Hello guys, udah lama gak up hehe..
Jangan lupa vote ya❤
Mungkin beberapa part lagi bakalan ending:)
□□□□
"Apa kau bilang tadi? Villa?" tanya Kenneth menatap sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Iya."
Rafael menatap Kenneth, "Setahu ku, hanya Darren yang mempunyai villa di Jakarta."
"Darren?" tanya Gerald memandang Rafael.
"Tapi Darren kan sedang di penjara? Bagaimana ia bisa keluar lalu menculik Arabella?" ucap Gerald dilanda kebingungan.
"Itu tidak penting. Sekarang kita hanya perlu datang ke villa itu untuk mencari tahu apakah benar Arabella ada disana." ucap Theo sembari memandang Kenneth.
"Sepertinya kita memang harus kesana...." Kenneth mengambil ponselnya lalu menatap ketiga lelaki yang bersamanya, "Aku akan menghubungi anak buahku. Kalian juga menghubungi anak buah kalian dan suruh mereka kesana dahulu untuk mengecek keadaan."
Mendengar Kenneth memberi perintah, ketiga lelaki disana langsung mengambil ponsel dan menghubungi anak buahnya masing-masing.
Setelah Gerald menghubungi anak buahnya, ia menatap langit yang nampak cerah saat ini.
"Aku harap ini adalah hari terakhirku tanpamu. Aku ingin setelah ini aku selalu bersama istriku." batin Gerald.
●●●
Arabella menutup wajahnya menggunakan tangan, ia enggan menatap wajah lelaki yang ada di hadapannya ini. Lelaki itu sudah menamparnya karena Arabella menolak menikah besok.
"Aku akan pastikan kau jadi istriku besok. Tidak ada alasan lagi untukmu kabur. Memang sedari awal harusnya aku adalah suamimu bukan si brengsek itu." ucap lelaki itu dengan tegas.
"Ke-kenapa kau lakukan ini? Kita bisa berbicara baik-baik atau kau bisa mencari wanita yang lebih baik dariku.." ucap Arabella pelan namun mampu didengar.
"Tapi aku hanya menginginkan mu. Mau berapa banyak wanita yang lebih baik di luar sana tapi aku akan tetap memilihmu menjadi istriku."
Arabella menghela napas lelah, lelaki itu tidak akan sadar hanya dengan kata-kata. Apa Arabella harus bunuh diri agar terlepas dari lelaki ini? Tapi bagaimana nasib anak-anaknya nanti?
"Kau istirahatlah."
Lelaki itu keluar dari kamar Arabella dan seperti biasa pintu itu selalu dikunci dari luar agar wanita itu tidak dapat keluar.
"Gerald selamatkan aku.. Hari ini mungkin adalah hari terakhir aku hidup jika tidak bertemu denganmu. Lebih baik aku mati dari pada harus menikah dengan lelaki gila itu." ucap Arabella lirih dengan duduk menghadap ke jendela.
Entahlah, Arabella sudah tidak dapat berfikir jernih. Satu-satunya jalan agar ia terlepas dari lelaki gila itu adalah bunuh diri. Jika Arabella berhasil mati, maka lelaki gila itu tidak akan mungkin menikahinya.
Mata wanita itu mengedar pada setiap sudut kamar, ia berjalan menghampiri meja kecil yang ada disudut ruangan. Disana terdapat gunting kecil yang entah untuk apa.
Tidak ingin berfikir lama, Arabella mengambil gunting itu lalu membawanya ke nadi bagian tangan. Memejamkan mata agar tidak melihat nadi yang akan ia potong sendiri. Sebelum memotong nadinya sendiri, pintu kamar terbuka dengan kasar menampilkan seseorang.
□□□□
"Bagaimana?"
"Keadaan di villa sangat banyak penjaga tuan." jawab anak buah Kenneth sambil menundukan kepalanya.
Kenneth terdiam sebentar sebelum melihat teman-temannya yang lain. Ia menghela napas, "Sepertinya Ara memang ada disana. Kita langsung saja kesana."
Mereka segera bergegas menuju mobil masing-masing untuk pergi ke villa tersebut. Jangan lupa, penjagaan pada masing-masing mobil mereka.
Sekitar 30 menit untuk sampai di villa itu. Gerald keluar paling awal secara mengendap-endap. Urusan pengawal villa itu biar menjadi urusan anak buah mereka.
Gerald berusaha membuka semua pintu ruangan yang ada di sana. Akan tetapi, ada 1 pintu yang terkunci sehingga membuat Gerald harus mendobraknya.
Dengan sekali dobrak pintu itu terbuka dengan kasar. Mata Gerald terbelalak saat melihat istrinya hampir memotong urat nadinya sendiri.
"Hey! Sweetheart lepaskan itu!" teriak Gerald membuat Arabella kaget.
Arabella menoleh pada pintu dan seluruh badannya gemetar, "Ge-Gerald?"
Arabella segera bangkit dan berlari memeluk suaminya itu, "Gerald." bisik Arabella.
"Ya, ini aku sayang. Ini aku suamimu." bisik Gerald sembari memeluk tubuh istrinya.
Arabella melepaskan pelukannya saat ada langkah kaki mendekat, ia melihat Kenneth dan Theo ada disana.
"Bagaimana dengan para penjaga?" tanya Gerald.
"Mereka sudah kita tangani, termasuk otak dari penculikan ini." jawab Theo.
"Di-dimana kak Rafael?" tanya Arabella saat tidak melihat satu saudaranya itu.
"Dia ada dibawah sedang meringkus otak penculikanmu." jawab Kenneth sembari memeluk tubuh adiknya.
"Ayo, kita kebawah."
Mereka semua turun kebawah dan mendengar keributan yang terjadi. Disana, Rafael sedang memegangi seseorang yang terus saja berteriak.
"LEPASKAN AKU! BESOK AKU AKAN MENIKAH DENGAN ARABELLA KU! LEPASKAN!"
"BERHENTI DARREN!" teriak Rafael.
"Darren, kau sudah terlalu jauh. Arabella sekarang istriku. Tidak mungkin menjadi istrimu. Aku akan segera menjebloskan mu ke penjara." ucap Gerald sembari mengajak istrinya untuk pulang.
"GERALD! LEPASKAN ARABELLA!! DIA MILIKKU!!"
Sepanjang jalan Gerald menuju ke mobil, hanya teriakan Darren yang terdengar oleh telinganya. Gerald memandang Arabella yang nampak lelah dengan semua ini.
"Sweetheart, kau tenang saja. Setelah ini, kita akan berbahagia dengan keluarga kecil kita." ucap Gerald sembari tersenyum lalu mengecup bibir istrinya.
"Aku rindu anak-anak." cicit Arabella.
"Kita pulang sekarang." jawab Gerald tersenyum sambil menghidupkan mesin mobil.
~~~
24 Januari 2021.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake
Romansa17+ Gerald Arnand Williams; pengusaha sukses yang pulang dari Amerika untuk menikahi tunangannya. Tetapi ia malah dibuat terkejut oleh fakta bahwa tunangannya sudah menikah dengan sahabatnya. Hingga kesalahan satu malam membuatnya terikat dalam janj...
