Chapter 11 : Kebersamaan

6.9K 878 42
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

....

"Kau tidak kedinginan?" tanya Taehyung perhatian.

"Sedikit," Jennie menjawab pelan.

Mendengar jawaban Jennie, Taehyung lantas mengeratkan genggamannya pada tangan wanita itu. "Begini lebih hangat?" tanyanya. Ia mencubit puncak hidung Jennie dengan gemas ketika Jennie menunjukkan cengirannya seraya mengangguk.

Langit malam kota Seoul kali ini cukup bersih, tidak begitu banyak kadar debu halus yang memenuhi udara. Suasananya seolah mendukung sepasang suami-istri Kim yang tengah duduk menikmati udara malam dengan saling bergandengan tangan sambil menyusuri jalan di pinggir sungai Han. Sepulang dari acara makan malam bersama dengan rekan Jennie, Taehyung mengajak Jennie untuk menikmati malam sebelum kembali ke rumah.

Selang beberapa menit, Taehyung menarik Jennie dengan lembut menuju salah satu bangku yang ada di sana. Mereka duduk dalam keheningan hingga akhirnya Taehyung mencoba memecah keheningan lebih dulu.

"Jen, boleh aku menyampaikan sesuatu?" tanyanya dengan suara cukup pelan.

Jennie yang sebelumnya menatap hamparan air sungai lantas menoleh dengan raut penasaran. Baru kali ini ia mendengar Taehyung berbicara dengan nada seserius ini selain saat pernikahan mereka. Merasa bahwa pria di sampingnya kini tampak tidak bercanda, Jennie mengangguk pelan.

"Aku merasa bahwa kita belum mengenal begitu dekat satu sama lain. Ada rasa yang sedikit mengganjal ketika aku mengingat hal ini." Taehyung menjeda kalimatnya dan menatap intens sosok Jennie.

Tatapan mereka bertemu, Taehyung dapat melihat jelas sang istri yang tampak tetap cantik meski hanya dengan cahaya yang tidak begitu terang. Sejak awal Taehyung sudah tahu bahwa Jennie adalah wanita yang cantik, dan ia sama sekali tidak menyangkal perasaannya.

"Apa kau keberatan jika kita saling terbuka sama lain?" Taehyung melanjutkan perkataannya dengan pertanyaan yang sukses membuat Jennie termenung.

Batin Jennie bertanya-tanya, apa Taehyung masih ingin membahas mengenai Park Jaehyung?

Sejenak Jennie hanya mampu memalingkan wajahnya dan menunduk. "Aku tidak keberatan," sahut Jennie pelan. Ada secuil rasa gugup yang menyambanginya.

Taehyung itu pandai membaca situasi, ia bisa dengan mudah menyadari bahwa Jennie tampak tidak nyaman dengan pembahasan mereka sekarang. Wanita itu tampak sedikit gelisah, dan Taehyung yakin bahwa ucapan Jennie hanyalah bualan semata. Jennie tidak ingin terbuka padanya, wanita itu dilanda keraguan.

"Park Jaehyung itu mantan kekasihmu, ya?" Taehyung mencoba bertanya meski nada bicara sudah terkesan lebih santai. Bagaimana pun, mereka harus membicarakan ini. Taehyung pikir ia bisa menerima kenyataan itu dari Jaehyung, tapi nyatanya ia merasa resah jika Jennie tidak mengatakan langsung dari bibirnya.

Menghela napas sejenak, Jennie mengangguk sebagai jawaban, "Dia sempat menjadi seniorku dulu selama beberapa bulan sebelum di pindah ke Amerika."

Mengangguk-ngangguk tanda paham, Taehyung mencoba menumpukan tangannya dan menatap Jennie lebih penasaran. "Cinta masa SMA rupanya. Lalu? Kenapa bisa putus?"

"Taehyung, bisa tidak kita tidak usah bahas ini di sini? Merusak suasana saja," sungut Jennie jengkel. Wanita ini tidak begitu menyukai ide menceritakan masa lalunya yang satu itu. Park Jaehyung punya satu tempat khusus di hatinya dan sangat tidak enak membahas pria itu di hadapan Taehyung.

"Kenapa tidak boleh?" Taehyung bertanya ringan. "Karena kau masih menyukainya?"

"Kenapa kau jadi sewot begini?" Jennie bertanya balik. Sungguh, Taehyung tampak menjengkelkan melebihi biasanya.

"Aku tidak sewot!" Bantah Taehyung. Pria itu mencoba mengalihkan pandangannya dan memilih untuk diam setelahnya.

