17+
Warning : mature content | DILARANG KERAS MELAKUKAN PLAGIARISME‼️
[ Cerita diprivate, silahkan follow untuk membaca semua chapter ]
Olivia sudah menyukai Aiden sejak lama, diam-diam memperhatikan pria itu, juga diam-diam menyiapkan sarapan untuk...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⚠️Warning : Adult Content⚠️
Happy reading!
"Jangan membuat kakakmu marah, Julian." tegur Brianna pada putra bungsunya ketika melihat Aiden yang terlihat akan memukul adiknya sendiri karena terus-terusan menggoda Olivia dengan mulut manisnya itu.
"Apa Aiden tidak terlalu tua untukmu, Olivia? Jika kau mulai bosan dengannya cepat hubungi aku ya."
"Julian!" bentak Aiden menarik tangan kanan adiknya itu kasar hingga pria bernama Julian itu bangkit dari duduknya. Olivia menggigit bibir bawahnya takut ketika ruang makan justru menegangkan karena perkelahian putra Deverson ini.
"Julian hanya menggodamu, Aiden. Ia tidak benar-benar mengatakannya." ucap Olivia menarik lembut tangan Aiden hingga cengkraman pria itu pada Julian terlepas.
"Aku serius, Olivia." sela Julian menatapnya menggoda.
"Jangan membuat Daddy harus melempar mulut besarmu dengan gelas, Julian."
Ucapan tajam Matthew barusan berhasil membuat Julian mengatupkan bibirnya tanpa mengatakan apa-apa, namun tatapan pria itu terlihat masih menggoda Aiden dengan cara menatap nakal ke arah Olivia yang menunduk dalam karena merasa malu.
"Maaf sudah karena makan malam kita sedikit berantakan, Olivia." Brianna menyentuh punggung tangan Olivia dengan senyum tak enak yang terlihat di wajah cantiknya,
"Itu bukan masalah, Mrs. Deverson." ucap Olivia tersenyum menenangkan.
Kali ini hanya dentingan sendok yang terdengar di ruang makan keluarga Deverson, sepertinya Ayah Aiden memang sangat di segani di rumah ini. Pria satu tahun di bawah Olivia itu juga saat ini sudah berhenti menggodanya.
"Kenapa kalian tidak menginap saja?" tanya Brianna masih tidak mau melepaskan Olivia yang kini berada di pelukannya, Aiden memutar bola matanya malas melihat tingkah kekanak-kanakan Mommynya saat ini.
"Dad,"
Sambil menggeleng pelan Matthew menarik tubuh Brianna lembut agar melepaskan Olivia, diam-diam wanita itu tersenyum melihat tingkah Matthew yang terlihat sangat menyayangi Brianna. Daddynya sangat jarang memamerkan adegan seperti itu di rumah. Terlalu gengsi.
"Jangan lupakan rumahmu, Aiden." ucap Matthew menatap putranya dengan tatapan memperingati. Putra sulungnya itu sering kali terlalu lama tinggal diapartmentnya tanpa mengunjungi rumahnya sendiri, berhasil membuat Brianna cemas dan justru merecoki Matthew dikantornya.
"Lain kali kalian harus menginap." ucap Brianna final pada Aiden yang baru saja menutup pintu mobilnya, "Soon, Mommy."
Dengan wajah memanas Olivia balas tersenyum ke arah Brianna yang melambaikan tangan semangat ke arah dirinya dan Aiden yang kini telah meninggalkan mansion mewah Deverson.
"Keluargamu sangat lucu."
Aiden mengernyit ke arah Olivia, "Kau juga mengatakan Julian lucu?"
Usai menghela nafas panjang Olivia menatap Aiden dengan tatapan lembutnya yang terlihat lelah, "Julian hanya menggodamu, Aiden. Demi Tuhan."
"Dia selalu menggoda wanitaku."
Olivia terdiam mendengar ucapan Aiden barusan, apa pria itu sadar bahwa ia baru saja mengatakan bahwa dirinya memiliki banyak wanita selain Olivia? Entahlah. Mungkin hanya Olivia yang menganggap hubungan mereka itu bukan main-main.
- - -
Aiden menguap sambil melempar kunci mobil miliknya sembarangan. Jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul 3 pagi sangat kecil kemungkinan ia akan datang ke sekolah tepat waktu jika ia memilih untuk tidur sekarang.
Dengan langkah gontai pria itu berjalan ke arah balcony kamarnya dengan sebungkus rokok yang siap ia nyalakan. Aiden tersenyum miring mengingat hadiah balap yang ia menangkan tadi akan ada di basemant apartmentnya sebelum matahari terbit nanti.
Bukannya tak mampu membeli sebuah mobil, ia tidak memiliki masalah sedikitpun soal uang. Hanya saja mendapatkan sesuatu sebagai sebuah hadiah atas kemenangan terasa lebih membanggakan menurutnya.
Entah berapa kali ia memenangkan permainan pada ponselnya, yang pasti saat ini matahari sudah menjulang tinggi. Dengan malas Aiden beranjak ke arah kamar mandi dan bergegas menuju sekolahnya dengan cepat.
Matanya sedikit perih karena tak tidur dan kepalanya sedikit berkunang-kunang saat ini. Balapan sialan. Untung Aiden muncul sebagai pemenang, jika tidak Olivia pasti sudah menjadi milik Dylan saat ini.
- - -
Beberapa hari ini sibuk sekali dengan urusan pribadi irl, jadi baru bisa publish sekarang setelah revisi beberapa kali. fuft.
Semoga kalian suka & sadar dengan kode yang tulis dipart ini tentang isi dipart selanjutnya😁
65+ votes and comment for the next part. see you!💗