Chapter 38 : Akankah?

5K 794 238
                                        

Play Mulmed(Davichi - Please Don't Cry)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Play Mulmed
(Davichi - Please Don't Cry)


Semoga bab ini ngefeel :(

...

"Tangan yang satunya!" titah Jennie pada Taehyung.

Pria Kim itu tersenyum dan mengulurkan tangannya yang lain ke hadapan Jennie dan membiarkan sang istri memotong kukunya yang memang mulai memanjang. Wanita itu dengan telaten melakukan pekerjaan kecilnya ini. Taehyung bukan tipikal pria yang mudah untuk meluangkan waktu hanya untuk memotong kuku, hingga kini akhirnya Jennie yang memang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri yang baik dan penuh kesabaran ini diharuskan untuk mengurus suaminya yang sudah seperti bayi beruang yang manja.

"Tae, hari ini aku pergi menemui teman lamaku, ya?" tanya Jennie meminta izin dengan mata yang menatap fokus pada kuku-kuku Taehyung yang bentuknya agak lonjong. Jennie bertanya-tanya, apa Taehyung memang ditakdirkan tampak sempurna? Bahkan bagian terkecil seperti kukunya pun tampak sangat bagus. Jika Taehyung adalah wanita, sudah pasti kuku-kuku itu akan tampak semakin cantik setelah dipoles dengan kuteks.

Taehyung menatap Jennie heran dan bertanya, "Memangnya tidak masuk kerja?" Lalu Jennie menjawabnya dengan menggeleng pelan sambil membersihkan sisi-sisi kuku jempolnya. Tersenyum kecil, tangan Taehyung yang satu perlahan bergerak mengelus surai Jennie dengan amat lembut. "Kabari aku saat pulang. Aku akan menjemputmu. Oke?"





----





Jennie tersenyum cerah pada sosok wanita cantik yang melambai padanya dari kejauhan seiring dengan langkah yang wanita itu ambil menuju ke arahnya. Ah, Jennie masih saja benar-benar dibuat terkagum pada pesona kecantikan milik wanita itu. Setibanya ia di hadapan Jennie, mereka saling mencium pipi kanan dan kiri bergantian lalu tertawa bersama.

"Akhirnya kita punya kesempatan untuk bertemu lagi. Bagaimana kabarmu?" tanya wanita itu dengan ramah.

Jennie tertawa pelan dan menggandeng lengan teman lamanya itu sambil mengambil langkah. "Baik," ujar Jennie dengan senyum merekah sempurna. "Kau tampak semakin cantik, Irene. Pesonamu semakin lama semakin parah."

"Aku tahu," ujar wanita bernama Irene itu mengundang tawa mereka.

Beberapa orang khususnya kaum adam tampak menoleh saat melihat dua wanita dewasa cantik itu berjalan bersisian. Keduanya terlihat jelas seperti wanita-wanita sosialita yang bersahabat sejak lama. Menempuh jarak yang tidak terlalu jauh, mereka akhirnya memasuki salah satu kafe dan mendudukkan diri sana. Setelah memesan minuman masing-masing, kedua wanita cantik itu saling berpandangan cukup lama hingga akhirnya tertawa tanpa sebab.

"Kau tampak semakin cantik setelah menikah. Kutebak, suamimu pasti banyak memberimu kebahagiaan," ujar Irene penuh semangat. "Maaf karena tidak datang ke pesta pernikahanmu, Jen. Waktu itu aku sedang berada di luar negeri."

Something Wonderful | Complete (✔) [TELAH DINOVELKAN & TERSEDIA VERSI PDF]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang