Hyeyoon POV
Bolehkah jika aku meminta waktu berhenti saat ini juga. Aku sangat bahagia. Ditambah tangannya yang masih menggenggamku. Tanganku pun terasa hangat saat berada didalam genggamannya. Aku ingin setiap hari aku bisa berada sedekat ini dengannya. Aku ingin selalu melihat wajahnya, berbicara dengannya, dan jujur saja aku sangat menikmati sensi yang aku dapatkan akibat ulahnya. Walaupun itu membuatku seperti orang gila.
"Kau mau membawaku kemana, Rowoon-ssi? " tanyaku berusaha memberanikan diri.
Sayangnya dia tidak mengacuhkanku. Dia sibuk menatap ke depan. Entah apa yang lebih menarik daripada gadis cantik sepertiku yang tepat berada disampingnya. Tapi aku tidak akan protes ataupun kesal sekarang. Setidaknya dia tidak mengeluarkan kata-kata menyakitkan yang biasanya dia berikan padaku saat aku berusaha untuk mengajaknya mengobrol.
Dia melepaskan tangannya saat kami sampai disebuah tempat yang sangat indah. Sebuah danau yang dikelilingi beberapa pepohonan. Ditambah bunga-bunga bewarna-warni yang tersusun rapi. Aku yang awalnya merasa hampa karena tangan kami tidak terpaut lagi berubah menjadi anak kecil yang berlarian kesana kemari. Sampai membuatku lupa jika kakiku masih belum sehat. Rasanya semakin sakit saat aku berusaha untuk berdiri.
Rowoon yang menyadari itu langsung menghampiriku dengan wajah khawatirnya. Aku berharap aku ini bukan sekedar imajinasiku saja.
"Kau baik-baik saja? " tanya Rowoon sambil mengecek keadaan kakiku.
Sial. Kakiku ini benar-benar tidak bersahabat. Bukannya membiarkan Rowoon menyentuhnya, kakiku malah refleks menghindar. Bahkan wajahku seketika mengernyit merasakan sakit yang luar biasa. Aku takut jika sakitnya semakin parah daripada kemarin. Itu tandanya aku harus kembali dirawat, otomatis aku tidak bisa bertemu dengan Rowoon lagi. Sungguh, aku sangat sadar betapa butanya aku dengan cinta. Yang ku pikirkan hanya Rowoon, Rowoon dan Rowoon. Bahkan karena itulah aku memaksa untuk segera keluar dari rumah sakit, walaupun dokter sudah mengatakan jika aku masih harus istirahat selama beberapa hari lagi.
"Kita pulang saja ya" ucap Rowoon lalu memegang tanganku untuk membantuku berdiri. Tapi aku tidak bergerak sama sekali.
"Tidak. Kau sudah mengajakku kemari. Aku tidak mau pulang. Aku masih ingin menikmati keindahan tempat ini" jawabku berusaha memelas. Berharap dia akan terpengaruh denganku. Dan membiarkanku menghabiskan waktu bersamanya.
"Kau sedang sakit. Jangan keras kepala. Ayo, kita pulang saja"
"Ini tidak terlalu sakit." bohongku. "Sebentar saja. 30 menit, baru kita kembali "
Aku masih menatap Rowoon berusaha meyakinkannya. Untungnya dia mengiyakan ucapanku. Akhirnya dia menyandarkan tubuhku pada batang pohon yang besar. Daunnya yang rindang menghalangi tubuh kami dari teriknya matahari. Seharusnya manusia lebih banyak menanam pohon, itu akan menguntungkan mereka sendiri. Seperti yang aku rasakan saat ini. Udara terasa lebih sejuk. Tidak perlu khawatir jika matahari berada tepat diatas kepala kita. Kenapa aku malah membahas tentang pohon? Ayolah Hyeyoon, jangan berpikir hal yang lain. Nikmati saja momen 30 menit yang kau punya.
Aku perlahan-lahan memijit kakiku. Rasanya sangat perih tapi jika aku membiarkannya begitu saja yang ada nanti malah semakin parah. Aku terkejut saat menyadari bahwa Rowoon melakukan hal yang sama. Memijitnya dengan lembut sampai aku merasa sedikit lebih baik daripada sebelumnya.
"Terimakasih"
"30 menitmu sudah berakhir. Sekarang kita pulang "
Sepertinya dia tidak tertarik untuk bertanya kenapa kakiku terlihat begitu mengerikan. Sebenarnya dia perduli atau tidak sih. Selalu saja membuatku bingung dengan sikapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
You're The Only One
Storie d'amoreSeorang pria dengan IQ yang tinggi di tambah wajah yang tampan membuatnya menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada. Bahkan semua kaum hawa menyukainya, termasuk Hyeyoon - gadis biasa dengan otak yang pas-pasan. Akankah pria yang menjadi cinta p...
