Irene harus segera kembali agar ibunya tak curiga. Berpamitan pada sang empunya villa, yang pasti ingin menitip sesuatu atau beberapa pesan untuk adiknya di pengasingan.
Dan tebakannya tepat sekali, Hanbin menitip pesan-pesan berisi perasaannya kini.
"Aku merindukannya,"
"Itu saja?" yang ditanyai tampak terdiam untuk berfikir sejenak.
"Aku akan berusaha sekeras mungkin untuk menjadi ayah yang baik buat Syrene, sampai jumpa satu tahun lagi, kita akan bertemu dan membesarkan putri kecil kita bersama,"
Mampu ia lihat kesungguhan disetiap penuturan kata Kim Hanbin. Sorotnya lemah, bahkan sudut matanya berair. Berusaha menahan air mata, diakhiri dengan senyum tipis di bibir.
"Hubunganmu dengan Syrene sudah bagus, kau hanya perlu perkuat ikatan diantara kalian. Dan satu lagi, detak jantungnya dan Jennie sama, jadi ia bisa merasakan kehadiran juga keadaan ibunya sendiri,"
Mata Hanbin mengerjap takjub dengan penjelasan itu, makhluk ini memang luar biasa. Bagaimana bisa dengan tubuh, jiwa, dan tempat yang berbeda tapi dapat merasakan ikatan intim seperti itu?
"Terimakasih telah menyadarkanku, dan juga mengantar bayiku kemari, maaf merepotkan," Hanbin membungkuk sempurna sebagai rasa terimakasihnya.
"Hei? tak perlu berlebihan begitu, ini tugasku untukmelindungi adikku dengan bayinya sekaligus, termasuk pria yang Jennie cintai,"
Tambah mengembang lah itu senyum yang tadinya tipis di bibir pria Kim. "Yasudah, aku pergi dulu," Irene menunduk seadanya untuk berpamitan dan langsung berjalan menyusuri pantai sampai ke sisi selatan sana.
Hanbin tutup pintu depan setelah mengantar Irene sampai disana. Ia bergegas memasuki kamar dengan perlahan agar tak menimbulkan suara berisik sekecil apapun.
Nanti malaikat mungilnya bisa terganggu. Ia dekati ranjang dan terduduk di lantai, menumpu lengan dengan perlahan di ranjang sebelah tempat Syrene tidur.
Bibir mungil itu terbuka sedikit, dengan pipi gempal menggemaskan di kedua sisinya, persis dengan milik sang ibu. Matanya itu benar-benar persis pria Kim.
Tak sadar senyum hangat terpampang jelas di wajahnya, setia memandangi makhluk suci tak berdosa di depannya itu. Bagaimana ia bisa lakukan ini sendirian?
Ia bahkan tak pernah sekalipun berfikir untuk memiliki bayi di usia semuda ini. Bahkan ia tak mengira jutaan benihnya yang masuk kedalam Jennie akan berhasil dan berkembang di rahim siren itu.
Maksudnya, ia kira sebab manusia jelas berbeda jenis dengan siren, maka tak apa jika ia mengeluarkanya sebanyak dan sesering apapun di dalam liang Jennie.
Tapi inilah kenyataannya, bukti nyatanya kini sedang terlelap dengan damai di atas ranjang king size kamarnya sendiri. Untuk berkembang sesempurna ini rasanya terlalu cepat waktu 3 bulan itu.
Percaya atau tidak, janin siren memang berada dalam kandungan selama 3 bulan saja. Baik itu hasil perkawinan sesama siren ataupun siren dan manusia.
Tapi bedanya, dibawah laut ada hukum yang melarang hubungan siren dan manusia. Itu menentang hukum alam namanya, pantang ditentang.
Sekali lagi, siapa yang mampu melarang orang yang sudah mabuk cinta? tidak ada.
Dengan ragu ia sentuh pipi kenyal itu dengan ujung telunjuknya. Nafas Syrene teratur malah semakin membuat pipinya terlihat jauh lebih lucu.
![]()

KAMU SEDANG MEMBACA
Nefastus [JenBin] ✔
FanfictionIt's not just a myth. (!) read this story with dark mode, just suggest (!) alternate universe [au] (!) lil bit cringe (!) all multimedia include in this story ©owner, not mine! (!) update only when I've a good mood ©apreelchocx,2020
![Nefastus [JenBin] ✔](https://img.wattpad.com/cover/228326340-64-k377586.jpg)