[14]: Dinner

3.8K 337 3
                                        

Aldo mengacak-acak rambutnya yang mulai panjang, tidak mengerti bagaimana bisa dia mencintai dua orang di saat bersamaan. Mengetahui fakta bahwa Tyara mencintainya sungguh menyenangkan, melegakan, dan menimbulkan sensasi aneh. Kenapa begitu? Apa yang salah?

Dan, kenapa pula semakin ia meyakinkan dirinya bahwa ia mencintai Tyara malah semakin ragu akan perasaannya. Tapi, apabila ia harus mencintai Tyara, apa ia sanggup meninggalkan Rara?

Mengapa semua ini membingungkannya? Bukankan selama ini ia menunggu jawaban atas perasaan Tyara? Apakah gadis itu mencintainya atau tidak?

Aldo menjatuhkan badannya ke kasur dan menutup matanya perlahan, mencoba untuk tidur. Namun beberapa saat kemudia Aldo bangkit dari posisinya dan berjalan mengellingi kamar. Matanya tertumbuk pada tulisan nama Nathan di buku harian Tyara.

Jika ia tidak peduli pada Tyara, mengapa ia sangat membenci kenyataan bahwa Nathan pernah mengisi masa indah Tyara? Dan seharunya, dia tidak perlu merasa penasaran akan hubungan Tyara dan Nathan, bukan?

*****

"Ty, temenin gue ke gala dinner, ya?"

Tyara menoleh ke arah Faris yang sedang sedang asik bermain puzzle dengannya di ruang tamu.

"Males ah, capek."

Kemudian Tyara melanjutkan kegiatannya, mencari kepingan puzzle yang tepat untuk mengisi kekosongan di beberapa tempat. Bermain puzzle memang menjadi hobi Tyara sejak kecil.

Faris hanya diam mendengar jawaban Tyara.

"Semalem lo pasti begadang lagi," kalem cenderung cuek, namun membuat kegiatan Tyara terhenti.

"Enggak kok, normal." Tyara mencoba menutupi kegugupannya.

Faris menoleh ke arah Tyara, "Lo tuh nggak akan pernah bisa boong sama gue, Natyara."

Tyara hanya diam, tidak memiliki argumen untuk membantah perkataan Faris. Sejenak Faris menatap bawah mata Tyara, sembab.

"Lo kan selalu punya gue, Ty, jangan disimpen semuanya sendiri." Ucap Faris khawatir sambil mengusap lembut bawah mata Tyara.

"Gue mikirin perkataan lo kemaren, dan gue juga kangen banget sama Nathan," Tyara melupakan puzzlenya dan menyenderkan badannya di bagian depan sofa. "Gue kangen banget sama Nathan, udah sepuluh tahun tapi nggak ada yang berubah. Gue penasaran, pengen ketemu dia, meluk dia."

Dengan lembut Faris merebahkan kepala Tyara di pundaknya. "Mending temenin gue dinner, sekalian lo cuci mata. Lumayan buat ngebantu lo ngobatin luka"

"Tapi jangan deng, nanti lo kenapa-napa lagi." Lanjut Faris dengan tenang.

Tyara mencubit pelan perut Faris dan tertawa setelahnya.

"Gue temenin, deh, sekalian makan gratis. Gue ganti baju dulu ya," dan Tyara berlalu ke kamarnya setelah itu.

"Ty! Jangan lupa obatnya di pake!"

Tyara tersenyum, mungkin dia tidak memiliki kekasih seperti perempuan lain di umurnya, tapi ia selalu memiliki sahabat seperti Faris yang selalu ada dan perhatian kepadanya.

>>>><<<<

Tyara turun dari mobil Faris dengan anggun. Hanya dibalut night dress berwarna putih gading dan rambut yang sanggul berantakan dengan menyisakan beberapa helai rambut yang membingkai wajahnya, namun Tyara mampu membuat semua orang menoleh dan terpesona.

"Lo nggak mau ngegandeng gue nih?"

Tyara menoleh ke arah Faris dan terkekeh. Namun setelahnya ia mengapit lengan Faris dan berjalan di samping Faris.

ElegyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang