34

780 125 53
                                        

"Kau sangat merindukan tteokkbeokki sampai mengabaikanku, hm?"

Keluhnya sebab Jennie sangat fokus dengan 'cacing berdarahnya' sampai tak menghiraukan presensi Kim.

Hanbin mengelus surai setengah basahnya dengan lembut kala Jennie anggukkan kepalanya. "Aigoo..," keluh Hanbin lagi.

Sebab, tolong! Jennie sudah melahirkan dan memiliki putri berusia satu tahun tapi kenapa masih sama menggemaskannya dengn Syrene?!

"Yaaah..,"panggil Syrene yang tadinya sudah tidur didalam kamar kembali terbangun dan mencari Hanbin.

Kedua orang tuanya kini ada di pantry, Hanbin menemani Jennie menyantap tteokkbeokki disana. Ini sudah dini hari tapi Syrene malah terjaga.

Hanbin mengangkat tubuh putrinya dan memangkunya sedangkan ia duduk di kursi pantry. Jennie sampai menyelesaikan dengan cepat makan malamnya.

Mengingat pesan Irene tadi, "Setidaknya susui lagi Syrene dengan ASI-mu meskipun sedikit,"

Jennie tak yakin kalau ASI-nya masih keluar, sebab ini sudah setahun dan ia hanya pernah menyusui Syrene ketika baru saja melahirkannya.

Tapi tak ada salahnya mencoba dulu, dan waktunya juga tepat ketika Syrene merengek pada pria Kim. "--yus,"

Jangan kira Jennie tak paham bahasa amburadul putrinya. Meski mereka baru pertama bertemu setelah setahun ini terpisah, Jennie bahkan bisa merasakan irama jantung Syrene.

Hubungan mereka memang sedekat itu. "Mau minum susu? sama mama Jane ya?" bujuk Hanbin merapikan anak rambutnya yang berantakan.

Pajamanya menggemaskan sekali, berwarna baby pink dengan bahan silk yang halus. Sangat cocok dengan kulit putih bersih bocah itu.

"Mama Jane?" tanya Syrene meyakinkan tawaran Hanbin tadi, ia melihat ibunya dengan atensi penuh.

Hanbin menganggukkan kepala, tanpa menunggu jawaban dari putrinya, Jennie menjulurkan kedua tangan kedepan Syrene.

Pria Kim berusaha meyakinkan bocah Kim bahwa ia akan baik-baik saja bersama sang ibu. Akhirnya dengan perlahan, Syrene sudah berada di pangkuan Jennie.

Ia mulai menyusuinya, insting bocah itu menuntunnya dengan baik. Untungnya ASI Jennie ternyata masih keluar dengan lancar. Hal ini bisa memperkuat hubungan diantara ibu dan anak siren itu.

"Ah tidak, kenapa pemandangan didepanku indah sekali sih?" cetusnya mulai berlebihan melihat sirennya dan Syrene.

Jennie tersenyum lembut menatap wajah putrinya yang kini sama tengah memandangnya dari bawah. Siren itu merapikan lagi surai Syrene.

Namun tiba-tiba pudar senyum di bibir mungilnya, "Hanbin, bagaimana kalau Rene benci Jane?" sorot gusarnya bersirobok dengan manik kelam sang pria.

"Tak mungkin Jane, kau kan ibunya masa dia benci ibunya sendiri sih?" entah kenapa pertanyaannya Jennie mirip dengan yang diajukan Yunhyeong siang tadi padanya.

"Tapi Jane--maksudnya, Jane siren, Hanbin..., kalau Rene takut bagaimana??"

Ketiganya memasuki kamar Hanbin, ah betapa siren itu merindukan aroma khas ruangan penuh cerita juga sang empunya itu sendiri.

Syrene sudah mengantuk berada dalam gendongannya. Perlahan ia baringkan tubuh mungil diantara dirinya dan sang pria.

"Jane tak bisa pakaikan popok, tak bisa membuat makanan untuk Rene," keluhnya lesu lebih ke menyalahkan diri sendiri.

Ditanggapi dengan senyum lembut Hanbin, bergantian ia usap lembut pucuk kepala Jennie dan Syrene yang mulai tertidur kembali.

"Pelan-pelan saja, nanti kita belajar sama-sama," ujarnya berusaha menenangkan kegusaran yang Jennie rasakan.

Nefastus [JenBin] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang