Distance | 0.9

109K 5.4K 12
                                        

⚠️Warning : Adult Content⚠️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⚠️Warning : Adult Content⚠️

Happy reading!

"Kenapa tidak ke kantin?"

Olivia mengangkat kepalanya menatap ke arah Aiden yang sudah berada di hadapannya saat ini, wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Dan benar saja, hampir semua teman-teman sekelasnya mencuri-curi pandangan ke arah mereka.

"Tidak lapar." Aiden mengenyit mendengar ucapan Olivia kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya, "Ada masalah?" tanya pria itu mengelus pipi Olivia lembut.

Olivia menggeleng pelan kemudian kembali menyenderkan kepalanya pada bahu tegap Aiden dengan kedua mata terpejam, pria itu menatapnya selama beberapa detik kemudian menyibukkan diri dengan ponselnya.

"Pesanan mu, bos." kata Carter sinis meletakkan sekotak sandwich di hadapan Aiden kemudian menarik kursi dan duduk di hadapan keduanya. Sedangkan Aiden saat ini sibuk menyiapkan sandwich dan memberikannya pada Olivia,

"Kau tau aku tidak lapar 'kan?" ucap Olivia memutar bola matanya malas, "Aku tidak menerima penolakan." ucap Aiden keras kepala.

"Besok aku ada pertandingan basket, kau bisa datang?" tanya Aiden mengelus pipi Olivia lembut yang berhasil membuat Carter mencibir tingkahnya yang menurutnya lebay. Sangat bukan Aiden sekali. Apa kali ini Aiden serius dengan Olivia?

Olivia mengangguk singkat dengan mulut terisi penuh sandwich, "Tapi aku tidak bisa menjemput mu besok, apa tidak masalah?" Olivia terkekeh pelan kemudian menatap Aiden geli, "Jangan berlebihan, Aiden. Aku akan datang besok bersama Natalie dan Lily, okay?"

"Sahabat ku mengkhawatirkan mu, Olivia." ucap Carter menggoda Aiden yang menatapnya tajam, "Datang sebelum pertandingan di mulai, aku membutuhkan mu sebelum bertanding." bisik Aiden mencium sudut bibir Olivia singkat kemudian berlalu dari hadapan wanita itu dengan Carter yang mengekorinya.

Olivia menatap punggung tegap Aiden yang menghilang di balik pintu kelasnya dengan wajah memanas salah tingkah, Aiden sialan. Bahkan kini beberapa temannya mulai menatapnya dengan tatapan menggoda.

"Lily, sepertinya kita melewatkan sesuatu." ucap Natalie yang baru saja tiba sambil tersenyum miring ke arah Olivia, Lily balik menatapnya dengan mata memicing. "Jadi kau menolak ke kantin karena tau Aiden akan datang, hm?"

"Dasar bodoh." ucap Olivia kemudian beranjak meninggalkan kedua sahabatnya menuju toilet. Mengabaikan tawa keras Natalie dan Lily yang mengolok-ngolok dirinya yang terlihat salah tingkah.

Olivia menatap ke arah lapangan basket selama beberapa detik ketika matanya melihat Aiden yang tengah berlatih basket dengan teman-temannya di bawah terik matahari. Bahkan pria itu masih menggunakan seragam miliknya.

"Jadi kau kekasih baru Aiden?"

Olivia menatap ke arah cermin di hadapannya, menatap wanita yang baru saja mengatakan hal tadi entah dengan siapa. Tapi hanya ada dirinya dan wanita itu disini, jadi ia berbicara pada Olivia?

"Aku berbicara pada mu, Olivia Kennedy." ucap wanita itu tersenyum miring,

"Lalu?" tanya Olivia menaikkan satu alisnya, menantang. "Aku tidak akan melabrak mu seperti yang sudah-sudah. Aku hanya ingin mengingatkan mu, jangan lupakan pijakan mu saat ini."

Jadi, sebelumnya wanita ini selalu melabrak wanita yang dekat dengan Aiden? kasihan sekali, kehidupannya sudah seperti tokoh antagonis dalam novel.

Dan Olivia seperti seorang tuan putri yang tengah menghadapi seorang nenek sihir sekarang. Wanita yang entah siapa namanya itu terus tersenyum lebar ke arahnya kemudian berlalu begitu saja.

- - -

"Kau sangat lama, Lily." ucap Natalie kesal pada Lily yang baru saja masuk ke dalam mobil Olivia.

Harusnya mereka bertiga, khususnya Olivia dan Natalie, sudah berada di tempat pertandingan basket sejak satu jam yang lalu karena berniat menyemangati Benjamin dan Aiden. Tapi karena Lily yang sangat lama bersiap-siap malah membuat mereka terlambat.

"Ayolah, Nat. Pertandingan kekasih mu belum berakhir." ucap Lily membela dirinya kemudian sibuk memoles bibir penuhnya dengan lipstick.

Olivia menghela nafas panjang kemudian melajukan mobil milik Natalie dengen kecepatan penuh hingga kedua temannya berteriak heboh.

"Olivia! Jangan gila! Turunkan kecepatannya, sialan!" pekik Lily yang bahkan belum menggunakan seat-beltnya.

"Kita sudah sangat terlambat karena ulah mu, Lily." ucap Olivia datar tanpa mengindahkan ucapan Lily barusan. Sedangkan Natalie sibuk berteriak heboh sambil sesekali tertawa menikmati laju mobilnya yang sangat kencang.

Hanya butuh waktu 10 menit untuk Olivia membuat dirinya sampai di tempat pertandingan. Dari parkiran saja mereka sudah dapat mendengar teriakan heboh penonton.

Entah karena pertandingan yang tengah berlangsung atau pertandingan yang sudah di menangkan oleh salah satu tim.

Olivia mengumpat pelan ketika opsi kedua justru menjadi kenyataannya saat ini. Baru sebentar saja ia tidak berada di sebelah Aiden, lintah darat sudah menempel pada pria itu.

Aiden nampak tampan dengan peluh bercucuran di wajahnya, pria itu sibuk meneguk air mineral miliknya sedangkan lintah darat itu sibuk menyeka keringat Aiden tanpa tau malu.

"Semua salah Lily, Ben." ucap Natalie mengadu pada Benjamin yang baru saja menghampiri mereka dengan sebuah medali yang menggantung di lehernya. Lily mendelik mendengarnya namun memilih diam saja.

"Selamat, Ben." ucap Lily datar yang di balas jawaban jutek pria itu. Benjamin lebih memilih bermanja-manja pada Natalie saat ini dari pada menjawab ucapan selamat dari penyebab keterlambatan kekasihnya. Ya, kekasihnya.

"Kau tidak berniat menghampiri Aiden?" tanya Benjamin menatap ke arah Olivia yang justru sibuk dengan ponselnya. Beberapa menit setelah mengatakan hal itu, Aiden ternyata langsung berjalan dengan langkah lebar menghampiri Olivia.

"Ini pertandingan terakhir ku, Olivia. Kenapa tidak menontonnya?"

- - -

Gimana part ini?

50+ votes for the next chapter
see you! 💗

Distance [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang