[Trailer Tersedia | Baku]
-Taennie-
Kim Taehyung dan Jennie Kim adalah dua orang berbeda gender yang dipersatukan oleh kata perjodohan yang direncanakan oleh kedua orangtua mereka. Didorong keinginan untuk membahagiakan kedua orangtua, mereka akhir...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
....
Ponsel di dalam tas Jennie berdering dan memecah keheningan yang sempat mengisi ruangan itu. Dengan segera Jennie mengambil benda pipih itu dari dalam sana dan mengangkat panggilan itu ketika melihat bahwa yang meneleponnya adalah Rose.
"Ah-Rose, aku baru saja akan kembali. Mungkin sekitar lima belas menit lagi sampai."
Jennie membuka pintu ruangan Taehyung. Dan ketika ia hendak keluar, Jennie memberi gerakan bibir yang mengatakan 'Aku harus pergi sekarang' kepada Taehyung. Dan Taehyung tidak dapat menanggapi hal lain selain membiarkan Jennie pergi. Meninggalkannya sendiri di ruang kerjanya dengan segala rasa penasarannya mengenai Jennie dan Jaehyung.
Jika diberi pilihan antara menerima atau diterima, Taehyung akan selalu memilih menerima. Kenyataan bahwa Jennie tampak menghindari pertanyaannya membuatnya mau tidak mau akhirnya mempercayai ucapan Jaehyung. Tapi kembali pada prinsipnya, Taehyung menerima kenyataan tersebut. Ia paham sekali bahwa setiap orang pasti punya masa lalu. Karena nyatanya, dirinya sendiri pun demikian.
Tak masalah jika harus mengalah dan menerima apa yang orang lain inginkan. Karena semuanya juga untuk kelancaran masa yang menanti di depan.
----
Sesampainya di rumah sakit, Jennie berjalan begitu terburu-buru. Ia telat beberapa menit dikarenakan jalanan yang dilaluinya dengan taksi mengalami sedikit kemacetan akibat kecelakaan lalu lintas di persimpangan jalan. Ketika dirinya berbelok di ujung lorong, tanpa sengaja Jennie menabrak orang lain hingga membuat barang yang orang itu bawa jatuh ke lantai.
"Astaga, maafkan aku." Jennie buru-buru menunduk dan membantu orang itu menyusun kembali barang-barang yang berserakan di lantai. Ketika Jennie menyerahkan barang-barang itu, baru lah Jennie tahu bahwa orang yang tidak sengaja ditabrak olehnya adalah seorang wanita. "Sekali lagi maafkan aku, nona." Jennie membungkuk dengan sopan serta wajah bersalah.
"Ah, tidak apa-apa. Kau terlihat begitu terburu-buru, aku bisa memakluminya." Wanita itu menyahut tenang disertai senyum maklum. "Aku harus segera membawa ini semua ke ruangan dokter bedah. Aku permisi dulu, nona." Setelahnya wanita itu pergi dari hadapan Jennie setelah menyunggingkan senyum serta mengangguk sopan.
Sesaat Jennie hanya mampu tertegun, wanita itu cantik sekali. Ketika Jennie hendak melanjutkan langkahnya, ia menyempatkan diri menoleh ke arah wanita tadi. Namun mendadak ia mengerutkan alisnya, punggung wanita itu tampak tidak asing.
"Jennie? Kenapa masih di sini? Pasienmu sudah menunggu di ruang terapi." Suara Chanyeol tiba-tiba membuyarkan pemikiran Jennie.
Jennie mengangguk sekilas sebelum meringis. "Aku telat karena terjebak macet. Aku pergi dulu, Chanyeol-ah." Pamit Jennie sebelum berlalu dari hadapan Chanyeol dengan langkah cepat.
Ketika Jennie tiba di ruang terapi, Jennie menemukan Rose dan Nayeon yang tengah berbincang dengan pasiennya yang bernama Oh Sehun, salah satu model kelas atas yang terjatuh dari tangga rumahnya hingga terjadi pergeseran pada tempurung lututnya. Melihat Jennie sudah datang, Rose dan Nayeon lantas undur diri untuk mengurus pasien lain.
Setibanya di hadapan Sehun, Jennie membungkuk sopan. "Maaf aku terlambat, Sehun-ssi." Jennie buru-buru meminta maaf meski napasnya sendiri masih belum teratur.
Menanggapi ucapan dokter terapisnya itu, Sehun hanya mengangguk maklum. "Tidak apa-apa, Jennie-ssi. Oh iya, aku dengar dari rekanmu kau sudah menikah. Selamat untuk pernikahanmu, Jennie-ssi." Sehun mengulas senyum menawan pada wajah tampannya.
"Terima kasih, Sehun-ssi." Jennie mengangguk dengan sedikit salah tingkah. Padahal jika Sehun belum tahu, 'kan Jennie jadi bisa sedikit mencuri-curi kesempatan untuk dekat dengannya.
Eh? Apa-apaan aku ini? Sudah bersuami masih saja genit! Batin Jennie menyesali pemikirannya sendiri.
"Apa kita sudah bisa memulai terapinya?" tanya Jennie yang diberi respon anggukan mantap oleh Sehun. "Kalau begitu, kita mulai dari meluruskan kakimu terlebih dahulu, ya?"
Jennie membantu Sehun untuk meluruskan kakinya dengan pelan dan begitu hati-hati. Ia melakukan pekerjaan dengan profesional meski pikirannya benar-benar terganggu akibat pertanyaan Taehyung.
Apa ia mengenal Park Jaehyung? Jawabannya adalah, tentu saja.
----
Dering ponsel dari atas meja kerjanya membuat Jennie yang tengah merapikan rambutnya di cermin lantas menoleh.
"Nayeon-ah, bisa tolong angkat teleponnya? Nyalakan loudspeaker saja," pintanya pada Nayeon. Jaraknya memang cukup jauh untuk menjangkau benda itu, jadi ia meminta Nayeon yang berada lebih dekat untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.
Nayeon mengangguk samar dan mengangkat telepon itu. "Yeob-"
"Sayang, aku sudah selesai menandatangani proposal kantor. Apa aku sudah bisa ke sana?" Suara berat namun terkesan lembut Taehyung mampu membuat Nayeon menggigit bibirnya sendiri. Terlalu manis dan dia tidak sanggup.
Jennie cukup kaget dengan Taehyung barusan. Sayang? Wah, pria itu benar-benar luar biasa dalam bidang membuat jantung wanita berpacu dengan cepat! Dengan salah tingkah, Jennie segera menuju Nayeon dan mengambil alih ponselnya.
"Aku juga sudah selesai. Datang saja, aku akan turun dan menemuimu di bawah." Jennie berucap sembari hendak mematikan loudspeaker panggilan itu. Namun ia segera saja diberi tatapan mata tajam disertai dengan ancaman oleh Nayeon. Wanita sensi satu itu memang gemar sekali mendengar percakapan manis.
"Teman-temanmu bagaimana? Bersama kita kan? Kurasa mobil kita cukup untuk pergi bersama dengan mereka," ucap Taehyung dari seberang sana.
Alhasil, Jennie menatap satu persatu rekan kerjanya untuk bertanya. "Kalian ingin kita pergi bersama? Taehyung bawa mobil."
Kyungsoo menggeleng sebagai jawaban. "Aku juga bawa mobil." Kemudian pria itu menatap yang lainnya. "Kalian? Mau bersama Jennie?"
Chanyeol juga menggeleng. "Aku dan Rose naik motor. Iya kan Rose?" Pria itu menatap Rose yang mengangguk sambil meringis kecil ke arah Nayeon. Merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan wanita itu.
"Lalu aku dengan siapa?" Nayeon bertanya dengan wajah cemberut. "Kyungsoo-ssi, aku bersamamu ya?"pintanya dengan wajah memelas.
"Enak saja! Kau kan bisa dengan Jennie dan Taehyung." Tolak Kyungsoo dengan wajah sewot. Seenaknya saja menumpang setelah tadi siang adu mulut. Memangnya Kyungsoo pria gampangan apa?
Mendecakkan lidah sebagai bentuk kekesalan, Nayeon memalingkan wajahnya dan segera menatap kertas yang sebelumnya ia susun tanpa mengatakan apa pun lagi. Jika sudah begini, semuanya tahu benar bahwa wanita itu pasti merajuk. Dan mengesalkannya, Kyungsoo tidak pernah tega membiarkan Nayeon berlama-lama merajuk.
"Ya sudah iya-iya. Kau denganku saja, dasar tukang merajuk!" Ucap Kyungsoo disertai dengusan sebal ketika Nayeon mendadak tersenyum secerah matahari pagi. Benar-benar tersenyum lebar, sudah seperti memenangkan lotre satu milyar ketika dilanda bangkrut.
"Taehyung, apa kau masih mendengarku?" Jennie bertanya pelan ketika akhirnya perseteruan berakhir.
"Tentu. Aku bahkan mendengar semuanya," jawab Taehyung. "Jadi mereka akan pergi masing-masing kan? Baiklah, kalau begitu aku akan segera menjemputmu."
Jennie mengangguk sekilas sebelum akhirnya panggilan tersebut berakhir. Setelahnya, kelima dokter terapis tersebut segera menyusun barang mereka untuk segera makan malam bersama. Hari ini mereka sudah lelah dan butuh asupan nutrisi.
---tbc
Aku di sekolah lagi banyak kesibukan. Jadi kesempatan buat nulis bab barunya ga ada. Maaf banget aku udah jarang update :(