"Mang, satu mangkuk lagi ya!" teriak Niko sambil mengangkat sebelah tangannya ke arah Mang Thole.
Mang Thole yang sedang sibuk melayani para pembeli kemudian menoleh ke belakang dan tersenyum lebar. "Siap, Bro!"
"Lo udah makan dua mangkuk loh, Ko, belum kenyang?" tanya Gian menatap Niko tidak percaya.
Niko menggeleng setelah meneguk es tehnya. "Belum. Gue jadi curiga, kayaknya Mang Thole ngurangin porsi baksonya deh," ucap Niko setengah berbisik di telinga kiri Gian. Bukankah kiri itu identik dengan setan? Ya, sepertinya itu adalah bisikan setan.
Dan Gian terlihat serius mendengarkan dengan seksama.
"Iya, gue juga mikir kayak gitu," ujar Agus dengan mulut penuh kerupuk.
"Ya, wajar aja sih, masih untung dia gak naikin harganya, kalian tau sendiri kan, sekarang bahan-bahan pokok itu harganya pada naik," jelas Bagas sambil mengunyah potongan baksonya.
"Iya, percaya aja sih sama yang sering nganterin bundanya ke pasar," gumam Niko.
"Buruan dong, Mang! Masih laper nih!" teriak Niko tak sabaran.
Sepulang sekolah lima serangkai itu pergi ke warung bakso Mang Thole. warung itu sudah seperti markas bagi mereka. Di sana mereka bisa memakan bakso sepuasnya meski dompet sedang dalam keadaan tidak berbobot, karena Mang Thole tidak pernah segan untuk mengizinkan mereka berhutang, atau jika moodnya sedang dalam keadaan baik karena banyak pembeli —tak jarang mereka dapat makan gratis.
Kalo kata Gian, Mang Thole memang paling best.
Pesanan ketiga Niko akhirnya datang, Mang Thole menyimpannya di meja dengan hati-hati.
"Terimakasih, Bro!" Niko bersorak gembira.
"Sama-sama, Bro," ujar Mang Thole dengan senyum ramahnya.
"Bro Elang, gak mau tambah lagi?" tanya Mang Thole pada Elang yang sejak tadi sibuk memakan baksonya, Mang Thole sangat tahu porsi makan cowok itu.
Elang tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Enggak deh, Mang."
Keempat sahabat Elang langsung berekspresi dengan berlebihan (mereka memundurkan kepala dengan mulut dan kedua mata terbuka lebar).
"Wuih, tumben, El!" seru Niko.
Elang tidak menanggapi, terlalu malas.
Mang Thole pun kembali ke gerobaknya, sibuk melayani pembeli lain.
"Oh iya, ada yang mau gue tanyain sama lo, El," ucap Agus sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
"Apa?" Elang kemudian menyedot teh botol dinginnya.
"Lo udah jadian belum sih sama Sienna?"
"Iya tuh, gue juga penasaran," sambung Gian.
"Yap, dengar-dengar dari gosip kelas terkini, semalem lo ikut makan malam di rumah Sienna?" tanya Niko.
"Ada makanan gratis, mana mungkin gue tolak."
"Gue tau prinsip mulia itu, tapi ya ... agak aneh aja gitu, dulu-dulu aja, tiap lo diajak makan sama mantan-mantan lo, lo biasanya selalu nolak," kata Niko.
"Iya, bukannya gak sedikit juga mereka yang mau bayarin?" tanya Bagas.
Elang mengangkat bahu. "Mungkin karena mood gue kebetulan lagi baik aja."
"Halah, bilang aja kalo lo juga suka kan, sama Sienna?" cibir Niko.
"Iya lo, pas di acara ulang tahunnya aja, lo senyum terus, keliatan senang-senang aja dianggap pacar Sienna sama orang tuanya, harusnya kan, kalo gak suka, lo bisa jelasin," cerca Gian.
KAMU SEDANG MEMBACA
NOT A COLD BOY✓
Teen FictionDia Elang Lesmana, manusia mageran yang hobinya rebahan. Elang benci air Elang benci keramaian Elang tidak suka banyak tertawa Hanya ada dua hal yang paling Elang sukai di dunia ini; makan dan tidur. Bagi Elang, dua hal itu adalah kombinasi sempurna...
