"Aku kedinginan, bisa pinjam bajumu tidak?" tanya Irene tiba-tiba.
Hanbin alihkan atensi dari putri mungilnya, meneliti penampilan kakak Jennie itu. Bajunya yang basah memang kotor terkena darah sekarang.
"Dan bisa aku minta minuman yang hangat? kopi??" kening Hanbin seketika mengernyit tajam.
Apa katanya tadi? kopi?
"Kau tau kopi?" gadis itu langsung mengatupkan mulutnya yabg tadi hendak bersuara lagi.
"Eungg..., ya eum--sini biar aku bilas dulu darahnya, dimana kamar mandimu?" pengalihan topik yang dipilih Irene malah membuat Hanbin semakin curiga.
Tapi akhirnya ia mengalihkan Syrene dari gendongannya ke Irene. Namun jari-jari mungil itu mencengkeram lengannya, seakan tak mau dilepaskan.
Irene segera membawa keponakannya itu kedalam gendongan, langsung pecah tangisannya saat itu juga. Ditepuk-tepuk bagian belakang bayi itu agar lebih tenang.
Hanbin setia memandangi gerak-geriknya, sebelum Irene kembali bertanya. "Dimana kamar mandinya? lihat darahnya sudah kering begini," tunjuknya pada tubuh Syrene.
"Ah sini pakai yang didalam kamarku saja," pria itu lebih dahulu masuk kedalam villa dan menuju ke kamar.
Irene mengekor dibelakangnya masih sembari berusaha menenangkan Syrene. Hanbin bukakan pintu kamar mandi, "Kau bisa pakai wasta--fel saja, kau bisa menggunakannya??" tanya si pria.
Sebab dilihat sebelum kalimatnya selesai, Irene sudah lebih dulu berada didepan wastafel dan mulai membasuh tubuh Syrene.
Ekspresinya terlihat lebih tenang kala kulit sensitif bayi itu menyentuh air. Hanbin pandanginya dengan sejuk dari ambang pintu.
Syrene benar-benar hasil jiplakan Jennie, dan kenapa ia malah mengelak sampai tak mau mengakui bayi itu tadi?
Ia yang berdosa, Syrene tentu tak tau apa-apa, ia hanya hasil dari perbuatan Hanbin dan Jennie. Pria Kim tak percaya akan jadi ayah di usia semuda ini.
Bahkan sebelum dirinya menikah dan siap mental. "Hanbin! dimana sabunnya?"
Untuk apa? dia mau memakannya?? pasalnya kala mandi dengan Jennie, gadis itu hampir memakan sabun yang Hanbin berikan padanya untuk bersihkan diri.
Kini kakaknya juga meminta sabun, "Untuk apa?" Irene berdecak pelan tanpa menatap kearah ayahnya Syrene.
"Tentu saja untuk menyabuninya supaya wangi," jawaban yang tepat tapi Hanbin merasa aneh.
"Ada disana, tapi jangan kau makan sabunnya," ia memperingati sebelum berlalu dari sana.
Letakkan baju bersih miliknya untuk Irene diatas ranjang, "Bajunya kutaruh diatas ranjang," kemudian ia diam, Syrene akan pakai baju apa?
Tak mungkin Hanbin pakaikan bajunya, bisa tenggelam tubuh mungil itu didalam baju miliknya yang memang dominan oversized.
Lalu ia pasrah serahkan dulu pada Irene masalah putrinya itu, berlalu ke pantry membuatkan permintaan 'tamunya' tadi. Minuman hangat; kopi.
Otaknya masih dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan. Paling banyak sih; bagaimana kalau sampai ibu dan keluarganya tau?
Apa tanggapan mereka? akankah keluarganya akan membenci darah daging Hanbin yang memang bukan manusia seutuhnya?
Ia bahkan sudah berfikiran yang tidak-tidak, seperti; Syrene akan dibawa ke panti asuhan, jauh darinya dan juga Jennie.
Tapi bukannya ia juga pasti akan berpisah dengan mereka? Semuanya terasa terlalu mendadak baginya. Kehidupannya memang berubah setelah bertemu Jennie.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nefastus [JenBin] ✔
FanfictionIt's not just a myth. (!) read this story with dark mode, just suggest (!) alternate universe [au] (!) lil bit cringe (!) all multimedia include in this story ©owner, not mine! (!) update only when I've a good mood ©apreelchocx,2020
![Nefastus [JenBin] ✔](https://img.wattpad.com/cover/228326340-64-k377586.jpg)