9

269 23 9
                                    

Setelah puas memandang kepergian Langit, akhirnya Qila memutuskan untuk mencari angkot tapi sedari tadi angkot yang melintas dihadapannya penuh. Cukup lama ia hanya berdiri sambil memainkan ponselnya, sesekali ia gerakan kakinya karena pegal.

"Hai Aqila," tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri dirinya, Qila melirik ke arah lengan kiri lelaki itu dan ternyata dia kelas XII. Qila pusatkan perhatiannya pada wajah lelaki yang tiba-tiba menyapanya ini, ia merasa tak asing. Setelah cukup lama akhirnya ia menemukan jawabnnya! Kalian ingat saat Qila dihampiri oleh lelaki asing saat dia ikut sunmori bersama Langit? Ya dia orangnya.

"Eh iya ka," ucap Qila sambil menatap lelaki itu was-was. Bagaimana tidak? Lelaki ini berpenampilan tak seperti siswa pada umumnya. Seragam yang terbuka dan sedikit menguning menampilkan kaos hitam polos yang digunakannya, celana abu-abu nya sangat ketat membuat lekukan kaki nya sangat terlihat, terdapat beberapa gelang hitam yang berada di tangan kirinya, kalung hitam dengan gantungan seperti tengkorak ditambah dengan rambutnya yang acak-acakan membuat Qila harus hati-hati.

Langit dan kawan-kawannya pun badboy tapi mereka bersih, dan tidak seperti ini. Ya walaupun mereka juga terkadang membuka kancing seragam mereka dan rambut yang acak-acakan. Tapi rasanya beda.

"Qil pulang bareng gue yu," ajak lelaki itu membuat Qila tambah risih.

"Gue lagi nunggu angkot ka," jawab Qila secara tak langsung menolak lelaki itu.

"Oh iya kenalin gue Athaya," ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.

"Qila," ucapnya sambil menerima uluran tangan itu dengan rasa ragu yang menyelimutinya.

"Udah kenalannya ?" sontak mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah kanan Qila, Arash Rafardhan dengan wajah datarnya menatap ke arah Athaya.

"Ayo Qil," karena tak ada jawaban akhirnya Arash mengajak Qila entah kemana, Qila tak mempedulikan itu yang penting ia tak berhadapan dengan orang yang bernama Athaya itu. Karena jujur ia sedikit takut.

"Gausah takut, naik" ucap Arash lalu ia menaiki motor besar miliknya. Qila lagi-lagi menatap Arash dengan mata yang menyipit, ia bingung kenapa Arash selalu tahu apa yang ada di otak cantik miliknya.

"Cepetan," ucap Arash. Qila menggeleng.

"Gue naik angkot aja, tapi tunggu ka Athaya pergi," tolak Qila dengan cengiran khasnya.

"Yaudah," ucap Arash lalu pergi meninggalkan Qila yang melongo.

"Cowo hobinya ninggalin ya?" gumam Qila.

***

Matahari menyambut Selasa dengan enggan, terbukti karena sinarnya tak nampak sedari tadi membuat pagi ini bersuasana dingin. Pagi-pagi bercuaca seperti ini memang membuat siswa-siswi mengantuk pada jam pelajaran pertama. Bagaimana tidak ? Angin sepoi-sepoi menemani kelas XI Ipa 2 ditambah mereka sedang belajar sejarah, membuat suasana siswa-siswi mati-matian menahan agar kelopak matanya tak tertutup.

Setelah 3 jam pembelajaran berlangsung, akhirnya jam istirahat berbunyi nyaring membuat guru yang sedang mengajar mau tak mau harus mengakhiri pembelajaran, murid-murid pun girang karena perut mereka sudah berontak ingin diisi.

"Mau beli apa? Biar gue yang pesen," ucap Qila saat mereka berdua sampai di kantin.

"Batagor sama nutrisari, gue disitu" tunjuk Mika pada meja kantin yang terletak di sebelah meja anak-anak Nostra karena hanya itu yang kosong, Qila pun mengangguk dan segera berlalu untuk memesan batagor sama seperti Mika.

"Pa batagor dua yang satu jangan pake pedes yang satu pedesnya banyak," ucap Qila ramah.

"Jangan pa, jangan pake pedes dua-duanya," tiba-tiba Langit merangkul Qila membuat gadis itu terlonjak kaget.

LANGIT [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang