Jarinya mengetuk meja kayu cafe dengan asal, hingga terdengar pelan melodi acak dari sana. Posisi duduknya dekat jendela, memudahkan untuk melihat keadaan diluar.
Ia tengah menunggu seseorang hari ini. Sudah ada janji sebenarnya, dan untungnya dia setuju. Mengecek kembali ponselnya yang berdenting sebab ada pesan masuk.
Lalu menyesap iced latte-nya sebelum lonceng di pintu cafe berbunyi. Akhirnya tiba juga yang dari tadi ditunggu Hanbin.
"Ah maaf Hanbin-ssi, ada masalah sedikit tadi," kata orang itu saat sudah ada di hadapan pria Kim.
Hanbin membalas jabatan tangannya seraya tersenyum memaklumi. Keduanya duduk berseberangan di batasi oleh meja.
Pria paruh baya itu keluarkan map dari dalam tas kerjanya. Langsung membukanya, terlihat beberapa lembar dokumen kepemilikan disana.
"Semuanya sudah lengkap?"
Ia mengangguk pasti, "Sebenarnya sudah lama kosong dan tak ada yang menyewanya, yakin mau langsung beli?"
"Ya, lagipula aku sudah melihat semua fasilitasnya, masih terawat rapi,"
"Masalahnya villa itu jarang ada yang menyewa, kalau beli untuk disewakan kembali, mungkin kau akan menjualnya lagi ke orang lain," candanya.
Hanbin terkekeh singkat untuk menanggapi, "Aku yang akan menempatinya, jangan khawatir,"
"Yah bagus kalau begitu," diakhiri senyum cerahnya.
Pria hidung bangir meraih ponsel berniat langsung menransfer uang untuk tebusan villa di Mungap-do.
Villa itu punya kualitas elit sebenarnya, propertinya berkelas semua. Ditambah kolam renang indoor dan private beach-nya.
Ia terdiam menatap kosong pada layar ponsel, meyakinkan diri bahwa ini memang keinginannya. Tanpa dipengaruhi efek nyanyian memabukkan dari siren.
Apapun itu, semenjak ke Mungap-do dan bertemu makhluk mitologi cantik itu, keputusan yang dipilih Hanbin selalu terkesan mendadak dan buru-buru.
Biasanya kalau begitu, ia akan menyesal tapi kini? entahlah. Dan bahkan ia sudah berfikir tentang bisnis kini.
Tau kan? bisnis bukan passionnya. Jiwanya terlalu bebas untuk terkekang dalam dunia bisnis.
"Hanbin-ssi!" panggilan si pemilik villa menyadarkannya.
"Ada masalah?" lanjutnya bertanya melihat kondisi Hanbin yang seperti kurang baik.
"Tidak, sudah ku transfer uangnya," letakkan kembali benda pipih berwarna hitam miliknya keatas meja.
Pemilik itu menyodorkan map ke hadapan pria Kim, "Bisa kau baca dulu dokumennya, dan tanda tangani setelah itu,"
Tak perlu. Ia tak perlu membacanya lagi. Sudah seminggu bukan ia tempati villa itu? ia sudah tau seluk beluknya seperti apa.
Jadi langsung saja raih pulpen dan menorehkan tanda tangan di bagian bawah salah satu kertas dokumen. Dengan itu, villa Mungap-do sudah menjadi miliknya.
"Uangnya sudah masuk, Kim Hanbin-ssi senang bekerja sama denganmu," menjabat lagi tangan Hanbin sebelum pamitan dari sana sebab katanya sedang buru-buru.
Menumpu kedua siku di meja sembari pandangi dokumen sertifikat villa itu dengan sorot frustasinya. Menjambak pelan surai legamnya.
Ia bingung, sangat. Sebenarnya apa yang tengah dilakukannya kini? Kemarin sore sampai di Seoul, dan siang ini langsung menghubungi pemilik villa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nefastus [JenBin] ✔
FanfictionIt's not just a myth. (!) read this story with dark mode, just suggest (!) alternate universe [au] (!) lil bit cringe (!) all multimedia include in this story ©owner, not mine! (!) update only when I've a good mood ©apreelchocx,2020
![Nefastus [JenBin] ✔](https://img.wattpad.com/cover/228326340-64-k377586.jpg)