Rowoon POV
Seharian ini aku tidak ada kegiatan apapun. Yang ku lakukan hanya bermain ponsel, baca majalah, ataupun buku yang lainnya. Tidak ada kegiatan yang berarti yang aku lakukan selama libur. Dan satu lagi, aku harus segera memutuskan masuk Universitas mana dan juga jurusan apa yang akan aku ambil. Sungguh, semua ini membuatku pusing. Apalagi aku hanya punya waktu sekitar tiga hari lagi untuk memutuskannya.
Aku memutuskan untuk ke bawah, mencari sesuatu yang bisa aku makan. Saat melihat siapa yang ada di dapur membuatku rasanya ingin kembali ke dalam kamar saja. Tapi dia sudah terlanjur mengetahui keberadaanku. Mau tidak mau aku tetap melanjutkan tujuanku datang kesini.
"Kau perlu apa? Biarku bantu" ucapnya sambil tersenyum.
"Tidak perlu" balasku. Aku merasa tidak baik untukku jika terus-menerus berada di dekat gadis itu. Aku tidak ingin merasakan perasaan aneh itu.
Setelah mengambil minuman dingin dan juga makanan ringan, aku kembali berjalan menjauhinya. Perasaan aneh itu muncul lagi. Rasa bersalah sekaligus rasa yang tidak bisa aku deskripsikan.
"Kenapa kau marah padaku? " tanya nya dengan suara yang cukup pelan tapi tetap terdengar jelas di telingaku.
"Bukan urusanmu" Lagi-lagi aku hanya mengucapkan sesuatu yang akan menyakiti hatinya. Rasanya sangat sulit untukku mengontrol diriku sendiri saat berada di dekatnya.
"Aku minta maaf. Walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuatmu marah. Aku akan tetap meminta maaf padamu"
"Tidak perlu" ucapku. Lagipula ini memang bukan salahnya. Hanya saja aku yang tidak tahu harus melakukan apa pada apa yang aku rasakan saat ini.
**
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tadi matahari masih menampakkan wujudnya sedangkan sekarang bulan yang menggantikannya untuk menerangi langit gelap. Semua orang juga mulai berkumpul mengingat sekarang waktunya makan malam.
Seperti biasa, mereka saling melemparkan candaan. Membuat suasana lebih hidup. Suasana yang awalnya terasa asing bagiku, tapi sekarang membuatku merasa nyaman. Ibuku memang benar, semenjak kedatangan Hyeyoon dan ayahnya perlahan semua mulai berubah.
Aku terus menyantap makananku tanpa berniat sekalipun untuk ikut dalam pembicaraan mereka. Sesekali aku menatap kearah gadis yang duduk di hadapanku, melihat dia yang tersenyum manis. Ah, sepertinya aku memang mulai gila.
"Seokwoo-ya" Aku langsung mengalihkan pandanganku pada ayah.
"Kenapa Appa? " tanyaku. Aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Mungkin inilah waktunya untukku aku mendengar sesuatu yang tidak aku sukai.
"Kau sudah tahu mau masuk kuliah dimana? "
"Belum Appa" jawabku singkat. Tatapannya seketika berubah. Seakan yang aku ucapkan tadi itu salah.
"Kau ini bagaimana? Kau tau waktumu tidak banyak lagi. Kau harus segera menentukannya. Dan jangan lupa ambil jurusan tentang bisnis. Kau paham? " Ucapnya dengan nada yang cukup pelan tapi sangat mengintimidasi.
"Kenapa aku harus mengambil jurusan bisnis? "
"Tentu saja untuk menjadi penerus Appa"
"Tapi bagaimana jika aku tidak mau? " Seumur hidup aku paling tidak suka kehidupanku di atur oleh orang lain. Apakah tidak cukup yang aku lakukan selama ini? Menjadi juara di kelas, menang setiap perlombaan yang aku ikuti entah itu berhubungan dengan akademik ataupun non akademik. Apa itu semua tidak cukup untuk membuat mereka memberikan kebebasan padaku aku ingin hidup seperti apa?
"Apa yang kau katakan?!!" Wajahnya yang mulai memerah karena menahan amarah. Ini pertama kalinya aku melihat dia marah padaku. Biasanya dia akan selalu memujiku atas apa pencapaianku.
KAMU SEDANG MEMBACA
You're The Only One
RomantikSeorang pria dengan IQ yang tinggi di tambah wajah yang tampan membuatnya menjadi pusat perhatian dimanapun dia berada. Bahkan semua kaum hawa menyukainya, termasuk Hyeyoon - gadis biasa dengan otak yang pas-pasan. Akankah pria yang menjadi cinta p...
