Part 44✔

28 0 0
                                    


"Cia ini mama ku?" Ucap Bella sambil tersenyum.

"Hay tan saya Allicia teman Bella." Allicia tersenyum lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.

"Hay sayang tante dengar dari Bella kalau kamu bakal bebas nak apa benar?"

"Entah lah tan saya tak mengharap itu lagi keluarga saya beda dari keluarga orang lain, " ucap Allicia mencoba tersenyum.

"Pasti Allicia bebas kalau bebas nanti Allicia main kerumah tante ya rumah tante diGrilya gang keluarga disana Allicia tanya saja rumah Bella dan bilang saja Bella yang kini terjerat khasus ini mereka kenal semua kok." Terlihat senyum mengambang diwajah wanita itu baik sekali bahkan sangat kuat sekali.

"Iya tan."

Cukup lama mereka berbincang dan para tahanan lain meminta agar nanti suatu saat Allicia bebas jang pernah lupakan mereka dan sering-sering lah untuk membesuk karena mereka sudah menganggap Allicia saudara.

Allicia kembali pada bukunya tak lama Antaya datang dengan membawa selembar kertas dan menyebutkan sebuah nama.

"Allicia putri mana?" Ucap Antaya semangat.

"Kenapa Taya?" Allicia bangkit dari duduknya dan menerima surat itu belum sempat menjawab seirang pria paruh baya datang dan menyuruh Allicia bersiap karena ada yang menjemput semua orang disana berteriak senang karena Allicia akan bebas tapi Allicia hanya tersenyum kikuk tak yakin jika bebas karena surat itu menyatakan bahwa dia akan diserahkan kepengadilan untuk mendapat sidang vonis dengan perasaan kacau dia menyimpun bajunya dan semua teman-teman Allicia memberi pelukan satu persatu.

"Baik-baik ya diluar jangan lupain kami?" Ucap Desy dan yang lainnya.

"Akhirnya kamu bebas beib jangan lupain kami jangan ganti nomer hubungin aku kalau kamu sempat salam sama keluarga kamu dan suami kamu ya hiks hiks." Bella memeluk Allicia sambil menangis.

"Kamu tinggalin kami bakal rindu makan bareng kamu hiks." Kini giliran Keysa memeluk Allicia dan menangis.

"Aku nggak akan lupain kalian jangan nangis ya?"

"Nak hati-hati ya jangan lupain nenek ya salam sama mama kamu dan tadi mama kamu telpon jika sudah dikapolres bilang sama pak Bram dia sudah dipesani mama mu supaya telpon jika kamu akan dijemput hati-hati ya sayang?" Ucap wanita paruh baya itu.

"Iya nek makasih ya bye semua nya nanti Allicia pamit sama mami didepan bye." Allicia pun dituntun menuju luar dan kesalah satu ruangan terlihat wanita yang dipanggil mami oleh Allicia dia adalah anak dari nenek tadi tanpa bicara mami memeluk Allicia dan mencium Allicia.

Sampailah Allicia disebuah ruangan yang terdapat tiga orang pria dan dua diantaranya Allicia hafal yaitu pak Agus petugas yang pernah menjemput Allicia saat pertama kali dan salah seorang temannya yang masih sangat muda dan tampan tentunya hehe.

Allicia disuruh duduk disofa menunggu beberapa berkas dlu dan dia diajak berbicang.

"Bagaimana kabar mu Cia?" Tanya pak Agus ramah.

"Baik kok pak."

"Habis ini kita jalan-jalan dulu ya hehe, " goda pak Agus dia sangat suka bercandain Allicia.

"Haha iya pak."

"Kamu tahu nggak kalau para tahanan disana kelahi dan hampir baku tusuk dengan tralis yang patah makanya bapak bawa kesini satu biang masalahnya." Jelas pak Agus yang mampu membuat Allicia bingung.

"Siapa pak?"

"Topan kenal kan si bandar sabu gila itu haha." Pak Agus tertawa diikuti Allicia.

"Siapa nama kamu Allicia ya?" Sahut pria yang dari tadi sibuk dengan komputernya.

"Iya pak."

"Habis ini kamu pulang dan saya saran kan kamu cari tali dan batu ya?" Ucap pria itu.

"Untuk apa pak." Allicia bingung.

"Kamu ikaikat tante kamu lalu kamu dorong kesungai oke nanggung kalau cuma begini kalau saya jadi kamu saya bunuh dia haha." Beberapa pria disana pun tertawa.

Setelah selesai mereka keluar dan menuju parkiran mobil Allicia duduk dibangku tengah salah satu teman Agus yang menyupir dan Agus dusuk disamping kemudi Allicia tak sendirian ada seorang pria disampingnya yang dia tahu adalah teman Agus sepanjang jalan mereka bercanda sambil memakan pentol yang mereka beli tadi mereka tak langsung kekapolsek tapi mampir kepengadilan meletakkan berkas lalu berjalan menuju kapolsek.

"Allicia kamu benar istri dari Demian?" Tanya Agus.

"Iya pak."

"Pantas kamu tahu nggak disana Demian kaya apa?" Ucao Agus.

"Kenapa pak?"

"Dia jadi kacau, suka duduk dipojokan, melamun, jarang makan nggak kaya pertama kalian masuk jadi pemurung dia." Jelas Agus dan dianggukin para temannya.

"Dih bapak bohong mana mungkin, " ucap Allicia tak percaya karena dia tahu Demian tak akan seperti itu.

"Loh serius ini saja kami ngerjain dia kalau kami bilangi kamu akan dibawa kekejaksaan dan akan diserahkan kerutan haha." Gelak tawa mereka terdengar bahagia yaps bahagia atas penderitaan orang lain haha.

Cukup lama mereka mutarin kota ternyata benar yang dibilang bahwa mereka akan mengajak Allicia jalan-jalan agar tak stres dan tebusan karena dia sudah lama didalam Sel.

Sampailah mereka diKapolsek dan mereka parkirkan mobil dibelakang Sel tempat Demian dan yang lainnya Agus dan temannya menahan Allicia dan berbisik.

"Kamu lewat depan Sel ya kamu lambaikan tangan mu oke biar Demian kaget." Bisik pak Agus.

Mereka pun jalan dibelakang Allicia sedangkan Allicia dag dig dug akan menjalan kan printah Agus dia mulai jalan didepan Sel sambil melambaikan tangan dan tersenyum dan tanpa diduga semua pria yang disana kaget dan histeris memanggil Demian yang membuat pak Agus dan temannya tertawa geli.

"Demiannn itu istri mu." Teriak para tahanan dengan riangnya.

"Nggak mungkin jangan bercanda, " terdengar suara Demian lesu.

"Hey Demian kamu bertahan disana ya? Tapi coba deh kamu lihat saya bawa hadiah loh buat kamu ayo lah berdiri dan lihat, " ucap pak Agus sambil tersenyum penuh arti.

"Apa pak?"

"Lihat dulu kalau kamu nggak mau lihat saya akan kembalikan dia keKapolres, " goda Agus dan mampu membuat Demian berdiri kaget melihat Allicia.

"Kamu mau keluar nggak?" Tanyak salah seorang teman Agus yang sudah membuka pintu tralisnya.

Demian pun keluar terlihat senyum yang mengembang diwajahnya menatap Allicia terlihat badan Demian yang semakin kurus, berantakan wajahnya ditumbuhi kumis dan jenggot tak terawat seperti biasanya.

Mereka dituntun menuju lantai dua ketempat pertama mereka diBHP atau tanya jawab terdengar suara para tahanan yang terus meminta agar tak lupa dengan mereka nanti kini sampailah mereka diruangan itu dan disodorkan beberapa lembar kertas mereka menandatangani berkas itu setelahnya pak Bram menelpon kan Yestie mereka duduk diruang tunggu yang berada diluar terlihat jalan raya yang penuh kendaraan lalu lalang tak lama terlihat Maurren menaiki sebuah motor jupiter mx mereka menghampirinya dan segera pulang dengan bergoncwng tida Maurrenn yang membawa motor Allicia ditengah dan Demian berada dibelakang Allicia mereka melewati jalanan yang terasa asing bagi Allicia sampailah mereka disebuah gang dan terlihat dua rumah yang berjauhan disisi kanan terlihat rumah tinggat dari kayu dan bisa dikatanya buruk dan sebelah kiri ada sebuah rumah beton Maurren menyuruh mereka menebak yang mana rumahnya dan mereka salah karena menunjuk rumah beton itu betapa terkejutnya mereka bahwa mereka akan tinggal dirumah kayu dan jauh dari penduduk lainnya.

Demian&AlliciaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang