memberikan wanita itu waktu untuk sekedar menghirup oksigen. Jari lentik wanita itu mengusap lengan kekar Aiden dengan sensual kemudian kembali mendekatkan bibirnya ke arah telinga Aiden.
"Kau pria yang sangat panas. Harumi. Namaku Harumi."
Baru saja wanita bernama Harumi itu akan melanjutkan ciuman mereka, Aiden langsung mendorong tubuh wanita itu cepat hingga ia mundur beberapa langkah karena gerakan tiba-tiba Aiden.
Mata tajam Aiden menelusuri wajah wanita bernama Harumi itu dan tersentak beberapa detik. Melihat dari nama dan bentuk wajahnya Aiden berani bertaruh bahwa Harumi adalah seorang wanita Jepang.
Mengingat soal Jepang, Aiden jadi ingat soal kekasihnya Olivia yang tengah melanjutkan kuliahnya di Jepang. Dan dirinya justru berciuman dengan wanita lain dengan begitu mudahnya. Sialan.
"Why? kau tidak ingin melanjutkan yang tadi?" tanya Harumi menahan tangan Aiden yang akan beranjak meninggalkan club dengan wajah memerah, "Lupakan ciuman tadi." ucap Aiden tajam kemudian berjalan meninggalkan Harumi yang tersenyum miring menatap punggung lebarnya.
- - -
"Kenapa kau menyia-nyiakan wanita seperti Harumi, Aiden?"
Aiden menatap ke arah Bennedict dengan satu alis terangkat. Kenapa katanya? Bennedict sialan.
"Aku memiliki kekasih. Kau tau itu." jawab Aiden datar sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya dengan begitu lincah.
Hari ini ia akan meninggalkan London. Sudah cukup ia menghabiskan waktu selama tiga tahun di London demi pendidikannya. Saat ini ia sudah harus kembali menuju Los Angeles dan mempelajari bisnis langsung dengan Daddynya.
"Apa kau juga begitu di LA?" tanya Bennedict memutar roda kendali mobil yang tengah di kemudinya menuju bandara. Aiden mengernyit heran, "Maksudmu?"
"Menolak semua wanita karena kau memilih seorang kekasih. Apa aku benar?"
"Tentu saja. Aku mencintainya." jawab Aiden malas yang di balas kekehan pelan Bennedict. Tiga tahun ia mengenal Bennedict, hanya pandangan mereka soal komitmen yang berbeda. Sisanya selalu searah dan hal itulah yang membuat keduanya menjadi akrab dan dekat.
"Kenalkan wanita itu padaku nanti. Ia pasti sangat luar biasa karena berhasil membuatmu menolak wanita seperti Harumi."
Aiden kembali tersentak mendengar ucapan Bennedict namun tak urung mengangguk sambil tersenyum tipis. Kemarin malam ia tidak langsung menolak wanita bernama Harumi itu, dengan bodohnya ia bahkan membalas ciuman Harumi.
Semoga saja Olivia tidak mengetahuinya.
- - -
1 kata buat Aiden?
hampir kelupaan lanjutin part ini karena ada kerjaan banyak hari ini😅 jadi segini aja dulu ya teman-teman readers, hihi