32. Malam Yang Berat

1.4K 101 9
                                        


Aku terisak tanpa suara di dalam pelukannya. Dadaku terasa sesak, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memeluknya dan berharap agar rasa sakit itu segera berlalu meskipun akan kembali besok malamnya lagi untuk mengganggu tidur kekasihku.

"Tahan Vanno, kamu pasti bisa" kataku. Vanno mengerang lalu menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menahan rasa sakitnya.

"Gue ga bisa....rasanya sakit banget, gue ga kuat lagi!!" dia menjerit lagi.

Vanno mulai memberontak, pria itu mencoba mendorong aku keluar dari pelukannya namun aku terus memeluk tubuhnya. Aku menangis, memohon, dan akhirnya ia berhenti mendorongku.

Aku menatap wajah itu, wajahnya tampak sangat pucat dan bibirnya begitu kering. Aku mengambil segelas air yang ada di meja lalu membantu Vanno untuk menegak air itu hingga tandas.

Vanno mengambil duduk, ia meraih bantal lalu mengigit bantal itu dengan kuat sambil meremas rambutnya sendiri. Aku menghapus air mataku kemudian mendekat dan menggenggam kedua tangannya, "Vanno..." panggilku dengan lembut. Aku merapikan rambutnya yang berantakan lalu merangkum wajah Vanno, memaksanya untuk menatapku.

"Sakit Widuri, sakit banget...." rintihnya.

Sorry you missing the text, cerita ini sudah diterbitkan dan dapat kamu beli di google playstore or playbook ya.....link pembelian ada di bio aku😉

TBC —

Vote+comment for next!

Pulang (completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang