Arumi sudah mandi dan mengenakan pakaian yang lebih baik, ia juga tak lupa mengenakan kacamatanya. Sementara Elang, cowok itu masih mengenakan seragam sekolahnya, dan ia sama sekali tidak keberatan menunggu Arumi berdandan.
"Kita mau ke mana?" tanya Arumi sambil mengunci pintu rumah.
"Cari makan." jawab Elang lalu bangkit dari kursi yang sejak tadi dia duduki.
"Iya, di mana?"
"Di tempat yang murah. Soalnya, duit gue cuma ada tiga puluh ribu." Nah kan, kejujuran cowok ini memang luar biasa.
Arumi membeku menatap Elang. Harusnya, jika Elang tak punya uang, dia tak perlu kan mengajak Arumi makan, pake ditraktir segala?
"Ya udah, bentar ya gue ambil uang dulu, takut kurang."
Dengan cepat Elang menarik pergelangan tangan Arumi. Membuat dada Arumi bergemuruh hebat saat itu juga.
"Gak perlu. Gue kan udah niat mau traktir lo, pasti cukup kok." ucap cowok itu, dan akhirnya Arumi mengurungkan niatnya untuk mengambil uang.
...
"Gue miskin banget ya, ngajak cewek jalan, tapi gak pernah bawa kendaraan." Elang cukup sadar jika dirinya memang miskin.
Arumi menoleh menatap Elang, 'Ngajak cewek jalan?' Kata-kata itu terus berputar di otaknya.
"Gue lebih suka jalan kaki," ujar Arumi.
"Tapi kalo kejauhan juga bakal capek, kan?"
"Enggak kok, kalo jalannya sama lo."
Astaga! Arumi keceplosan!! Duh, bagaimana ini?!
Elang terkekeh mendengar ucapan itu. "Lo bisa gombal juga?" tanyanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Arumi menunduk menyembunyikan pipi merah nya.
Elang membungkuk, mendongak menatap wajah Arumi. "Kenapa nunduk? Malu? Biasa aja kali."
"Gimana bisa biasa aja, kalo perlakuan lo kelewat luar biasa. Mana Elang yang selalu keliatan cuek kalo di sekolah?" geram Arumi dalam hati.
"Enggak kok, siapa yang malu!" kilah Arumi lalu menatap lurus ke depan dan berjalan lebih cepat.
Elang hanya mengangguk-angguk. Mereka lanjut berjalan sampai menemukan makanan murah, yaitu bakso Mang Thole, yang harganya sepuluh ribu satu mangkuk, dan es tehnya dua ribu satu gelas. Jadi, uang Elang masih tersisa enam ribu, dan itu cukup untuk membayar angkot sampai rumahnya, malah masih akan tersisa tiga ribu. Lumayan, sisanya nanti akan ia masukkan ke celengan kodok nya.
...
"Koala," panggil Arion pada Elang yang sedang menempel begitu erat di kasurnya seperti gaya Spider-Man yang menempel di dinding.
Koala? Apa lagi coba? Apa belum cukup panggilan Kucing, Jalu, Bungsu, dan lainnya?
Elang memilih tak acuh. Ia masih marah pada Arion karena kejadian tempo hari itu.
"Lo liat kemeja gue yang motifnya horizontal, gak? Gue lagi nyariin nih, besok mau dipake."
Mampus! Wajah Elang langsung mengencang. Kemeja itu sudah ia robek-robek setelah pulang dari pesta ulang tahun Sienna. Ia saat itu sangat kesal karena merasa malu menjadi pusat perhatian, jadi ia menganggap bahwa baju itu pembawa sial dan menyebalkan seperti pemiliknya. Ya sudah, ia robek saja, lalu dibuang tanpa perasaan bersalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
NOT A COLD BOY✓
Teen FictionDia Elang Lesmana, manusia mageran yang hobinya rebahan. Elang benci air Elang benci keramaian Elang tidak suka banyak tertawa Hanya ada dua hal yang paling Elang sukai di dunia ini; makan dan tidur. Bagi Elang, dua hal itu adalah kombinasi sempurna...
