Seminggu berlalu setelah kejadian di rumah Rio waktu itu yang berhasil membuat Julian dan Athar makin kesini makin akrab, meskipun sikap Julian yang berubah-ubah kadang manis, kadang galak, judes, dan juga yang kadang begitu care pada Athar, namun tetap membuat Athar selalu ngerasa senang jika ada di dekat Julian.
Iya lah, ia pasti akan memalak coklat banyak-banyak kalau sedang bersama Julian.
Sedangkan Julian ia tidak begitu keberatan jika harus menuruti permintaan Athar yang satu itu.
Ia ngerasa seakan itu sudah menjadi kewajibannya.
Ah apa-apaan Julian ini.
__________
Siang ini Athar berjalan sendirian di tengah sepinya koridor dengan santai, ini Memnag sudah jam pulang sekolah, yang lain sudah
pulang sekitar 15menit yang lalu, karena Athar ada jadwal piket hari ini jadi ia pulang agak terlambat sedikit
Terdengar bunyi ponsel dari dalam tas Athar, ia pun mengambilnya
"Lo dimane Cong?"
Sudah pasti penelpon itu si Dimas, teman Athar satu bangku yang pecicilan itu
"Masi di sekolah, emang kenapa?"
"Astaga bencong, gue udah di depan gerbang rumah lu tau, sama si Dicky"
Athar menepuk jidatnya pelan, kenapa ia bisa lupa kalau dua temannya itu mau berkunjung kerumahnya setelah pulang sekolah.
"Iya-iya maap Athar lupa, Athar otw pulang sekarang"
Lalu menutup panggilannya begitu saja, dan bergegas pulang.
Pagi tadi mamanya tidak bisa mengantarkan ia ke sekolah karena ada urusan mendadak,
sedangkan papanya, harus mengantarkan adiknya yang berbeda sekolah dengan Athar,
jadilah ia ke sekolah menaiki motor tidak mungkin juga ia menaiki sepeda, jarak rumah sampai ke sekolah tidaklah dekat.
Dari ujung jalan terlihat Athar sedang tertawa terbahak-bahak melihat dua temannya yang duduk di depan gerbang rumahnya—seperti gembel saja
"Haha dua bencong ngaapin disini? Lagi mangkal ya?"
Tanya Athar sambil turun dari motornya dan mencari kunci di dalam tasnya untuk membuka gerbang
"Yang bencong itu Lo" sahut Dimas kesal karena menunggu kedatangan Athar yang lumayan lama
"Udah ih cepetan buka, panas tau" ucap Dicky
Athar menyengir
(Oh iya, author mau kasih tau kalau tokoh yang di part 3 itu kan namanya Novan terus author ganti jadi Dicky ya, soalnya kurang pas aja kalau Novan masih sekolah hihi)
mereka bertiga masuk ke rumah Athar saat melewati ruang keluarga
terlihat Oca yang sedang menonton tv di sana
"Assalamualaikum" salam athar
"Waalaikum salam kak" jawab Oca tersenyum sekilas kepada kakaknya dan kedua orang di belang Athar
"Lah ini adik Lo di rumah, kenapa tadi kita udah panggil-panggil, permisi-permisi ngga di bukain?"
"Athar yang ngelarang Oca Nerima tamu kalau Athar lagi ngga di rumah"
Terlihat Athar yang begitu menyayangi adik perempuan nya itu, ia takut terjadi apa-apa kalau ia membiarkan ada tamu di saat Oca sedang di rumah sendirian, hanya berjaga-jaga saja, siapa tau yang bertamu mempunyai niat jahat kan
"Shuut.... Sshutt.. Oca?" Dimas menggoda Oca yang sedang asyik menonton tv itu,
Dimas mengedipkan sebelah matanya Saat Oca menengok kearahnya
"Jangan ganggu adik Athar Dimas"
Ucap Athar yang sudah berada di pertengahan anak tangga menuju kamarnya
"Elah, pelit banget Lo"
"Athar ngga rela kalau adik Athar di goda sama bencong kek Dimas"
"Yang bencong siapa sebenernya?"
Tanya Dimas
Athar terdiam tidak menanggapi pertanyaan Dimas , sedangkan Dimas mendumel tanpa henti.
—setelah perdebatan tadi Sekarang mereka bertiga sedang berada di kamar Athar, apa lagi kalau bukan main game.
Tiba-tiba ada kepala Oca menyembul dari balik pintu
"Kak ada orang ngetuk pintu di depan"
"Ya bukain dong Ca, kan kaka udah di rumah" jawab Athar sambil matanya terus fokus kearah layar handphone nya.
"Ngga mau ih, ngga berani, tadi Oca liat dari jendela orangnya serem" oca bergidik ngeri
"Siapa si" Athar jadi penasaran begitu pula dengan
Athar turun bersama Oca, ia menyuruh Oca untuk langsung ke kamar saja, dan Oca menurutinya, karena Oca juga cukup mengantuk saat itu.
Tak berselang lama Athar kembali ke kamar bersama seseorang di sampingnya yang ternyata Julian ,
"Masuk bang, bentar ya Athar buatin minum dulu" Athar langsung turun menuju dapur sedangkan Julian hanya mengangguk menyetujui
Dimas dan Dicky terlihat begitu terkejut saat melihat Julian yang duduk di sofa kamar Athar.
"Dih ngeri, bencong temenannya Ama preman" bisik Dimas kepada Dicky
"Iya ih, ngga nyangka gue sama si Athar"
Dikcy ikut menimpali.
Julian yang sedang dibicarakan ternyata mendengar, ia lalu menatap tajam dua bocah itu
"Apa"
Nyali Dimas dan Dicky menciut, sebelum akhirnya berlari keluar kamar , saat Samapi tangga ia berpapasan dengan Athar yang membawa nampan berisi 4 minuman.
"Eh mau kemana? Ini Athar bikinin minum"
"Besok kita main lagi deh thar, kita pulang dulu"
Athar mengernyit bingung—
.
.
.
.
Maap banyak typonya , dan maapin alurnya yang gajelas
Satu vote dari kalian sangat berharga bagi saya❤️
Terus support ya🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
He is mine [END😻]
Novela Juvenil"Ini bocil polos apa bego sih" Athar masih menatap wajah Julian menunggu jawaban. Namun Julian lagi-lagi hanya meliriknya. "Nama Abang siapa? Terus Abang ngapain di sini sendirian ? Lagi galau ya?" Julian memutar bola matanya malas "Astaga pingin ra...
![He is mine [END😻]](https://img.wattpad.com/cover/233297592-64-k271142.jpg)