29. Sabar

338 74 46
                                        

Arumi datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya. Karena, hari ini ia diantar oleh kakaknya. Sejujurnya Arumi sangat malas untuk masuk sekolah. Ia belum siap bertemu Elang, ia belum siap melihat Elang terlihat dekat dengan Sienna. Selama ini yang Arumi tahu, Elang belum pernah berpacaran dengan teman sekelasnya, dan Arumi tidak yakin apakah hatinya akan baik-baik saja jika setiap saat harus melihat mereka begitu dekat?

Keadaan kelas masih sangat sepi, hanya ada Arumi seorang diri yang duduk di bangkunya sedang sibuk mengerjakan PR yang semalam tidak sempat ia kerjakan karena sibuk menangis. Sebenarnya tugas itu dikumpulkan Minggu depan. Jadi, Arumi masih punya banyak waktu meski tidak mengerjakannya hari ini, tapi karena sekarang ia punya waktu senggang akhirnya ia memilih mengerjakannya daripada harus melamun di kelas dan berujung kepikiran Elang.

Pulpen digenggaman Arumi berhenti bergerak saat kedua telinganya mendengar derap kaki, langkah itu terdengar sangat tidak asing. Arumi jelas mengenal siapa pemilik langkah kaki itu. Arumi sangat sensitif jika mendengar apapun yang berhubungan dengan Elang. Entah kenapa, hanya dengan mendengar langkah kakinya saja, jantungnya langsung berdentum hebat seperti sedang disko. Apa cinta memang bisa segila ini?

Tidak, tolong! Arumi belum siap melihat Elang.

Arumi menunduk semakin dalam saat pemilik sepasang kaki jenjang itu memasuki kelas. Di pagi yang masih hening ini, sungguh Arumi berharap, semoga Elang tidak mendengar suara detak jantungnya yang kian berisik di dalam sana.

Elang melemparkan tasnya ke mejanya, kemudian melangkah mendekati Arumi dengan membawa sebuah goodie bag.

"Hai," sapa Elang lalu duduk di samping Arumi.

Tangan Arumi bergetar, pulpen digenggamannya sudah jatuh ke atas buku sejak tadi.

Arumi belum berani memandang wajah Elang.

Elang menyerahkan goodie bag itu pada Arumi. "Baju kakak lo, udah dicuci kok, thanks ya," ucap Elang.

Perlahan, Arumi mengangkat wajahnya. "Sama-sama." ujarnya pelan nyaris tak terdengar.

"Lagi ngerjain apa?" tanya Elang sambil menengok buku tugas Arumi.

Arumi segera menutup bukunya.

"Lho, kok ditutup?"

Dia malu jika sampai Elang melihat buku tugasnya. Nilainya tidak sebaik nilai-nilai Elang.

"Gak ngerjain apa-apa kok," jawab Arumi sedikit kikuk.

"Mi," Elang memandang Arumi begitu lekat, Arumi sampai menahan napas selama beberapa detik saking gugupnya.

"Mata lo kenapa?" tanya Elang dengan alis bertaut.

Gawat! Apa Elang menyadari jika mata Arumi masih sembab?

Dengan cepat Arumi mengalihkan pandangannya ke luar jendela. "Gak papa kok, emang mata gue kayak gini."

Elang hanya mengangguk-angguk. "Mau ikut ke kantin gak?"

"Enggak." jawab Arumi tanpa mengimbangi dahulu.

"Udah sarapan?"

Arumi mengangguk pelan.

"Nanti pulang bareng ya, gue mau ajak lo mampir ke alun-alun. Kemarin gue nyobain batagor di sana, pedagang baru katanya, tapi enak banget. Lo harus nyobain," kata Elang terdengar bersemangat saat menceritakannya.

Makanan apa sih yang tidak enak bagi Elang? Apalagi jika harganya murah dan porsinya banyak, jelas akan tiga kali lipat terasa enaknya.

Sungguh Arumi tidak mengerti. Ia ingin berhenti berharap, tapi kenapa Elang seolah selalu memberi celah untuk setiap harapannya? Untuk apa coba Elang masih mengajak Arumi pulang bareng? Bukankah sudah jelas jika kini ia sudah memiliki kekasih baru? Apa kekasihnya tidak akan cemburu jika melihat ia jalan dengan cewek lain? Oh iya Arumi lupa, Sienna dan dirinya kan jelas tidak sebanding. Jadi, tentu saja Sienna tidak akan cemburu jika Elang dekat dengannya, ia pasti tidak akan pernah merasa tersaingi.

NOT A COLD BOY✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang