#40

3.2K 296 194
                                    

Setelah beberapa hari pulang nya Athar dari rumah sakit, keadaan nya semakin membaik, Begitu pula hubungannya dengan Julian yang semakin lengket setiap hari

Athar beberapa kali mempergoki pria itu sedang melamun, namun saat Athar menatapnya dengan raut wajah seolah bertanya 'dirinya kenapa?' pria itu hanya tersenyum manis kearahnya, seakan menjawab kalau dia baik-baik saja there is nothing to think about

"Abang? kenapa ngelamun terus Athar perhatiin dari tadi?" Athar ikut mendudukkan tubuhnya di samping Julian, menempelkan pipinya pada lengan kanan pria itu yang sedang menyenderkan tubuhnya pada sofa, ia tidak bisa menahan dirinya agar tidak bertanya

Pria itu menatap Athar sebentar, kemudian tangan kirinya memegang pipi Athar sebelah kanan, "nggak papa" jawabnya dengan senyum simpul

"Kok gitu?"

Tangan Julian beralih merangkul pundak Athar, menarik pria itu agar lebih merapat dengan dirinya, mengusap-usap kepala Athar dengan rasa sayang, dan menyandarkan pipinya diatas kepala Athar yang berada di dekapannya

Bocah berwajah kelewat cute itu tidak menolak, ia justru ikut melingkarkan tangannya di perut pria itu, ia semakin menyenderkan kepalanya pada dada bidang Julian, ia selalu menyukai posisi seperti ini, sungguh nyaman

"Kalo ada masalah cerita atuh"

Julian mengeratkan pelukannya "papa besok lusa nikah" ucapnya pelan, terdengar suara yang menggambarkan kekecewaan

Athar tidak terkejut karna memang ia sudah tahu, ia ikut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh laki-laki yang ia sayangi selama ini itu

"Mama gimana? Aku takut kalau keadaannya makin drop"

"Aku juga kasian kalau terus-terusan ninggalin mama di asrama itu, aku pengen mama balik tinggal sama aku walaupun tanpa papa lagi sekarang" ucapnya seakan pasrah kalau papanya itu akan memiliki keluarga baru

"Abang?" Athar menegakkan tubuhnya, memegang kedua pipi Julian, ia mengarahkan wajah Julian untuk menatapnya

"Jangan tumbang ya, Abang kuat kok" senyum tulus terukir indah di wajah Athar

"Kita hadapi masalah ini sama-sama, yakin, Athar akan selalu ada buat Abang"

Athar berdiri dari duduknya "yuk" ajaknya pada pria itu yang masih bingung menatapnya

"Kemana?"

"Nemuin Tante asih"

"Tapi—"

"Udah ayo"
Julian masih diam menimang-nimang saran Athar

"Abang percaya sama Athar kan?"

"Kalo percaya ayo kita nemuin Tante" Athar menarik kedua tangan Julian, menitahnya untuk berdiri

Pria itu ragu, namun tak urung juga untuk menuruti permintaan Athar

"Kamu ganti dulu , jangan pakek seragam sekolah"

Athar menunduk melihat pakaian yang ia kenakan, iya juga, tidak mungkin ia berkeliaran dengan masih memakai seragam, bisa di tangkap Satpol-PP "pinjem punya bang ijul ya, Athar lupa bawa" cengirnya kemudian

Julian mengangguk "ambil aja, baju aku juga baju kamu"

Athar tersenyum "uang Abang berarti juga uang Athar dong" pria itu selalu semangat jika sudah tentang uang apalagi coklat

"Iya ntar kalo kamu udah jadi istri aku" ucapnya tanpa melihat Athar yang sudah merubah raut wajahnya menjadi merah, perpaduan antara salting dan juga kesal

Julian yang merasa sedang di tatap tajam oleh Athar akhirnya memalingkan wajahnya pada pria itu, dan benar saja pria itu sedang menatapnya tajam dengan bibir yang sedikit mengerucut dan tangan yang dilipat di depan dada

He is mine [END😻]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang