Jung menyodorkan kertas berwarna putih gading yang dibungkus rapi dengan plastik wrap juga pita berwarna gold pada Kim.
Hanbin meliriknya sekilas, "Kukira hyung sudah menikah tanpa mengundangku," benar kan? pasalnya Jaewon waktu itu bilang 'tahun depan' ia akan menikah, eh sampai terlewat dua tahun malah baru sampai ke Mungap-do undangannya.
"Eiy.., mana mungkin, kau kan partner sehidup semati ku," Hanbin segera memasang tampang jijiknya untuk Jaewon.
Tapi ia mengernyit kemudian setelah melihat nama yang tertulis diatas undangan itu.
'Jung Jaewon & Son Wendy'
"Kim Jisoo?" tanya Hanbin bingung.
Jaewon menyandarkan punggungnya kebelakang, "Gagal total, wah gadis itu memang benar-benar, dia mempermainkanku tau!" ujarnya tahan kesal.
Hanbin seketika terkikik mengejek pria Jung, "Karma is real bro," Jaewon sampai cebikkan bibirnya pada Kim.
Jiyong yang baru habis dari resto duduk disisi Hanbin, sedangkan Dara? dari pagi sudah berkutat didapur bersama Jennie juga direcoki oleh Jira dan Syrene yang kini sudah sama-sama suka makan ice cream diam-diam dan bekasnya belepotan juga meleleh dilantai.
Hanbin kira kalau setelah malam itu kakaknya mengetahui semua, Dara akan menjauhi Jennie. Meski awalnya membantah habis-habisan, ia berakhir meminta maaf sampai menangis memohon-mohon sebab kelakuan bejat adiknya.
Dan Jiyong? setiap dia melihat Jennie dan Syrene hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya tapi ia sudah lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Ngomong soal pernikahan, ayah dan ibu mau menjodohkanmu, Kim," Hanbin menoleh cepat pada kakak iparnya.
"Menjodohkanku?" Jiyong menganggukkinya.
Merogoh saku celananya untuk cari ponsel dari dalam sana. Berkutat sebentar disana lalu sodorkan pada pria Kim. "Park Seola, dia model tapi punya bisnis clothing brand juga,"
Hanbin menjauhkan ponsel itu, dan, "Apa-apaan? hyung tak lihat ada Jennie dan kami sudah punya anak begini??"
"Ya mau bagaimana lagi? ayah dan ibu kan memang tak tau, kalau selamanya mau begini terus dirahasiakan, pasti mereka akan menjodohkanmu," ia bicara tanpa menatap adik iparnya.
Ia jatuhkan kepalanya kesandaran sofa dibelakang. Mendadak pening dengar penuturan Kwon. "Memangnya kau mau menikahi duyung itu atau tidak?"
"Siren, hyung, bukan duyung," koreksi pria Kim sebab Jiyong selalu menyebut Jennie sebagai duyung. "Menurutmu bisa kunikahi tidak dia?" Jaewon sampai tegakkan punggungnya lagi dan Jiyong menatapnya tak percaya. Hanbin seserius itu pada pilihannya.
"Aku bisa mencarinya sendiri ibu...,"
"...."
"Ck! tidak, lagipula kenapa pakai acara jodoh-jodohan segala sih?"
"...."
"Aku mengantuk bu, dan jangan membahas masalah perjodohan lagi, pilihanku tetap tidak,"
"...."
"Selamat malam dan selamat tidur, kututup telfonnya,"
Hanbin mengacak dengan frustasi surai legamnya, ia rebahkan diri dengan asal di sofa ruang tengah.
Namun seketika ia duduk kembali kala dengar suara pintu yang ditutup. Jennie ada disana, pasti habis menidurkan Syrene dikamarnya.
Hanya menilirik Hanbin sekilas lalu berlalu tanpa kata kedalam kamar mereka. Melihat gelagatnya yang tak biasa, Kim segera ekori sirennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nefastus [JenBin] ✔
FanfictionIt's not just a myth. (!) read this story with dark mode, just suggest (!) alternate universe [au] (!) lil bit cringe (!) all multimedia include in this story ©owner, not mine! (!) update only when I've a good mood ©apreelchocx,2020
![Nefastus [JenBin] ✔](https://img.wattpad.com/cover/228326340-64-k377586.jpg)