Semilir angin malam berhembus pelan menyapu permukaan kulit mereka. Ditemani keheningan, sepasang suami-istri itu mencoba terbiasa pada suasana yang sebenarnya menjadi cukup canggung itu.

"Jaehyung oppa itu pria spesial."

Taehyung menoleh pada Jennie yang baru saja bersuara itu. Wanita itu memang bicara padanya, tapi pandangannya tetap mengarah pada aliran sungai di depan mereka. Maka dari itu Taehyung hanya bisa tetap diam menunggu ucapan Jennie selanjutnya. Setelah hampir satu menit diisi dalam keheningan, Jennie justru menghela napasnya kemudian segera berdiri.

"Ayo pulang! Aku mengantuk sekali," pinta Jennie sambil mengucek mata dengan jari telunjuknya.

Melihat bahwa sang Istri sudah ingin pulang sekali, Taehyung akhirnya mengalah dan ikut berdiri. Kemudian ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di hadapan wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu. Mengerti akan maksud sang suami, Jennie lantas menjatuhkan diri pada dada bidang Taehyung dan tenggelam dalam dekapan hangat pria itu.

"Taehyung," panggil Jennie lirih. Masih setia mendekap sang istri, Taehyung menyahut dengan gumaman. "Bisakah kita jangan membahas dia lagi?"




----




Taehyung mendekap tubuh Jennie yang memunggunginya. Sepertinya, dibanding tidur dalam keadaan berhadapan, mereka lebih terbiasa dengan posisi tidur Jennie yang memunggunginya dan Taehyung mendekap tubuh istrinya itu dari belakang.

Ini sudah pukul dua belas malam dan Taehyung belum berhasil menyelam ke dalam dunia mimpi. Pikirannya benar-benar terganggu mengenai Park Jaehyung dan Jennie. Bagaimana tidak, Jennie bahkan sampai memohon agar tidak membahas pria itu lagi. Bukankah artinya ada yang tidak beres dengan keduanya? Hal itulah yang membuat Taehyung dilanda rasa gelisah.

"Jennie?" panggil Taehyung dengan suara rendahnya dengan cukup lembut. Ia mencoba mengintip sedikit wajah wanita yang bahkan merespon panggilannya hanya dengan bunyi dengkuran halus. "Sudah pulas sekali ya?"

Kali ini Jennie tampak mengerutkan alis disusul dengan gerakan kurang nyaman memutar tubuh hingga berhadapan dengan Taehyung. Ia membuka sedikit matanya dan menyipit kebingungan ke arah Taehyung yang masih terjaga. "Taehyung, kenapa belum tidur?" tanyanya dengan suara parau.

"Tidak bisa tidur," ucap Taehyung dengan wajah memelasnya.

"Tadi minum kopi? Ah-tidak mungkin. Eomma bilang kau tidak suka kopi," ucap Jennie mengingat kembali ucapan ibu mertuanya. "Lalu bagaimana? Mau aku peluk?" tanyanya.

Mendengar itu, Taehyung lantas memandangnya cukup kaget. "Memangnya boleh?"

Jennie tertawa samar disusul dengan anggukan kepalanya. Kemudian ia merentangkan tangannya dan mempersilakan pria itu merapat padanya dan masuk ke dalam pelukannya. Taehyung merasa begitu nyaman dengan pelukan yang Jennie berikan. Dengan segera ia memejamkan matanya, menunggu hingga alam mimpi menjemputnya. Merasakan Taehyung terlihat nyaman, Jennie mengusap-usap surai berwarna kehijauan pria itu. Rasanya begitu halus dan ringan. Sepertinya Taehyung rajin untuk merawat rambutnya ke salon lebih sering dibanding Jennie.

"Jen? Boleh aku mengatakan sesuatu? Tapi janji, jangan marah."

Mendengar suara suaminya itu, Jennie lantas menggumam pelan sebagai sahutan. "Ada apa?"

"Janji dulu jangan marah ya?" pinta Taehyung.

Menuruti kemauan pria itu, Jennie akhirnya menganggukkan kepalanya. "Iya-iya. Memangnya ingin mengatakan apa?" tanyanya sedikit penasaran. Permintaan Taehyung agaknya terkesan sedikit mengherankan sekaligus mencurigakan.

"Dadamu kecil sekali. Mau tidak aku besarkan?" tanyanya dengan wajah sok polos.

Kim Taehyung memang si sialan yang berwajah kelewat tampan.

"Dasar mesum! Kenapa tidak punyamu saja yang kau besarkan, ha?" tanya Jennie galak.






---tbc

Hm, tetet emang kelewat berani🌚🌝

Something Wonderful | Complete (✔) [TELAH DINOVELKAN & TERSEDIA VERSI PDF]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang