12

1.2K 151 133
                                        

Jennie bersikeras ingin belajar berjalan sedari mereka baru bangun tidur tadi. Kini keduanya sudah ada di ujung ranjang.

Hanbin bangkit dan memegangi kedua tangan siren. "Begini saja, kubantu dulu jalan sampai di depan meja rias,"

"Apa itu meja rias?" tanyanya masih dengan suara serak.

"Itu, yang ada cermin disana, jalan sampai disana," tunjuknya keseberang ranjang Hanbin.

Jennie mengangguk kecil. Ia mencoba bangkit dengan perlahan. Pandangannya kebawah, perhatikan kedua tungkai yang mulai menegak.

Masih gemetar sebab belum terbiasa. Hanbin mampu rasakan dari tangannya yang digenggam semakin kencang oleh Jennie.

Setelah dirasa pijakannya kuat dan stabil, ia segera tersenyum berhadapan dengan wajah Hanbin yang masih sabar menunggu gadis itu sampai siap.

"Jane siap," yakinnya.

Hanbin perlahan mundur kebelakang dengan satu langkah kecil. Gadis itu sepertinya cepat mempelajari. Segera ia melangkah kecil kedepan.

Meski dengan kagok, Jennie akhirnya berhasil lakukan langkah pertamanya menggunakan kaki. Harap-harap cemas kala langkah kedua Hanbin mulai.

Tapi kala tapak kaki Jennie untuk kedua kalinya menyentuh lantai kamar, ia seketika tersenyum bangga.

Begitupun si gadis yang kegirangan, sebab pelajaran berjalannya bisa berhasil dengan mulus.

Mereka sampai di meja rias Hanbin, walau memakan waktu cukup lama. Ia dudukkan gadis siren di hadapan cermin.

"Mau kusisiri rambutmu?" bertanya tapi tanpa menunggu jawaban, Hanbin segera raih sisir dan menyisiri rambut brunette bergelombang itu.

"Rambut siren bisa tumbuh memanjang?"

Jennie dengan takut mencolek meja yang terbuat dari kayu itu. Seakan benda itu hal berbahaya yang membuatnya penasaran.

"Tumbuh dari bayi, lalu saat remaja akan berhenti seperti ini, dan jika setelah itu memanjang lagi, ada sesuatu didalam siren itu,"

Hanbin mengernyit, tangan masih aktif menyisir rambut Jennie tapi sesekali melirik gadis itu dari pantulan cermin.
"Sesuatu apa?"

"Jane juga tidak tau, dulu ada yang seperti itu, tiba-tiba rambutnya memanjang lagi dan berubah putih, berakhir dia diasingkan dalam palung,"

"Nah sudah sel--eh jangan! itu bukan untuk dimakan!" ujarnya seraya rampas botol parfum dari tangan Jennie.

Jennie hampir menjilati botol parfum milik pria itu jika tak segera dicegah. Siren itu merengut kecewa.

"Anemone?"

"Hah?" Hanbin malah nampakkan ekspresi dungunya.

"Bau anemone," ia tunjuk parfum yang masih berada di genggaman Hanbin.

Pria itu malah menciumi aroma dari botol parfumnya. Masalahnya disini ia tak pernah mencium bau anemone tapi malah mengetes kebenaran ucapan Jennie begini.

"Jane mau berjalan sendiri," gadis itu bangkit perlahan dari duduknya.

Hanbin setia menjaga dari sisi kanan Jennie, takut jika tubuhnya oleng, pria itu kan bisa langsung menangkapnya agar tak terjatuh.

Walau cemas, senyum kecilnya tetap tak luntur terukir hangat di bibir tebalnya. "Santai saja Jane, jangan tegang," sarannya kala mereka sudah keluar dari kamar Hanbin.

Hanya menanggapi dengan anggukan lalu kembali fokus berjalan dengan perlahan serta mencoba untuk lebih rileks.

Hanbin mengarahkannya ke meja makan, lalu bantu gadis itu duduk di kursi pantry yang lumayan tinggi.

Nefastus [JenBin] ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang