22. Aku ingin memeluknya..

50 3 26
                                        

Annyeong...
Selamat hari kamis..
Selamat berhalu denganku..
Wkwk..
.
.
.
Happy Reading Chingudeul
🌼
.
.
.

"AKU KETAHUAN. MATI AKU." Batinku saat melihat Taehyung berada dihadapanku. Semudah itukah Dia menemukanku? Semudah itukah?

Aku terdiam cukup lama, lebih tepatnya hanyut pada lamunanku. Setelah sekian lama aku baru tahu betapa dalamnya aku masuk pada kehidupan Taehyung. Aku tidak menyangka akan sampai seperti ini. Dulu aku hanya menganggapnya lelaki biasa yang memang dikirimkan untuk melengkapi kehidupanku. Tapi sekarang, sungguh, aku tidak tahu seberapa berbahayanya Dia.

"Kenapa diam?" tanya Taehyung.

Lidahku kelu, aku tidak bisa berkata apapun. Mungkinkah rencanaku dengan Soo Ah sudah hancur?.

"Nara, kau tidak apa-apakan? Jangan membuatku khawatir." Sorot matanya berbeda. Terlihat lembut dan penuh perhatian. Seberapa ahli Dia menyembunyikan emosinya? Tapi hal itu justru membuatku semakin takut pada lelaki dihadapanku ini.

Aku masih diam, tidak bicara. Aku harus cepat memikirkan alasan agar Taehyung tidak curiga. Setidaknya aku berusaha untuk tidak menghancurkan rencana.

"Park Nara?" Taehyung menangkup wajahku, memotong jarak diantara kami dan menatapku lebih intens.

Yang bisa kulakukan sekarang adalah membuat air mataku keluar. Aku tahu, air mataku adalah senjata terakhir yang kupunya. Aku juga yakin hal itu adalah sisi terlemah dari seorang Kim Taehyung.

"Wae? Kenapa menangis?"

"Semua terasa menyakitkan." Ucapku sambil menangis dan mendekat dalam pelukannya. Aku harus bersandiwara dengan hebat malam ini.

"Berhentilah menangis, kita pergi dari tempat ini." Ajaknya lalu menggendongku keluar dari Bar dan diikuti Gwan Jae dibelakang.

Taehyung mengajakku untuk menaiki mobilnya. Mobilpun melaju pergi.

Suasana menjadi sangat tegang saat Taehyung tidak pernah melepaskan pandangannya dariku. Tentu saja aku gugup, tapi aku harus tetap terlihat seolah kehilangan fikiranku.

"Nara?"

Aku menoleh.

"Kenapa kau ketempat semacam itu ?"

"Sebenarnya aku sangat kalut, tidak bisakah aku bersedih setelah putus cinta. Aku tidak bisa bersikap seolah baik-baik saja. Perasaan itu, selalu menggangguku."

"Tapi kenapa harus Bar itu, mungkinkah?"
Apa Taehyung tahu? Aish, aku sangat gugup.

"Mungkin apa? Bukankah semua Bar sama saja, tempat untuk menangkan diri dengan segelas alkohol. Aku hanya asal saat meminta supir taksi mengantarku ke Bar. Dan tempat itulah yang Ia tunjukkan padaku. Kenapa?"

"Bukan apa-apa. Harusnya kau bilang padaku."

"Bukannya pekerjaanmu menumpuk? Tidak apa-apakah aku mengganggumu?"

"Memang seharusnya kamu menggangguku. " ujarnya singkat dengan senyum menenangkan kearahku. Sekarang aku yakin kalau rencanaku belum sepenuhnya gagal.

"Tunggu dulu, bukankah ini bukan jalan menuju apartementku?" kataku saat aku menyadari kalau mobil ini melaju dijalan yang terasa asing bagiku.

"Tentu saja bukan. Kita pulang kerumahku."

"APA??" mataku terbelalak saat mendengar ucapannya. Rumahnya? Rumah Taehyung? Itu sama saja penjara. Bagaimana aku bisa menemui Yoongi atau Soo Ah jika seperti ini.

ObsessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang