Aku tidak tahu persis bagaimana manusia marah. Tapi kali ini, aku merasakan kalau Justin sedang marah padaku. Satu jam yang lalu, sebelum dia tidur di kursi dengan kepala yang disandarkan pada tempat tidur--begitu Niall menyebutnya--, dia selalu diam jika aku menulis sesuatu di neckbook.
Tanganku mengusap kening Justin yang basah. Niall bilang ini keringat, jangan disentuh karena lengket. Tapi aku tidak peduli, baru saja aku menyentuh keringat Justin. Memang lengket, tapi aku suka aromanya. Keringat bercampur dengan harum musk.
lalu tanganku bergerak ke rambutnya, membenarkan letaknya dengan rapi karena berantakan. Setelah selesai, tangan Justin malah mengacak-acak rambutnya tanpa sadar dalam posisi tidur seperti ini.
Aku tertawa, tanpa suara. Sudah jelas.
Keringat menetes ke pipinya dan aku mengusap dengan tanganku. Suhu memang panas, padahal suhu ruangan sudah disetel dingin oleh Niall sebelum dia pergi untuk membelikanku kue. Tadi dia bercerita tentang bunga, kue, dan film. Aku mengerti hanya sedikit. Yang paling aku perhatikan adalah bagian bunga dan kue.
"Bunga matahari selalu mengikuti arah matahari." Justin menyentuh mahkota bunga matahari itu, dia menatapku lekat sambil tersenyum. "Aku ingin kamu menjadi bunga matahari dan aku sebagai matahari untukmu."
Aku menulis. Tapi matahari untuk semua makhluk. Apa aku harus berbagi?
Lalu Justin mencubit hidungku, membuatku sedikit kesal.
"Banyak yang membutuhkan matahari. Tapi satu hal yang harus kamu tahu..." Justin menempelkan bibirnya pada keningku. "Matahari dan bunga matahari memiliki nama yang sama. Aku sering berpikir kalau mereka memang harus bersama."
Aku tersenyum mengingatnya. Detik-detik itu membuatku merasa aneh. Di dalam dadaku, sesuatu bergemuruh. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi aliran listrik statis sepertinya menjalar dalam tubuhku saat Justin menempelkan bibirnya di keningku.
"Al," ucap Justin serak.
Aku menunduk. Justin sudah bangun. Saat menyadari tanganku yang masih berada di pipinya, aku segera menariknya. Pipinya merah. Aku bingung. Merah antara; dia benar-benar marah atau dia malu. Aku tidak tahu banyak tentang manusia.
Kau berkeringat.
Kutunjukan deretan kalimat di buku yang tergantung di leherku. Justin membaca masih dengan wajah yang merah.
Aku tidak tahu apa kamu marah atau malu.
Justin menunjukkan giginya. Senyum aneh, lebih menjurus ke malu. Dia tersenyum aneh sambil mengusap tengkuknya. Beberapa detik setelah itu dia menepuk kepalaku.
"Waktunya minum obat, sudah jam satu siang."
Aku hanya mengangguk mengikuti kemauan Justin. Aku yang masih dalam posisi duduk di tempat tidur rumah sakit, memandangi Justin yang mengambilkan tiga butir pil dan segelas air putih.
Setelah Justin memberikan padaku dan aku meminumnya, Justin menepuk kepalaku lagi, lebih lembut dan terasa nyaman.
"Bunga mataharinya sudah mulai layu." Justin mengambil bunga matahari dalam vas bunga dan membawanya ke tempat tidur dimana aku berada.
Justin mengulum senyum sambil menggenggam jemariku. "Tidak usah khawatir, matahari di sini," sambung Justin
Perasaan ini dalam, Justin.
_____
Makasi ya yang sampai sekarang masih mau baca cerita ini, seneng banget :* :') ini emang abal banget, bahasanya masih ada baku-nggak baku. Tapi kalian yang mau baca ceritaku, you're all the best. Kalo mau rekomen/promo cerita ke aku boleh, dengan senang hati :)
Oiya, kalo minta boleh dong baca cerita aku: skin•ny love [Ashton Irwin]-nggak baku, ada lagi All That Matters [Justin Bieber]-baku, yg dulu pernah baca US(About me, about you and about them) pasti tau. Thanks a lot yaa ;)
-xo
KAMU SEDANG MEMBACA
BACKPACK
FanfictionJustin Bieber fan fiction Aliena mendongak menatapku. "You taught how to dream and how to love. Stay in my backpack. Forever." Aku mengucapkannya tanpa suara. Mungkin kalimat ini yang ada selain kalimat bahwa aku terluka olehnya. "My planet's outsi...
